Malang menjadi salah satu kota yang menunjukkan keberagaman dan toleransi antarumat beragama. Pada perayaan Harlah 1 Abad Nahdlatul Ulama (NU) yang digelar di Stadion Gajayana, Kota Malang, beberapa gereja di sekitar stadion memberikan dukungan nyata dengan membuka area tempat ibadah sebagai tempat singgah para jemaah, menyediakan makanan dan minuman, hingga menyesuaikan jadwal ibadah mingguan.
Kepedulian Gereja di Sekitar Stadion Gajayana
Wali Kota Malang Wahyu Hidayat mengapresiasi langkah yang dilakukan oleh gereja-gereja di sekitar Stadion Gajayana. Menurutnya, kepedulian ini mencerminkan semangat toleransi dan persaudaraan lintas iman yang kuat.
Beberapa gereja seperti Gereja Ijen dan Gereja HKBP Malang turut berkontribusi dalam memperlancar acara Harlah 1 Abad NU. Mereka tidak hanya membuka ruangan untuk istirahat, tetapi juga menyediakan makanan dan minuman bagi para jemaah. Selain itu, beberapa gereja juga meniadakan jadwal misa atau kebaktian agar area sekitar gereja bisa digunakan sebagai tempat transit dan istirahat.
Bentuk Dukungan Lintas Iman
Romo Kepala Paroki Paroki Katedral Santa Perawan Maria dari Gunung Karmel, R.D. Petrus Prihatin, menjelaskan bahwa pihak gereja telah meniadakan beberapa Misa Kudus pada Sabtu sore dan Minggu pagi. Hal ini dilakukan agar lokasi gereja dan sekitarnya dapat digunakan sebagai tempat transit para jemaah.
Gereja juga menyediakan minum bagi para jemaah sebagai bentuk dukungan dan toleransi. Romo Petrus menegaskan bahwa langkah tersebut merupakan wujud penghormatan kepada saudara-saudara umat Islam yang merayakan 1 abad NU. Gerbang gereja pun dibuka lebar dan disediakan area beratap untuk tempat istirahat. Umat paroki menerima kebijakan ini dengan baik karena masih tersedia gereja-gereja lain untuk melaksanakan ibadah.
Partisipasi Gereja HKBP Malang
Selain Gereja Ijen, Gereja HKBP Malang di Jalan Bromo juga ikut berpartisipasi dalam menyukseskan peringatan Harlah NU. Pendeta HKBP Malang, Pdt. Melva Sitompul, menjelaskan bahwa gerejanya menyediakan snack berupa roti dan air mineral sekitar 250 paket untuk tamu NU yang datang ke Malang.
Gereja HKBP Malang juga terbuka untuk tempat istirahat dan menyediakan area parkir bagi para peserta. Selain itu, jadwal ibadah Minggu yang biasanya 5 kali kebaktian dikurangi menjadi 2 kali kebaktian pada Minggu sore. Langkah ini diambil sebagai bentuk penghormatan dan partisipasi dalam perayaan 100 tahun NU.
Jemaat gereja mengapresiasi keputusan ini dan memahami bahwa toleransi adalah nilai penting dalam kehidupan bermasyarakat. Mereka berharap perayaan ini berlangsung dengan sukacita dan kerukunan serta toleransi antarumat beragama semakin nyata di Kota Malang.
Keberagaman Sebagai Bentuk Toleransi
Perayaan Harlah 1 Abad NU di Kota Malang menjadi bukti bahwa keberagaman tidak hanya diterima, tetapi juga dirayakan. Banyak gereja yang berada di sekitar Stadion Gajayana turut berperan dalam mendukung acara ini, baik secara fisik maupun spiritual.
Dari penyediaan tempat istirahat hingga penyesuaian jadwal ibadah, semua tindakan ini menunjukkan komitmen tinggi untuk menjaga harmoni dan saling menghargai. Wali Kota Malang, Wahyu Hidayat, menilai bahwa keberadaan gereja-gereja yang berdekatan dengan Stadion Gajayana sangat strategis untuk mengantisipasi keterbatasan kapasitas stadion dan penutupan sejumlah ruas jalan.
Kota Malang kembali menegaskan dirinya sebagai ruang bersama yang damai, inklusif, dan mampu merawat harmoni di tengah keberagaman. Dukungan lintas iman tersebut merupakan bentuk toleransi yang patut dibanggakan. Lebih lanjut, Wahyu berharap Kota Malang bisa menjadi percontohan sikap toleransi antarumat beragama.
Harlah 1 Abad NU berjalan baik, dengan semua pihak saling mendukung dan mengapresiasi. Semangat persaudaraan dan toleransi antarumat beragama terasa sangat kental dalam perayaan ini.







