Kades Tekat Wahyudi Jadi Inspirasi dengan Budi Daya Lele dan Puyuh
Di Desa Jedong, Kecamatan Wagir, Kabupaten Malang, Jawa Timur, terdapat sosok kades yang tak hanya memimpin desa, tetapi juga menjadi contoh dalam pengembangan usaha pertanian dan peternakan. Kades Tekat Wahyudi memiliki inovasi yang luar biasa, yaitu budi daya lele dan burung puyuh yang berhasil meningkatkan ketahanan pangan dan ekonomi desa.
Budi Daya Lele yang Menghasilkan Besar
Budiar, Sekda Kabupaten Malang, sangat kagum dengan budi daya lele yang dilakukan oleh Kades Tekat. Ia mengunjungi rumah Tekat di kaki Gunung Kawi untuk melihat langsung proses budi daya tersebut. Meski hujan turun, Budiar tetap datang tanpa ditemani kepala dinas. Ia merasa bertanggung jawab untuk mendukung para kades yang kreatif seperti Tekat.
Di lokasi budi daya, Budiar melihat kolam-kolam kecil berukuran 4×7 meter yang mampu menghasilkan antara 6,5 ton hingga 7 ton lele setiap dua bulan. Dengan harga saat ini sekitar Rp 20 ribu per kilogram, setiap kolam bisa menghasilkan pendapatan antara Rp 20 juta hingga Rp 25 juta. Tekat memiliki total 12 kolam, namun hanya 8 yang aktif karena sisanya digunakan sebagai indukan.
Budiar sangat terkesan dengan cara Tekat memilih bibit lele. Ia memilih bibit berukuran 5-6 cm, lalu memberikan makan pelet tiga kali sehari agar tidak terjadi kanibalisme antar ikan. Dengan metode ini, lele bisa tumbuh cepat dalam waktu dua bulan dan siap dipanen.
Pengelolaan yang Sederhana dan Efisien
Menurut Tekat, budi daya lele tidak memerlukan banyak tenaga. Setelah diberi makan, ia bisa meninggalkannya untuk kesibukan lainnya. Hal ini membuat budi daya ini bisa dilakukan sebagai sambilan. Selain itu, hasil dari budi daya ini cukup besar, dengan keuntungan bersih sekitar Rp 12 juta per bulan.
Tekat juga memiliki budi daya burung puyuh yang dikelola oleh Badan Usaha Milik Desa (Bumdes) Jedong. Lokasinya bersebelahan dengan kolam lele. Dari 10.000 ekor burung puyuh, setiap hari bisa menghasilkan 1 kuintal telur. Harga telur puyuh saat ini mencapai Rp 30 ribu per kilogram, sehingga Bumdes Jedong mampu mendapatkan penghasilan sebesar Rp 3 juta per hari.
Inovasi yang Menjadi Contoh
Budiar mengapresiasi inovasi yang dilakukan oleh Tekat. Ia menyebut bahwa Kades Tekat telah menjadi contoh bagi kades-kades lain untuk menjalankan usaha yang berdampak positif pada ekonomi dan ketahanan pangan desa. Budiar juga menyampaikan bahwa Bupati HM Sanusi MM sedang menggalakkan program kades sebagai entrepreneur, dan Tekat adalah salah satu pelaksanaannya.
Selain budi daya lele dan puyuh, Tekat juga memiliki lahan pertanian lainnya, seperti ayam kampung, jeruk, dan anggur. Ini menunjukkan bahwa ia tidak hanya fokus pada satu bidang usaha, tetapi menciptakan sistem yang saling mendukung.
Kesimpulan
Kegiatan budi daya lele dan puyuh yang dilakukan oleh Kades Tekat Wahyudi menjadi bukti bahwa inovasi dan kreativitas dapat membawa dampak besar bagi masyarakat desa. Dengan pengelolaan yang efisien dan hasil yang menguntungkan, Tekat telah membuktikan bahwa desa bisa berkembang secara mandiri dan berkelanjutan.






