Persaingan Layanan Internet Nirkabel di Kelas Bawah dan Menengah
Di tengah persaingan ketat di sektor layanan internet, khususnya dalam layanan fixed wireless access (FWA), muncul inovasi baru yang menarik perhatian. PT Indosat Tbk. (ISAT) meluncurkan layanan HiFi Air dengan paket berisi 125 GB kuota internet yang dibanderol seharga Rp100.000. Ini menjadi langkah strategis untuk memperkuat posisi perusahaan di pasar internet tetap nirkabel.
Sementara itu, PT Solusi Sinergi Digital Tbk. (WIFI) juga ikut memperluas cakupan layanan mereka, terutama dalam bentuk Internet Rakyat. Layanan ini menawarkan kuota tak terbatas dengan kecepatan hingga 100 Mbps. Di sisi lain, Telkomsel melalui layanan Orbit juga hadir sebagai pesaing utama dengan paket 125 GB yang dibanderol lebih mahal, yaitu Rp179.000.
Direktur Eksekutif ICT Institute Heru Sutadi mengatakan bahwa dinamika ini bisa menjadi babak baru dalam kompetisi harga di segmen FWA non-fiber. Ia menilai bahwa kehadiran HiFi Air dengan harga Rp100.000 secara langsung menurunkan ekspektasi harga pasar di kelas internet rumah nirkabel.
“Jika dibandingkan dengan Internet Rakyat yang menawarkan unlimited di harga sama, serta Telkomsel melalui Orbit yang lebih premium, pasar akan makin sensitif terhadap value for money,” ujarnya.
Heru menegaskan bahwa persaingan ini bukan hanya tentang tarif, tetapi juga positioning di antara pemain di kelas menengah dan bawah. Di satu sisi, ada penawaran harga murah dan kuota besar atau unlimited, sedangkan di sisi lain, operator yang mengedepankan kualitas jaringan dan stabilitas layanan dengan tarif relatif lebih tinggi.
“Ini bukan hanya soal siapa yang paling murah, tapi bagaimana operator memposisikan diri antara harga, kualitas, dan pengalaman pengguna,” kata dia.
Keberlanjutan Model Tarif FWA Rp100.000 Per Bulan
Terkait keberlanjutan model tarif FWA Rp100.000 per bulan, Heru menilai skema tersebut masih bisa bertahan secara bisnis dengan sejumlah catatan. Ia menjelaskan bahwa FWA berbasis 4G/5G tetap berbagi spektrum dengan layanan seluler, sehingga lonjakan trafik berpotensi meningkatkan biaya per gigabyte yang harus ditanggung operator.
Paket kuota besar atau bahkan unlimited, menurutnya, hampir pasti membawa konsekuensi risiko kongesti jaringan. “Model Rp100.000/bulan bisa berkelanjutan jika operator mengelola kapasitas jaringan secara disiplin dan konsumen mendapat layanan berkualitas, bukan cuma gimmick,” tutur Heru.
Dia memprediksi penerapan fair usage policy (FUP) atau manajemen kecepatan menjadi keniscayaan untuk menjaga kualitas layanan di tengah tekanan tarif murah.
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Keberlanjutan Bisnis FWA Murah
Keberlanjutan bisnis FWA murah sangat bergantung pada beberapa faktor seperti kepadatan pelanggan di suatu wilayah, tingkat utilisasi base transceiver station (BTS), serta karakteristik area layanan. Skema tarif agresif dinilai lebih realistis dijalankan di area yang kapasitas jaringannya masih longgar, dibandingkan kawasan padat trafik di kota-kota besar yang jaringan selulernya sudah mendekati batas optimal.
“Tanpa manajemen kapasitas yang hati-hati, paket murah justru bisa merusak pengalaman pelanggan dan pada akhirnya merugikan operator sendiri,” ujarnya.

Potensi Pasar Internet Rumah Non-Fiber di Indonesia
Di sisi lain, Heru menilai potensi pasar internet rumah non-fiber di Indonesia masih terbuka lebar. Penetrasi jaringan fiber optik hingga kini belum merata di luar kota-kota besar, sementara permintaan konektivitas rumah tangga terus tumbuh untuk kebutuhan kerja jarak jauh, pembelajaran daring, hingga aktivitas usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
“FWA menjadi solusi cepat karena tanpa investasi penarikan kabel yang mahal dan lama,” kata Heru.
Menurut Heru, FWA berpotensi menjadi solusi transisi bahkan semi-struktural untuk mengurangi kesenjangan digital di berbagai daerah selama harga tetap terjangkau dan kualitas layanan stabil. Namun, dalam perspektif jangka panjang, ia tetap melihat jaringan fiber sebagai infrastruktur unggulan dari sisi kapasitas dan stabilitas.
“FWA bisa menjembatani kebutuhan akses internet rumah di wilayah yang belum terlayani fiber, tetapi ke depan penguatan jaringan kabel tetap penting untuk menopang pertumbuhan trafik data yang terus meningkat,” ujarnya.







