Teror yang Mengancam Kehidupan Mahasiswa dan Keluarga
Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Gadjah Mada (UGM), Tiyo Ardianto, mengalami serangkaian teror yang semakin mengerikan. Awalnya, teror ini hanya menimpa dirinya sendiri, namun kini telah meluas hingga menjangkau 30 pengurus BEM UGM serta keluarganya. Teror ini dimulai dari kritik-kritik pedas terhadap program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan pernyataan yang dianggap tidak sopan terhadap pemerintahan Prabowo-Gibran.
Awal Teror yang Membuat Khawatir
Menurut Tiyo, teror bermula pada 9 Februari 2026, setelah BEM UGM melontarkan kritik keras terhadap pemerintahan Prabowo-Gibran. Termasuk penggunaan diksi “Presiden Bodoh” dan sorotan terhadap alokasi anggaran MBG. Dari sana, serangan terus berlanjut dengan pesan-pesan ancaman dari nomor-nomor tak dikenal, yang menggunakan kode internasional +44. Isi pesan tersebut menyebut bahwa mereka adalah agen asing dan mengancam penculikan.
Pembunuhan Karakter Melalui Media Sosial
Serangan awal berupa pembunuhan karakter melalui rekayasa digital dan penyebaran hoaks secara masif di media sosial. Tiyo difitnah dengan tuduhan asusila hingga korupsi dana kemahasiswaan. Bahkan, ada konten yang dikirimkan ke dirinya dalam bentuk gambar “Awas LGBT di UGM” dengan foto dirinya. Ia juga menyebut fotonya direkayasa menggunakan teknologi kecerdasan buatan (AI).
Tuduhan Korupsi dan Manipulasi Dana
Selain isu moral, Tiyo dituduh memanipulasi penerima Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah. Narasi bahwa ia sebagai Ketua BEM UGM melakukan manipulasi keuangan, terutama dalam konteks KIP, muncul di media. Ada yang menyebut bahwa Ketua BEM UGM punya relasi kuasa yang memungkinkan dari rekomendasi dia, itu ada orang-orang yang kemudian mendapatkan KIP. Dan dari orang-orang yang mendapatkan KIP itu, mereka punya kewajiban nyetor ke Tiyo. Namun, ia membantah tudingan tersebut.
Eskalasi Teror yang Menjadi Ancaman Nyata
Eskalasi teror, menurut Tiyo, tidak berhenti di dunia digital. Ia mengaku mendapat informasi tentang rencana operasi pembunuhan terhadap dirinya. Ada platform gerakan yang dihubungi oleh akun tidak dikenal yang mengaku sebagai dosen Unpad. Orang yang mengaku dosen Unpad ini menceritakan bahwa dia mendapatkan bocoran dari satu lembaga negara—Badan Intelijen Negara (BIN). Orang tersebut menyampaikan bahwa BIN sudah menyiapkan operasi pembunuhan untuk Ketua BEM UGM.
Intimidasi terhadap Keluarga
Bagian paling berat, kata Tiyo, adalah ketika ibunya menjadi sasaran. Ia menggambarkan ibunya sebagai perempuan desa yang tak terbiasa dengan dinamika politik nasional. Pesan-pesan yang masuk ke ibu Tiyo menyebut bahwa anaknya menilap uang. Isi pesan tersebut sangat menyudutkan dan membuat ibu Tiyo merasa takut.
Pengurus BEM UGM Juga Terkena Teror
Tak hanya keluarga, sekitar 20–30 pengurus BEM UGM juga menerima teror serupa. Pesan-pesan yang sama seperti yang diterima oleh ibu Tiyo, yaitu bahwa Ketua BEM UGM melakukan penggelapan uang. Hal ini menunjukkan bahwa teror ini tidak hanya menargetkan individu tertentu, tetapi juga mengancam seluruh struktur organisasi.
Kritik terhadap Program MBG
Dalam forum tersebut, Tiyo menegaskan kembali kritik BEM UGM terhadap program MBG. Ia menilai bahwa solusi yang diberikan oleh pemerintah terhadap masalah kebodohan dan akses pendidikan yang minim justru mereduksi menjadi MBG yang sebenarnya tidak bergizi dan juga tidak gratis. Ia juga menyoroti kontras anggaran antara dana MBG yang besar dengan anggaran pendidikan yang digelontorkan.
Tanggapan terhadap Respons Pemerintah
Tiyo juga menyinggung respons pemerintah, khususnya Menteri HAM Natalius Pigai. Ia menegaskan bahwa publik membutuhkan jaminan bahwa negara hadir dalam menghadapi teror. Ia menutup dengan sikap tegas bahwa BEM UGM akan menggagalkan teror ini dengan cara tidak gentar, tidak takut, dan tidak berhenti melihat persoalan publik ini sebagai persoalan yang harus selalu dikawal.







