Kampanye AS dan Israel Terhadap Iran Memunculkan Kekhawatiran Global
Pada 28 Februari 2026, Amerika Serikat (AS) dan Israel memulai kampanye militer terhadap Iran. Sejak saat itu, situasi di kawasan Timur Tengah semakin memanas, dengan Iran merespons melalui serangan rudal dan pesawat tak berawak terhadap Israel serta kepentingan AS di wilayah Teluk. Perang ini telah menimbulkan korban jiwa di berbagai negara, termasuk Iran, Lebanon, dan Israel.
Presiden AS, Donald Trump, memberikan pernyataan yang menunjukkan niat keras untuk menyerang Iran. Ia mengisyaratkan bahwa AS akan melakukan serangan “dengan sangat keras” dan memperluas target-target baru. Pernyataan ini disampaikan setelah Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, menyatakan bahwa negaranya tidak akan pernah menyerah kepada Israel dan AS. Trump menulis di platform media sosial Truth-nya, “Hari ini Iran akan dihantam sangat keras!” Ia juga menyebutkan bahwa area dan kelompok orang yang sebelumnya tidak dipertimbangkan sebagai sasaran kini sedang dipertimbangkan secara serius untuk dihancurkan sepenuhnya.
Trump juga mengkritik janji-janji Iran yang diklaim hanya dibuat karena tekanan dari AS dan Israel. Ia menyatakan bahwa Iran bukan lagi “Pengganggu Timur Tengah,” tetapi “PIHAK YANG KALAH DI TIMUR TENGAH” dan akan tetap demikian selama beberapa dekade hingga mereka menyerah atau runtuh sepenuhnya.
Upaya Menghancurkan Iran Diperkuat oleh Kepala Keamanan Iran
Kepala keamanan Iran, Ali Larijani, mengungkapkan bahwa AS dan Israel berupaya memecah belah Republik Islam tersebut. Menurutnya, masalah utama yang dihadapi AS adalah ketidakpahaman mereka terhadap konteks Asia Barat, terutama Iran. Larijani menyatakan bahwa persepsi AS adalah bahwa situasi akan seperti Venezuela — mereka akan menyerang, mengambil kendali, dan semuanya akan berakhir. Namun, ia menilai bahwa AS kini justru terjebak dalam konflik yang tidak bisa mereka kendalikan.
Pada 28 Februari 2026, AS dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran yang menewaskan pemimpin tertingginya, Ayatollah Ali Khamenei, dan memicu perang di kawasan. Iran menanggapi dengan serangan pesawat tak berawak dan rudal yang menargetkan Israel serta kepentingan AS di seluruh wilayah tersebut.
Korban Jiwa dan Ketegangan di Seluruh Kawasan
Menurut laporan dari para pejabat di negara-negara terkait, pertempuran antara AS, Israel, dan Iran telah menewaskan 1.230 orang di Iran, lebih dari 290 orang di Lebanon, dan 11 orang di Israel. Enam tentara AS juga tewas dalam konflik ini. Di Lebanon, Israel melakukan serangan komando untuk mencari petunjuk tentang seorang navigator yang hilang 40 tahun lalu, yang menyebabkan puluhan orang tewas dan terluka pada hari Sabtu.
Serangan rudal dari Iran membuat warga Israel kembali berlindung di tempat perlindungan bom. Belum ada laporan langsung mengenai korban jiwa dari pihak Iran.
Respons Sekutu AS di Teluk
Sementara itu, sekutu AS di Teluk mengeluh bahwa pemerintahan Trump tidak memberi mereka waktu yang cukup untuk mempersiapkan perang. Sirene berbunyi pada Sabtu pagi di Bahrain ketika Iran menargetkan kerajaan pulau tersebut. Arab Saudi mengklaim telah menghancurkan drone yang menuju ke ladang minyak Shaybah yang luas dan menembak jatuh rudal balistik yang diluncurkan ke arah Pangkalan Udara Pangeran Sultan, yang menampung pasukan AS.
Di Dubai, beberapa ledakan terdengar pada Sabtu pagi dan pemerintah mengatakan telah mengaktifkan pertahanan udara. Penumpang yang menunggu penerbangan di Bandara Internasional Dubai diarahkan ke terowongan kereta api. Maskapai penerbangan jarak jauh Emirates sempat mengatakan semua penerbangan ke dan dari Dubai ditangguhkan.







