Rencana Ekspor Listrik Indonesia ke Singapura Masih Menunggu Arahan
Manajemen PLN Batam saat ini masih menunggu arahan lebih lanjut terkait rencana ekspor listrik dari wilayah Batam, Bintan, atau Karimun ke Singapura. Yoga Perdana Sulastama, Senior Manager Unit Business Infrastructure Technology Information PLN Batam, menyatakan bahwa hingga saat ini belum ada instruksi resmi yang diterima.
“Sampai saat ini kami menunggu arahan dari Danantara, belum ada arahan dari wacana ekspor tersebut,” ujar Yoga dalam pernyataannya.
Sementara itu, PLN Batam hanya menyuplai listrik untuk wilayah Bintan. “Kalau ke luar negeri kita belum ada ekspor listrik sampai saat ini,” tambahnya.
Meski demikian, Yoga menegaskan bahwa sebagai anak perusahaan BUMN, pihaknya siap mendukung rencana dan wacana presiden Republik Indonesia tersebut.
Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto memerintahkan BPI Danantara untuk menjajaki kerja sama ekspor listrik dengan Singapura. Pembangkit listrik akan dibangun di Batam, Bintan, dan Karimun (BBK) di Provinsi Kepulauan Riau.
“Indonesia telah menunjuk BPI Danantara untuk implementasi kerja sama perdagangan listrik lintas batas, serta berbagai kegiatan di bidang perdagangan, energi, ekonomi digital, ekosistem digital, dan keamanan siber. Kita telah melakukan diskusi dan mencapai hasil-hasil yang cukup konkret,” ujar Prabowo dalam joint statement bersama Perdana Menteri (PM) Singapura Lawrence Wong di Istana, Jakarta.
Proyek Jangka Panjang dengan Manfaat Sama-sama Menguntungkan
CEO Danantara Rosan Roeslani mengatakan kesepakatan ini merupakan proyek jangka panjang. Ia menilai bahwa Indonesia dan Singapura akan sama-sama diuntungkan dari ekspor listrik ini.
“Ya, dengan Keppel, Sembcorp, MoU kita untuk membangun untuk ekspor listrik ya. Gitu, dengan Danantara dan ini adalah proyek jangka panjang dan akan dipastikan ini juga memberikan dampak yang win-win lah terhadap kedua negara,” ujar Rosan.
Menurut Rosan, rencana ekspor listrik ini sudah dirancang sejak lama. “Tadi Bapak Presiden mengamanatkan untuk Danantara bersama-sama nanti dengan dunia usaha, dengan private sector untuk membangun… Ini kan sudah lama sebenarnya, sudah 4 tahun lah ya lebih. Untuk supaya kerja sama ini bisa terlaksana,” papar dia.
Lokasi Pembangkit Listrik yang Strategis
Mengapa pembangkit listrik dibangun di Batam dan Karimun? Karena keduanya merupakan lokasi terdekat dengan Singapura. Jarak antara Batam dan Singapura sekitar 13 hingga 20 km melalui jalur laut, sedangkan jarak Karimun dengan Singapura berkisar 40 hingga 60 km. Akses Batam dan Karimun ke Singapura juga mudah karena bisa ditempuh menggunakan kapal ferry dengan estimasi perjalanan sekitar satu jam.
Pembangkit tersebut akan dibangun bertahap di Batam, Bintan, dan Karimun dengan total kapasitas 3,4 gigawatt (GW). Kapasitas pembangunan tahap awal yakni antara 600 MB sampai 1,2 GW.
“Nanti salah satu lokasinya kita lihat dari situ, akan pengembangan juga untuk BBK. Batam, Bintan, Karimun. Totalnya selama berapa tahun 3,4 gigawatt,” ungkap Rosan.
Produksi listrik tersebut akan dibeli oleh Keppel maupun Sembcorp. Untuk dapat menyalurkannya, Indonesia juga akan membangun jaringan transmisi listrik menuju Singapura.
“Ya, kita (Danantara) sebagai perusahaan dari Indonesianya, kalau yang Keppel dan Sembcorp sebagai off-taker-nya karena mereka, kan, juga BUMN,” jelas Rosan.
Dampak Positif bagi Kedua Negara
Rosan mengatakan, listrik yang diekspor RI ke Singapura berasal dari kapasitas pembangkit baru, sehingga terpisah dari pasokan untuk kebutuhan domestik.
“Proyek ini menjadi katalis bagi industrialisasi hijau Indonesia. Interkoneksi dengan Singapura menjadi salah satu wujud dari transformasi strategis yang lebih besar,” ucapnya.
Selain itu, proyek tersebut diharapkan memperkuat konektivitas energi sekaligus mendukung upaya dekarbonisasi kedua negara, serta mendorong investasi baru dan penciptaan lapangan kerja di sektor energi bersih Indonesia.
“Melalui pembangunan interkoneksi ini, Indonesia bersama Singapura bercita-cita menjadi motor utama ASEAN Power Grid. Kami ingin membuktikan bahwa dekarbonisasi kawasan dan pertumbuhan ekonomi bernilai tambah tinggi dapat berjalan secara bersamaan,” kata Rosan.
Perkembangan Proyek yang Positif
Sementara itu, Menteri Tan See Leng mengatakan sejumlah proyek ekspor listrik dari Indonesia telah menunjukkan perkembangan yang positif. Menurut dia, dengan dukungan politik dari kedua pemerintah dan koordinasi yang erat, proyek-proyek tersebut dapat menyelesaikan berbagai hambatan yang tersisa dan mulai beroperasi sebelum dekade ini berakhir.
“Hal ini akan meningkatkan ketahanan energi dan keberlanjutan bagi masyarakat kedua negara, menghasilkan manfaat ekonomi, serta membawa kita lebih dekat menuju terwujudnya ASEAN Power Grid,” ujar Tan.







