Peran China dalam Meredakan Krisis Timur Tengah
Di tengah meningkatnya ketegangan pasca serangan Amerika Serikat dan Israel ke Iran, Menteri Luar Negeri China Wang Yi memberikan pernyataan penting. Dalam konferensi pers yang diadakan di Beijing pada Minggu, 8 Maret 2026, ia menekankan bahwa gencatan senjata adalah prioritas utama yang tidak bisa ditawar. Selain itu, China juga mengumumkan lima prinsip dasar untuk meredakan krisis di kawasan Timur Tengah.
“Posisi prinsip kami terhadap masalah Iran dapat diringkas dalam satu kalimat yaitu gencatan senjata dan penghentian perang,” tegas Wang Yi dalam konferensi pers soal kebijakan diplomasi dan hubungan luar negeri China.
Wang Yi menggunakan pepatah kuno China untuk mengingatkan bahwa senjata adalah alat pembawa malapetaka yang tidak boleh digunakan tanpa pertimbangan matang. Menurutnya, perang yang kini berkobar di Timur Tengah seharusnya tidak perlu terjadi.
Konflik memanas setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan udara ke Iran pada 28 Februari 2026. Serangan tersebut dilaporkan menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei serta sedikitnya 926 warga sipil. Sumber lain menyebutkan korban tewas telah mencapai lebih dari 1.230 orang di Iran.
Presiden AS Donald Trump menyatakan operasi militer itu bertujuan mencegah pengembangan senjata nuklir Iran dan menempatkan kepemimpinan yang dianggap rasional di Teheran. Iran pun membalas dengan serangan drone dan rudal yang menargetkan aset militer AS di Israel dan kawasan Teluk.
Lima Prinsip Dasar China untuk Timur Tengah
Dalam pernyataannya, Wang Yi memaparkan lima prinsip yang harus dipegang teguh komunitas internasional dalam menangani masalah Iran dan dinamika Timur Tengah:
- Pertama, menghormati kedaulatan negara. Wang Yi menegaskan bahwa kedaulatan, keamanan, dan keutuhan wilayah Iran serta negara-negara Teluk adalah landasan tatanan internasional yang tidak boleh dilanggar.
- Kedua, tidak boleh menyalahgunakan kekuatan. “Kepalan tangan yang keras tidak berarti kebenaran juga keras. Dunia tidak boleh kembali pada hukum rimba. Rakyat tidak boleh menjadi korban tak berdosa dari perang,” ujarnya.
- Ketiga, tidak mencampuri urusan dalam negeri. Wang Yi menekankan bahwa rakyat Timur Tengah adalah pemilik sesungguhnya kawasan tersebut. “Merancang revolusi dan melakukan pergantian rezim tidak akan mendapat dukungan rakyat,” ungkapnya.
- Keempat, menyelesaikan masalah melalui jalur politik. China mendorong semua pihak kembali ke meja perundingan dan menyelesaikan perbedaan melalui dialog yang setara.
- Kelima, negara-negara besar harus memainkan peran konstruktif. Negara besar semestinya menjunjung keadilan dan menempuh jalan yang benar, bukan sebaliknya.
Tragedi Kemanusiaan di Tengah Konflik
Investigasi digital Al Jazeera mengungkap temuan mengerikan terkait serangan terhadap SD Perempuan Shajareh Tayyebeh di Minab, Provinsi Hormozgan. Sekolah dasar yang diisi anak-anak usia 7-12 tahun itu hancur lebur dihantam rudal, menewaskan sedikitnya 165 orang. Sebelumnya, juru bicara kementerian pendidikan Iran menyebut 53 siswi tewas dalam insiden tersebut.
Analisis citra satelit menunjukkan bahwa sejak 2016, sekolah tersebut telah dipisahkan secara total dengan tembok tinggi dari kompleks militer di sekitarnya, serta memiliki pintu masuk sipil yang terpisah. Tim investigasi menyimpulkan serangan itu diduga kuat merupakan tindakan disengaja.
Euro-Mediterranean Human Rights Monitor menegaskan bahwa status sekolah sebagai fasilitas sipil tetap terlindungi secara hukum internasional, terlepas dari lokasinya yang berdekatan dengan instalasi militer.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian secara terbuka meminta maaf kepada negara-negara tetangga yang terkena imbas serangan balasan Iran. “Saya harus meminta maaf atas nama saya sendiri dan atas nama Iran kepada negara-negara tetangga yang diserang oleh Iran,” katanya dalam pidato yang disiarkan televisi pemerintah.
Pezeshkian menyatakan Dewan Kepemimpinan Sementara Iran telah sepakat untuk tidak lagi menyerang negara-negara tetangga, kecuali jika serangan terhadap Iran berasal dari wilayah mereka.
Sementara itu, Trump mengancam akan melancarkan serangan lebih keras dan menyatakan tidak tertarik bernegosiasi dengan kepemimpinan Iran saat ini. “Mereka ingin berdamai. Kami tidak berupaya untuk berdamai,” ucapnya.
Sebagai sahabat yang tulus dan mitra strategis negara-negara Timur Tengah, China menyatakan kesiapannya bersama negara-negara kawasan mempraktikkan Inisiatif Keamanan Global. “Mengembalikan ketertiban kepada Timur Tengah, mengembalikan ketenangan kepada rakyat, dan mengembalikan perdamaian kepada dunia,” tutup Wang Yi.
Pernyataan ini menjadi sinyal kuat dari Beijing untuk mengambil peran lebih aktif sebagai mediator dalam mendinginkan suhu geopolitik global yang kian membara.






