Perjalanan Waktu dan Nilai Kehidupan
Waktu adalah hal yang paling berharga dalam kehidupan manusia. Setiap detik yang berlalu tidak akan pernah kembali, dan setiap kesempatan yang terlewat tidak akan datang dua kali. Sebagaimana diungkapkan oleh KH Husin Naparin Lc MA, Ketua MUI Provinsi Kalsel, waktu berjalan seperti biasanya, tetapi seringkali kita merasa bahwa waktu berlalu begitu cepat tanpa disadari.
Orang Banjar memiliki ungkapan yang menggambarkan perasaan ini: “Nah kada karasaan ramadhan pulang” (tak terasa akan ramadhan lagi). Hal ini menunjukkan betapa cepatnya waktu berlalu, bahkan hingga kita menyadari bahwa bulan Ramadan telah tiba. Tidak ada istilah “tiba-tiba”, karena waktu terus berjalan, hanya saja kita sering kali lalai dan tidak sadar akan perjalanan waktu tersebut.
Waktu sebagai Nikmat yang Besar
Sejatinya, waktu merupakan salah satu nikmat besar dari Allah SWT. Namun, banyak orang yang tidak menyadarinya karena kesibukan dunia yang membuat mereka lalai. Bahkan, ketika kulit mulai mengendur, gigi mulai tanggal, atau rambut mulai beruban, baru mereka menyadari bahwa waktu telah berlalu begitu cepat.
Kesibukan dunia sering kali membuat manusia abai terhadap nilai waktu. Banyak orang menyepelekan waktu dengan mengatakan “nanti-nanti”, padahal penantian ini bisa menjadi kerugian. Kesempatan yang lewat tidak akan datang dua kali, dan jika datang, nilainya mungkin berbeda.
Pentingnya Menghargai Waktu
Allah SWT bersumpah dengan nama-nama waktu dalam surah al-‘Ashr, yang berbunyi: “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal sholih dan saling menasihati supaya menaati kebenaran dan saling menasihati supaya menetapi kesabaran”.
Imam asy-Syafi’i berkata, “Seandainya setiap manusia merenungkan surat ini, niscaya hal itu akan mencukupi untuk mereka”. Dengan demikian, pentingnya memanfaatkan waktu secara optimal menjadi suatu kewajiban bagi setiap individu.
Keberadaan Waktu dan Umur
Umur merupakan bagian dari rahasia Allah. Setiap manusia memiliki jatah umur masing-masing. Dalam hadis, Nabi Muhammad SAW bersabda: “Siapa yang panjang usianya dan baik amalnya”. Dari sini, kita diajarkan untuk meminta kepada Allah diberikan umur yang panjang dan amal yang baik.
Rasulullah juga mewanti-wanti akan potensi usia yang bisa melalaikan manusia. Ia bersabda: “Dua nikmat yang banyak dilupakan oleh kebanyakan manusia yaitu sehat dan waktu luang”. Hadis ini menunjukkan bahwa waktu luang adalah nikmat yang besar, namun banyak orang yang tidak memanfaatkannya dengan baik.
Bentuk Kerugian atas Waktu Luang
Ada beberapa bentuk kerugian atas penggunaan waktu luang:
- Pertama, seseorang tidak mengisi waktu luangnya dengan bentuk yang paling sempurna. Misalnya, menyibukkan diri dengan amalan yang kurang utama, padahal ia bisa mengisinya dengan amalan yang lebih utama.
- Kedua, dia tidak mengisi waktu luangnya dengan amalan-amalan yang utama, yang memiliki manfaat bagi agama atau dunianya. Namun kesibukannya adalah dengan perkara-perkara mubah yang tidak berpahala.
- Ketiga, dia mengisinya dengan perkara yang haram, ini adalah orang yang paling tertipu dan rugi. Karena ia menyia-nyiakan kesempatan memanfaatkan waktu dengan perkara yang bermanfaat. Tidak hanya itu, bahkan ia menyibukkan waktunya dengan perkara yang akan menggiringnya kepada azab Allah di dunia dan di akhirat.
Pengertian tentang Kebaikan dan Umur
Menurut Imam Ibnu Rajab al-Hanbali, bertambahnya umur dan kebaikan menjadi barometer keimanan seseorang. Karena orang-orang yang beriman akan terus bertambah kebaikannya seiring dengan bertambahnya umur.
Dalam kitab Lathaiful Ma’arif dijelaskan, “Maka orang beriman yang menunaikan semua ketentuan-ketentuan iman, tidak akan bertambah dari panjangnya umur selain (juga bertambah) kebaikan. Dan, siapa saja yang bisa seperti ini, maka hidup (di dunia) lebih baik baginya daripada mati”.
Penyesalan di Akhirat
Banyak orang di akhirat nanti yang merasa rugi dan menyesal karena waktu di dunia tidak digunakan sebaik mungkin untuk beramal. Mereka yang di neraka itu berteriak: “Ya Rabb, kalau aku diberi kesempatan kembali lagi ke dunia, hanya akan aku gunakan untuk beramal kebaikan dan ketaatan kepadamu”. Namun, itu hanyalah harapan yang tidak akan pernah terlaksana, ungkapan penyesalan yang hanya akan menambah kesakitan.
Ingatlah dengan Hadis Nabi SAW
Ingatkah Anda dengan salah satu hadis Nabi SAW yang sangat terkenal yang berbunyi: “Gunakanlah lima perkara sebelum lima perkara (yaitu) waktu mudamu sebelum datang waktu tuamu, waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu, masa kayamu sebelum datang masa kefakiranmu, masa luangmu sebelum datang masa sibukmu, hidupmu sebelum datang matimu”.
Hadis ini mengingatkan kita akan betapa berharganya waktu! Jangan biarkan semua terlewati dengan sia-sia karena akan dipertanggungjawabkan nanti di akhirat.







