Close Menu
Info Malang Raya
    Berita *Terbaru*

    Minat Golf Meningkat, Persiapan Pemula yang Perlu Diketahui

    25 Agustus 2026

    Jelajah Rasa Nusantara di Surabaya, Chef Vindex Sajikan Laksa Tangerang dan Konro

    25 Agustus 2026

    4 Tanda Pasar Saham AS Mulai Kena Tekanan Baru

    25 Agustus 2026
    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube Threads
    Kamis, 27 Agustus 2026
    Trending
    • Minat Golf Meningkat, Persiapan Pemula yang Perlu Diketahui
    • Jelajah Rasa Nusantara di Surabaya, Chef Vindex Sajikan Laksa Tangerang dan Konro
    • 4 Tanda Pasar Saham AS Mulai Kena Tekanan Baru
    • Eksepsi Paulus Dinilai Tidak Sesuai KUHAP, JPU Beri Tanggapan Pekan Depan
    • InJourney hadirkan promo liburan lengkap di ASTINDO Travel Fair 2026
    • Robot Pelayan Unissula Berbicara Saat Ada Gangguan Di Depannya
    • Apakah Sunroof Tingkatkan Suhu Mobil? Ini Jawabannya
    • JAKI & Forum Kota Berkah 2026, Jakarta Hadirkan Platform Digital untuk 200 Kota
    • Dinamika Calon Wagub Sulbar: NasDem Usung Fatmawati, Demokrat Dukung Syamsul
    • Kemarau, Warga Baturaja Mandi dan Cuci di Sungai, Dinkes Imbau Jangan Buang Air Besar di Sana
    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads
    Info Malang RayaInfo Malang Raya
    Login
    • Malang Raya
      • Kota Malang
      • Kabupaten Malang
      • Kota Batu
    • Daerah
    • Nasional
      • Ekonomi
      • Hukum
      • Politik
      • Undang-Undang
    • Internasional
    • Pendidikan
    • Olahraga
    • Hiburan
      • Otomotif
      • Kesehatan
      • Kuliner
      • Teknologi
      • Tips
      • Wisata
    • Kajian Islam
    • Login
    Info Malang Raya
    • Malang Raya
    • Daerah
    • Nasional
    • Internasional
    • Pendidikan
    • Olahraga
    • Hiburan
    • Kajian Islam
    • Login
    Home»Internasional»3 Analis: Iran Diserang, Siapa yang Sebenarnya Terpojok?

    3 Analis: Iran Diserang, Siapa yang Sebenarnya Terpojok?

    adm_imradm_imr7 April 202612 Views
    Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
    Share
    Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link

    Perang di Timur Tengah dan Kekacauan Geopolitik Global

    Di tengah gejolak perang dan propaganda yang semakin memuncak di kawasan Timur Tengah, dunia kembali menghadapi pertanyaan klasik yang tak pernah usang: siapa yang sebenarnya memegang kendali, dan siapa yang hanya bereaksi terhadap arus yang lebih besar dari dirinya sendiri. Tiga tulisan dari tiga perspektif berbeda, dari Ankara, London, hingga Moskow, membentangkan lanskap geopolitik yang sama, tetapi dengan sudut pandang yang nyaris saling berseberangan.

    Namun justru di sanalah letak menariknya, ketika narasi yang tampak bertabrakan itu diam-diam bertemu pada satu simpul yang sama: krisis kepercayaan global dan ketidakpastian arah kekuasaan.

    Perspektif Aydin Unal: Ancaman yang Mengendap dan Terus Berulang

    Aydin Unal, dalam tulisannya di media Turki, memotret dunia dari sudut pandang ancaman yang mengendap dan terus berulang. Ia tidak melihat konflik Iran sebagai peristiwa tunggal, melainkan bagian dari pola panjang intervensi terhadap negara-negara yang mencoba berdiri mandiri. “Turki selalu menjadi target selanjutnya. Mereka menyerang Iran sekali, tetapi mereka menyerang Turki berulang kali,” tulisnya.

