Pelaksanaan TKA Jadi Fokus Evaluasi Kemampuan Akademik Siswa
Pelaksanaan hari pertama Tes Kemampuan Akademik (TKA) jenjang SMP secara nasional mencatat tingkat partisipasi sekitar 98% dari total peserta yang ditargetkan. Sekitar 2% siswa lainnya belum mengikuti asesmen pada hari pertama karena berbagai alasan, mulai dari kesiapan psikologis hingga pertimbangan orangtua.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti menyampaikan bahwa secara umum pelaksanaan TKA berjalan lancar di berbagai daerah. Ia menekankan bahwa kesiapan teknis di sekolah telah sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan pemerintah.
“Kesiapan kelas dan penataan teknis sudah sesuai dengan ketentuan. Kita berharap pelaksanaan TKA ini dapat berjalan dengan lancar,” ujar Mu’ti saat meninjau pelaksanaan TKA di SMPN 2 Curug, Kabupaten Tangerang, Banten, Senin 6 April 2026.
Menurut Menteri, TKA tidak menjadi penentu kelulusan siswa. Keputusan kelulusan tetap berada di masing-masing satuan pendidikan, sedangkan TKA berfungsi sebagai alat ukur kemampuan akademik siswa. Asesmen tersebut difokuskan pada pengukuran literasi dan numerasi, serta dilengkapi dengan survei karakter dan lingkungan belajar. Data yang dihasilkan diharapkan memberi gambaran lebih utuh mengenai capaian belajar siswa.
Mu’ti menambahkan, hasil TKA akan digunakan sebagai salah satu referensi dalam proses penerimaan murid baru. Jalur yang dimaksud mencakup domisili, prestasi, maupun afirmasi. “Melalui TKA, kita ingin memperoleh profil kemampuan murid yang lebih komprehensif, baik dari sisi akademik maupun karakter,” katanya.
Untuk menjaga kredibilitas pelaksanaan, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah telah menyiapkan sistem pencegahan kecurangan sejak awal. Proteksi teknis diterapkan agar proses asesmen berlangsung transparan dan akuntabel.
Di tingkat sekolah, tingkat partisipasi peserta bervariasi, bahkan ada yang mencapai penuh. Di SMP Negeri 2 Curug, Kabupaten Tangerang, seluruh siswa yang terdaftar mengikuti TKA pada hari pertama.
Kepala SMP Negeri 2 Curug Purwaningsih mengatakan, pelaksanaan hari pertama berjalan tanpa kendala berarti. Salah satu siswa, Heiba Anindya, mengaku sempat merasa gugup saat mengikuti TKA karena merupakan pengalaman baru bagi-nya. Ia menyebut suasana ujian membuatnya penasaran dengan tingkat kesulitan soal.
Ia menambahkan telah mempersiapkan diri sejak beberapa bulan terakhir, dengan meningkatkan intensitas belajar menjelang pelaksanaan. Dukungan orangtua juga menjadi faktor yang membuatnya lebih siap mengikuti asesmen.
Pemerintah juga menyiapkan skema fleksibel bagi daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) serta sekolah terdampak bencana.
Pelaksanaan TKA di Kota Cimahi
Di Kota Cimahi, siswa kelas IX SMP mulai menjalani TKA tahun ajaran 2025-2026. Wakil Wali Kota Cimahi Adhitia Yudhistira didampingi Kepala Dinas Pendidikan Kota Cimahi melakukan pemantauan langsung pelaksanaan TKA di sejumlah SMP.
Salah satu siswa kelas IX-E SMPN 1 Cimahi, Mahaya Bei, mengatakan, dia memilih mengikuti TKA untuk mendaftar ke SMA yang ingin dituju melalui seleksi jalur prestasi. “Sebelumnya sudah pernah ikut try out, jadi caranya sudah mengerti dan mengerjakannya juga lebih minim kendala,” ujarnya.
Wakil Wali Kota Adhitia menjelaskan, TKA memiliki peran penting dalam menentukan kelanjutan pendidikan siswa, khususnya bagi mereka yang akan menempuh jalur prestasi saat mendaftar ke jenjang SMA.
“Jadi tidak wajib untuk seluruh siswa, hanya yang memilih jalur prestasi raport saja,” ujarnya.
TKA di Bandung Raya
Sementara di Bandung Raya, TKA akan dilaksanakan dalam waktu yang berbeda, tetapi berlangsung mulai Senin sampai Kamis 4-16 April 2026. Salah seorang siswa SMP, Haikal yang akan melaksanakan TKA pada Rabu 8 April 2026 mengaku telah melakukan bimbingan les privat dan mengerjakan latihan mandiri. Dia mencari soal-soal latihan secara daring.
Pengamat kebijakan pendidikan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Prof Cecep Darmawan mengungkapkan, pelaksanaan evaluasi di pendidikan tidak bisa terelakkan. Biar bagaimana pun, baik sekolah, siswa, dan orang tua harus tahu pembelajaran sampai mana.
Menurut dia, pemerintah harus tegas. Kalau ingin mencari tahu kemampuan akademik para siswa, TKA wajib dilaksanakan dengan agenda yang jelas. Alhasil, para siswa bisa menyiapkan diri. “Tes yang fair harus diberi tahu juga apa yang ditesnya. Misalnya bidang studi materinya apa, apakah ada aspek literasi atau numerik,” tutur Cecep. Dia menyebutkan, idealnya, ada tes inteligensi untuk semua anak sebelum sekolah formal.







