Kegelisahan di Dunia Pendidikan Kota Kediri Akibat Penerapan TKA 2026
Penerapan Tes Kemampuan Akademik (TKA) pada tahun 2026 mulai menimbulkan kegelisahan di kalangan dunia pendidikan di Kota Kediri. Mulai dari sekolah unggulan di pusat kota hingga madrasah dan sekolah berbasis pesantren di wilayah pinggiran, muncul satu pertanyaan besar: apakah TKA akan menjadi jembatan peningkatan mutu pendidikan, atau justru memunculkan tekanan psikologis baru bagi siswa?
Kota Kediri selama ini dikenal sebagai salah satu barometer pendidikan di wilayah Jawa Timur bagian barat. Dengan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) yang relatif tinggi, ekspektasi terhadap capaian akademik siswa di kota ini sudah berada pada level yang cukup menekan. Kehadiran TKA 2026, yang dirancang sebagai instrumen validasi nilai rapor sekaligus jalur prestasi, dikhawatirkan akan mempertebal kultur kompetisi yang mengabaikan kesiapan mental peserta didik.
Bayang-Bayang Sekolah Favorit dan Tekanan Sosial
Di Kota Kediri, budaya “sekolah favorit” masih kuat mengakar dalam psikologi masyarakat. Meski sistem zonasi telah diterapkan, prestise sekolah masih sangat ditentukan oleh nilai akademik dan capaian prestasi. Jika TKA 2026 dijadikan instrumen utama jalur prestasi, kekhawatiran pun menguat bahwa siswa akan kembali terjebak pada budaya hafalan dan drill soal. Pola ini, menurut Agnes Dyah Trihutaminingsih, S.Pd., M.H, praktisi pendidikan di Kota Kediri, berisiko menguras energi mental anak dan menjauhkan proses belajar dari esensi pembentukan karakter.
“Di balik dinding-dinding kelas, para guru mulai resah,” ungkapnya. Di satu sisi, guru dituntut mengejar target capaian akademik demi menjaga reputasi sekolah. Di sisi lain, mereka menyaksikan siswa yang mulai menunjukkan gejala kelelahan belajar atau burnout, akibat kurikulum padat dan jam belajar yang panjang.
Ketimpangan Akses Pendidikan di Kota Kediri
Meski secara geografis relatif kecil, Kota Kediri masih menyimpan ketimpangan akses fasilitas dan informasi pendidikan. Sekolah-sekolah di pusat kota dengan sarana teknologi memadai dinilai lebih siap menghadapi TKA berbasis komputer (Computer Based Test). Namun, kondisi berbeda dialami siswa di sekolah pinggiran maupun lembaga pendidikan berbasis pesantren, yang harus membagi fokus antara kurikulum nasional dan keagamaan.
Standarisasi nasional melalui TKA dikhawatirkan memunculkan luka psikologis berupa rasa rendah diri bagi siswa yang tidak memiliki akses bimbingan belajar tambahan. Menjamurnya lembaga bimbingan belajar menjelang ujian di Kota Kediri, menurut Agnes, menjadi indikator rendahnya kepercayaan terhadap proses belajar reguler. Jika tidak diantisipasi, TKA berpotensi memperparah ketergantungan ini, sekaligus menambah beban finansial orang tua dan tekanan mental anak.
“Jangan sampai TKA hanya menjadi ajang pembuktian bagi mereka yang mampu membeli pendidikan tambahan, sementara siswa dengan keterbatasan harus tergilas oleh angka-angka standar nasional,” tegasnya.
Urgensi Pendampingan Psikologis
Agnes yang juga menjabat Wakil Kepala Sekolah Bidang Humas SMPK Mardi Wiyata Kediri menekankan pentingnya kesiapan mental siswa menjelang penerapan TKA 2026. Psikolog pendidikan di Kota Kediri, kata dia, mulai memberikan peringatan dini terkait meningkatnya risiko test anxiety atau kecemasan menghadapi ujian. Kecemasan ini tidak sekadar rasa gugup, tetapi dapat berkembang menjadi gangguan tidur, penurunan motivasi belajar, hingga depresi pada remaja.
Tanpa sistem pendukung kesehatan mental di sekolah, TKA berpotensi mempertaruhkan kualitas generasi masa depan Kota Kediri. Ia mendorong Dinas Pendidikan Kota Kediri agar tidak hanya menjadi pelaksana kebijakan pusat, tetapi juga aktif melakukan mitigasi. Di antaranya melalui penguatan peran guru Bimbingan Konseling (BK), penyediaan ruang aman bagi siswa, serta sosialisasi humanis kepada orang tua agar nilai TKA tidak dijadikan satu-satunya tolok ukur harga diri anak.
Prestasi Tanpa Mengorbankan Kebahagiaan
TKA 2026 adalah keniscayaan kebijakan nasional. Namun, Kota Kediri yang dikenal dengan nilai harmoni dan kemandiriannya dituntut mampu menyikapi kebijakan ini secara bijak. Pendidikan tidak semata mencetak siswa yang unggul secara akademik, tetapi juga manusia yang tangguh secara mental dan emosional. Ambisi standar nasional memang penting, namun kesehatan mental anak-anak Kota Kediri adalah investasi jangka panjang yang jauh lebih berharga.
Tahun 2026 sudah di depan mata. “Pertanyaannya, siapkah mental anak-anak Kediri, atau kita hanya akan menjadi penonton dari panggung kecemasan massal?” pungkas Agnes.