    Narasi Unal bertumpu pada memori historis dan trauma geopolitik. Ia menegaskan bahwa intervensi tidak selalu datang dalam bentuk invasi militer terbuka, melainkan seringkali melalui operasi internal, kudeta, atau infiltrasi politik. Dalam logika ini, perang bukan sekadar pertempuran senjata, tetapi juga perebutan kendali atas arah sebuah negara.



    Warga Iran berkumpul di Lapangan Enqelab untuk menunjukkan dukungan kepada Pemimpin Tertinggi yang baru dilantik, Ayatollah Mojtaba Khamenei, di Teheran, Iran, 9 Maret 2026. Almarhum Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei tewas dalam operasi militer gabungan Israel dan AS di seluruh Iran pada dini hari tanggal 28 Februari 2026. – (EPA/ABEDIN TAHERKENAREH)

    Perspektif Jeremy Bowen: Kelemahan Internal Amerika Serikat

    Berbeda dengan Unal yang melihat ancaman dari luar, Jeremy Bowen dari BBC justru mengarahkan sorotan pada kelemahan internal dalam pengambilan keputusan Amerika Serikat. Ia menilai perang terhadap Iran lebih banyak digerakkan oleh intuisi politik ketimbang kalkulasi strategis yang matang. “Mengandalkan intuisi presiden daripada rencana yang matang membuat perang lebih sulit untuk dimajukan,” tulis Bowen.

    Dalam analisisnya, Bowen menegaskan bahwa kegagalan memahami karakter Iran menjadi titik krusial. Ia mengingatkan bahwa rezim Iran bukan entitas rapuh yang mudah runtuh oleh serangan militer. “Bagi mereka, sekadar bertahan hidup sudah merupakan kemenangan,” ujarnya.

    Di sini, Bowen membawa pembaca pada satu realitas pahit geopolitik modern: superioritas militer tidak selalu berbanding lurus dengan kemenangan politik. Bahkan, dalam perang asimetris, pihak yang lebih lemah justru sering memiliki daya tahan yang lebih panjang.



    Penampakan kerusakan setelah serangan rudal semalaman dilaporkan menghantam daerah perumahan dekat kota Shoham, Israel tengah, 14 Maret 2026. – (EPA-EFE/ABIR SULTAN)

    Perspektif Kirill Strelnikov: Struktur dan Ideologi

    Sementara itu, Kirill Strelnikov dari Rusia menawarkan perspektif yang lebih struktural, bahkan cenderung ideologis. Ia tidak hanya melihat perang sebagai konflik militer, tetapi sebagai katalis runtuhnya fondasi kepercayaan global. “Sumber daya terpenting dalam ekonomi global bukanlah dolar atau minyak, melainkan kepercayaan,” tulisnya, merujuk pada pemikiran Francis Fukuyama.

    Strelnikov melangkah lebih jauh dengan menyimpulkan bahwa perang Iran telah mempercepat erosi kepercayaan terhadap Barat. Dalam pandangannya, hilangnya kredibilitas Amerika Serikat bukan sekadar konsekuensi perang, tetapi juga faktor yang akan mengubah peta kekuatan global. Ia bahkan menyebut bahwa “praktis tidak ada seorang pun yang dapat dipercaya” dalam sistem internasional saat ini.

    Titik Temu Ketiga Pandangan

    Jika ditarik dalam satu garis analisis, ketiga pandangan ini tampak berbeda, bahkan kontradiktif. Namun, ketika dibaca lebih dalam, ada satu titik temu yang tak bisa diabaikan.

    Pertama, ketiganya sepakat bahwa perang ini bukan sekadar konflik regional, melainkan peristiwa yang berpotensi mengubah struktur global. Unal melihatnya sebagai bagian dari pola intervensi berulang, Bowen memandangnya sebagai risiko kesalahan strategis besar, sementara Strelnikov menilainya sebagai titik balik runtuhnya kepercayaan internasional.

