Kehidupan Seorang Transpuan yang Mengajar Anak-Anak di Kampung Randusari
Di balik sebuah rumah berlantai dua di sudut kampung Randusari, Semarang Selatan, terdengar suara bacaan huruf hijaiyah yang pelan dan tenang. Suara itu berasal dari empat anak kecil yang duduk bersila di ruang tamu. Mereka terdiri dari tiga perempuan dan satu laki-laki yang fokus memandang buku Iqro.
Ruang tamu tersebut memiliki suasana yang unik. Di pojok kanan, terdapat alat rias yang ditempatkan di atas kursi. Di sisi lain, ada almari kaca bening setinggi 2 meter yang berisi baju pengantin. Di hadapan anak-anak, seorang transgender perempuan (transpuan), Silvy Mutiari (46) sedang memandu mereka belajar mengaji secara bergantian.
Sesekali Silvy mengoreksi bacaan anak-anak yang salah membaca huruf dan harakat. Dengan pakaian jilbab dan baju lengan panjang hitam yang dipadukan dengan rok motif kotak-kotak corak warna-warni, ia sesekali membetulkan posisi duduknya. Silvy telah menjadi guru mengaji bagi sejumlah anak di kampungnya selama tujuh tahun terakhir.
Murid-muridnya adalah anak dari tetangganya sendiri. “Orang tua mereka meminta saya mengajarkan mengaji, ada tujuh anak,” ujar Silvy kepada Tribun, Jumat (20/2/2026). Menurutnya, orang tua mungkin memilih dirinya sebagai guru mengaji karena latar belakangnya yang sudah pandai membaca Alquran sejak kecil. Bahkan, ibunya dulu juga merupakan guru ngaji di kampung.
“Ibu sejak tahun 2005 mengajarkan anak-anak di sini ngaji, beliau sudah meninggal dunia, lalu diteruskan kakak perempuan saya dan saya sendiri baru mulai tahun 2019,” katanya. Silvy mengaku ingin meneruskan semangat ibunya dan juga melatih dirinya agar tidak lupa cara membaca Al-Quran.
“Kalau tidak dilatih, nanti bisa lupa,” ujarnya. Baginya, mengajar mengaji juga menjadi benteng untuk dirinya sendiri. “Jadi, ketika ada godaan berbuat negatif, ada pengingat bahwa saya ini guru ngaji masak berbuat begitu.”
Silvy mengajar tanpa pamrih. Ia tidak memungut bayaran sepeserpun dari anak-anak. Namun, orangtua sering memberikan uang meskipun ia menolak. “Katanya untuk membeli rokok atau jajan,” katanya sambil tersenyum tipis. Ia enggan membuka kelas mengaji secara profesional dan hanya mengajar atas dasar kemauannya sendiri.
“Ya senyaman anak-anak saja, jam pelajaran mengaji juga fleksibel,” bebernya. Contohnya saat awal Ramadan, waktu mengaji dialihkan ke pagi hari karena anak-anak libur sekolah. Kesepakatan waktu belajar mengaji disepakati bersama dengan murid-muridnya.
Selain mengajar anak-anak, Silvy juga dikenal sebagai guru mengaji bagi ibu-ibu warga setempat. Ia menyebut, cara mengajar anak-anak dan ibu-ibu berbeda. “Kalau ibu-ibu ada diselingi guyonan ya, kalau anak-anak tentu membuat mereka nyaman saja,” ujarnya.
Dalam beberapa kesempatan, Silvy juga diminta oleh tetangganya untuk memimpin acara tahlilan, yasinan orang meninggal baik peringatan 7 hari maupun 40 hari. “Kalau memimpin doa tersebut berdasarkan request warga, baru saya datang gitu memimpin doa,” paparnya.
Kota Toleransi Semarang
Silvy mengungkap, kepercayaan tetangganya untuk dirinya mengajar mengaji tidak lepas dari kondisi Kota Semarang yang toleransinya cukup baik. Sebagai transpuan, kata Silvy, cenderung lebih kondusif daripada daerah-daerah lain.
“Harapannya mungkin lebih ditingkatkan toleransinya,” terangnya. Ia juga berpesan, masyarakat jangan langsung memberikan stigma kepada kelompok transpuan. Sebab, ketika sudah memberikan stigma negatif, maka perbuatan baik pun akan terlihat jelek.
“Harapannya masyarakat mungkin hilangkan dulu pandangan negatif terhadap siapapun komunitasnya, khususnya waria atau transpuan, supaya bisa melihat diri kami yang bisa berkegiatan positif di tengah masyarakat,” terangnya.







