Kebiasaan Olahraga untuk Membentuk Karakter Generasi Muda
Hasto Kristiyanto, Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan, mengajak generasi muda untuk membudayakan olahraga dan pola hidup sehat. Menurutnya, olahraga tidak hanya berfungsi sebagai alat menjaga kebugaran tubuh, tetapi juga menjadi sarana dalam membentuk karakter yang kuat. Dalam acara lari pagi bersama anak-anak muda di Lapangan Thor, Surabaya, Hasto menekankan pentingnya disiplin, ketekunan, serta sportivitas dalam kehidupan sehari-hari.
Olahraga sebagai Bentuk Pembentukan Karakter
Menurut Hasto, olahraga memiliki makna lebih luas dari sekadar aktivitas fisik. Ia menyatakan bahwa masyarakat yang sehat menjadi fondasi utama dalam membangun sumber daya manusia yang berkualitas. “Jika anak-anak muda kita terbiasa hidup sehat dan mencintai olahraga, mereka akan belajar disiplin dan sportif,” ujarnya.
Dalam kegiatan tersebut, Hasto berlari bersama Ketua DPC PDI Perjuangan Surabaya Armuji, Bupati Trenggalek Mochamad Nur Arifin, anggota DPR RI Novita Hardini, serta komunitas pelari Sub Banteng Culture Surabaya. Suasana kegiatan berlangsung santai dan penuh keakraban antara Hasto dengan warga setempat.
“Menjaga kesehatan itu dimulai dari kebiasaan-kebiasaan sederhana. Bergerak, berolahraga, berlari. Tidak harus selalu kompetitif. Yang terpenting dilakukan dengan gembira, disiplin dan konsisten,” katanya.
Lapangan Thor: Ruang Olahraga yang Bersejarah
Lapangan Thor dipilih sebagai lokasi lari pagi karena memiliki sejarah panjang dalam perkembangan olahraga di Kota Surabaya. Nama Thor berasal dari bahasa Belanda, Tot Heil Onze Ribben atau Tot Heil Onzer Ribbenkast. Awalnya, nama ini merupakan nama klub sepak bola pada masa kolonial yang kemudian melekat pada lapangan.
Lapangan Thor dipindahkan ke lokasi sekarang pada 1937 setelah lapangan sebelumnya di kawasan Karang Menjangan digunakan untuk pembangunan kompleks rumah sakit. Setelah direnovasi, lintasan atletiknya diresmikan pada 2017 dengan delapan jalur dan panjang lintasan 400 meter.
Kini, Lapangan Thor menjadi salah satu ruang olahraga publik yang dimanfaatkan oleh warga, atlet, hingga komunitas pelari. Hasto menyampaikan harapan agar keberadaan ruang olahraga seperti THOR terus dirawat dan semakin mudah diakses masyarakat.
Fasilitas Olahraga Perlu Semakin Dekat dengan Warga
Salah satu pelari Sub Banteng Culture, Eko Wahyono, mengatakan bahwa berkembangnya budaya lari di Surabaya perlu didukung dengan semakin banyak fasilitas olahraga publik yang mudah dijangkau masyarakat. Menurutnya, selain Thor, sejumlah wilayah Surabaya mulai memiliki jogging track dan ruang publik di sepanjang sisi sungai yang dimanfaatkan warga untuk berjalan kaki maupun berlari.
Fasilitas tersebut, menurut dia, perlu terus diperbanyak dan diperluas ke berbagai wilayah. “Budaya olahraga akan tumbuh lebih cepat kalau masyarakat mudah menemukan tempat yang aman dan nyaman di dekat tempat tinggalnya,” kata Cak Ek, sapaan akrab Eko.
Ia berharap Pemkot Surabaya semakin aktif memanfaatkan ruang publik, kawasan sepanjang sungai, dan lapangan di permukiman sebagai fasilitas olahraga yang aman dan nyaman.
Rangkaian Kegiatan Hasto di Surabaya
Lari pagi di Lapangan Thor menjadi salah satu rangkaian kegiatan Hasto selama berada di Surabaya. Sehari sebelumnya, Minggu (23/8), Hasto mengikuti konsolidasi internal PDI Perjuangan Jawa Timur di Vasa Hotel Surabaya. Kegiatan tersebut dipimpin Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri dan diikuti jajaran partai dari Jawa Timur.
Sementara pada Senin malam, Hasto dijadwalkan menghadiri partai final sekaligus penutupan Soekarno Cup 2026 di Stadion Gelora Bung Tomo (GBT), Surabaya. Partai final mempertemukan Banteng Jawa Barat melawan Banteng Bali.
Soekarno Cup 2026 melibatkan sekitar 400 talenta muda dari 16 provinsi. Turnamen tersebut digelar sejak 10 Agustus di sejumlah venue di Jawa Timur, dengan Lapangan THOR menjadi salah satu lokasi pertandingan fase penyisihan.
Bagi Hasto, berbagai kegiatan tersebut memiliki benang merah yang sama, yakni pembangunan manusia, terutama generasi muda, melalui kesehatan, disiplin, kebersamaan, dan sportivitas.
“Politik pada akhirnya juga harus berbicara tentang kualitas manusia Indonesia. Generasi mudanya harus sehat, kuat, punya daya juang, disiplin dan menjunjung sportivitas. Olahraga adalah salah satu jalan yang sangat baik untuk membangun karakter itu,” pungkas Hasto.