    Kedua, ada kesamaan dalam membaca pergeseran kekuasaan. Tidak ada lagi aktor tunggal yang sepenuhnya dominan. Amerika Serikat, yang selama dekade menjadi arsitek utama tatanan global, kini justru tampak terjebak dalam dilema strategisnya sendiri. Di sisi lain, negara-negara seperti Iran menunjukkan bahwa ketahanan politik dan geografis dapat menjadi alat tawar yang jauh lebih efektif dibandingkan kekuatan militer semata.

    Ketiga, dan mungkin yang paling mendasar, ketiganya menyinggung satu hal yang jarang diakui secara terbuka dalam wacana geopolitik: krisis kepercayaan. Ketika janji tidak lagi dipercaya, ketika aliansi dipertanyakan, dan ketika narasi resmi kehilangan legitimasi, maka sistem global tidak hanya goyah, tetapi juga kehilangan arah.

    Di titik inilah, perang Iran tidak lagi bisa dibaca sebagai sekadar konflik senjata. Ia adalah cermin retak dari dunia yang sedang mencari ulang pijakannya. Dunia yang tidak lagi sepenuhnya percaya pada kekuatan lama, tetapi juga belum menemukan bentuk baru yang stabil.

    Pertanyaannya bukan lagi siapa yang akan menang, melainkan apakah ada yang benar-benar menang dalam lanskap yang semakin cair ini. Dan mungkin, seperti yang disiratkan oleh ketiga tulisan tersebut, yang sedang kita saksikan bukan sekadar perang, melainkan fase transisi, dari dunia yang lama menuju dunia yang belum sepenuhnya terdefinisi.

    Share. Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link

    Berita Terkait

    Kyiv Tetapkan 21 Agustus sebagai Hari Berkabung, 12 Warga Tewas dalam Serangan Rusia

    By adm_imr25 Agustus 20260 Views

    Parlemen Iran Persetujui Rencana Batasi Akses Asing ke Media dan Kedutaan

    By adm_imr25 Agustus 20260 Views

    Terjemahan Lirik Lagu “Intro End of the World” – Ariana Grande: Dan Jika Semua Berakhir Besok

    By adm_imr25 Agustus 20260 Views
    Leave A Reply Cancel Reply

    Berita Terbaru

    Minat Golf Meningkat, Persiapan Pemula yang Perlu Diketahui

    25 Agustus 2026

    Jelajah Rasa Nusantara di Surabaya, Chef Vindex Sajikan Laksa Tangerang dan Konro

    25 Agustus 2026

    4 Tanda Pasar Saham AS Mulai Kena Tekanan Baru

    25 Agustus 2026

    Eksepsi Paulus Dinilai Tidak Sesuai KUHAP, JPU Beri Tanggapan Pekan Depan

    25 Agustus 2026
    Berita Populer

    HUT ke-112 Kota Malang Jadi Momentum Evaluasi, Wali Kota Tekankan Penyelesaian Masalah Prioritas

    Kota Malang 1 April 2026

    Kota Malang- Wahyu Hidayat menegaskan bahwa peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-112 Kota Malang bukan…

    Kasus Perzinaan Oknum ASN Kota Batu Berujung Penjara, Vonis Diperberat di Tingkat Banding

    29 April 2026

    Operasi Pekat Semeru 2026, Polres Malang Ungkap Dugaan Peredaran Bahan Peledak di Poncokusumo

    28 Februari 2026

    Gus Iqdam Bongkar Aksi Kapolresta Malang Saat Kanjuruhan Memanas, Ribuan Jemaah di Stadion Gajayana Menangis!

    4 Juni 2026
    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads
    • Redaksi
    • Pedoman Media Siber
    • Kebijakan Privasi
    • Tentang Kami
    © 2026 InfoMalangRaya.com. Designed by InfoMalangRaya

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

    Sign In or Register

    Welcome Back!

    Login to your account below.

    Lost password?