
Haldy Sabri diduga menyampaikan sindiran terhadap Ammar Zoni setelah ia menyebut nama Irish Bella dalam pleidoi. Hal ini menjadi salah satu berita yang paling diminati pada Senin (6/4). Selain itu, ada juga kabar mengenai Rachel Vennya yang menyentuh isu nafkah dan utang saat merespons klarifikasi Niko Al Hakim. Berikut adalah rangkuman dari 5 berita populer yang menarik perhatian sepanjang hari kemarin.
1. Haldy Sabri Diduga Sindir Ammar Zoni Usai Singgung Irish Bella dalam Pleidoi

Drama perceraian antara Ammar Zoni dan Irish Bella masih menjadi topik hangat. Apalagi setelah Ammar menyebutkan nama mantan istrinya dalam pleidoinya di pengadilan. Respons dari Haldy Sabri, suami Irish Bella saat ini, langsung muncul. Ia mengingatkan Ammar untuk fokus pada pembelaannya, bukan malah ‘baper’ dengan membawa-bawa nama istri orang.
Haldy menegaskan bahwa selama ini ia dan Irish tidak pernah mengganggu kehidupan Ammar. Ia juga berharap agar tidak ada pihak yang sengaja memutus tali silaturahmi. Sementara itu, Ammar dalam pleidoinya sempat bercerita tentang momen pilu saat Irish Bella memilih bercerai di tengah masa rehabilitasinya karena kasus narkoba. Ia mengaku tidak ingin perpisahan tersebut terjadi dan merasa terpukul karena dibesarkan di keluarga yang tidak pernah mengenal perceraian.
Ammar juga menyampaikan kekecewaannya karena Irish Bella disebut akan menikah lagi, bahkan sebelum 100 hari meninggalnya ayahnya. Rangkaian peristiwa ini dianggap sebagai titik terendah dalam hidupnya, membuatnya merasa tidak pantas menjadi pasangan yang baik.
2. Tanggapi Klarifikasi Niko Al Hakim, Rachel Vennya Singgung Nafkah hingga Utang

Pasangan selebriti yang sudah berpisah, Rachel Vennya dan Niko Al Hakim (Okin), kembali menjadi sorotan. Kali ini, “perang dingin” mereka memanas karena polemik aset rumah yang disebut Rachel dijual Okin tanpa izin. Padahal, dulu rencananya untuk anak mereka. Okin memberikan klarifikasi bahwa rumah tersebut sudah menjadi miliknya secara resmi sejak pembagian harta pada tahun 2021.
Namun, drama belum usai. Rachel Vennya langsung merespons dengan membongkar unek-uneknya melalui kolom komentar. Ia menyebutkan soal aset gono-gini yang tidak pernah ia dapat, BPKB mobil Alphard yang digadaikan, hingga tanah di Bali yang disebut “green zone” dan tidak bisa dijual. Rachel juga menyentuh masalah nafkah anak yang tidak sesuai perjanjian dan pinjaman uang yang sering ia berikan kepada Okin.
Ia mengaku capek dan siap menyerahkan semua urusan kepada pengacaranya. Bahkan, ia rela melepas rumah tersebut asalkan Okin bisa melunasi utangnya. Kasus ini sepertinya akan makin seru!
3. Azizah Salsha Buka Pintu Damai untuk Bigmo dan Resbob

Kasus pencemaran nama baik yang menyeret YouTuber Bigmo dan kakaknya, Resbob, sebagai tersangka atas laporan Azizah Salsha, kini memasuki babak baru. Di tengah proses hukum yang sedang berlangsung, Azizah justru menunjukkan itikad baik dengan membuka pintu damai.
Ia mengungkapkan rencana pertemuan dengan pihak Bigmo dan Resbob untuk mencari penyelesaian secara kekeluargaan. Azizah mengatakan siap memaafkan jika ada itikad baik dari mereka, apalagi Bigmo dan Resbob telah mencoba menghubungi lewat teman-teman mutual. Meski belum bisa memastikan apakah akan mencabut laporan atau tidak, Azizah berharap bisa menemukan solusi terbaik bagi semua pihak.
Ia memilih untuk “living the life” dan tidak terlalu memperhatikan cibiran netizen. Laporan ini bermula setelah Bigmo dan Resbob mengunggah video YouTube yang membahas kehidupan pribadi Azizah Salsha, yang akhirnya berujung pada mediasi gagal dan penyidikan.
4. Videotron Promosi Film ‘Aku Harus Mati’ di Surabaya Sudah Diturunkan

Promosi film ‘Aku Harus Mati’ sempat memicu geger di Surabaya. Sebuah videotron dengan judul yang cukup mengganggu terpasang di bundaran depan Pakuwon Mall dan menuai banyak keluhan dari masyarakat. Beruntungnya, videotron kontroversial tersebut kini sudah diturunkan. Satpol PP Surabaya mengonfirmasi bahwa setelah berkoordinasi dengan Bapenda, promotor film akhirnya melakukan “take down” pada Jumat (3/4).
Kontroversi ini juga sampai ke telinga Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI). Mereka menyatakan keprihatinan, menilai visual dan narasi film tersebut berpotensi memicu ketidaknyamanan emosional, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak, remaja, dan individu yang sedang berjuang dengan kesehatan mental. Paparan berulang pesan tentang kematian tanpa konteks yang tepat dianggap dapat meningkatkan kecemasan dan menjadi pemicu bagi mereka yang memiliki riwayat depresi atau ide bunuh diri.
Meski produser film, Iwet Ramadhan, mengklaim bahwa semua materi promosi, termasuk judul, sudah mengikuti prosedur dan mendapat persetujuan LSF serta DJKI, pihak LSF sendiri mengakui adanya celah regulasi. Ketua LSF, Naswardi, menyatakan bahwa pengawasan media promosi di luar bioskop masih menjadi wewenang pemerintah daerah, sehingga LSF berencana merumuskan kebijakan baru untuk mengatasi polemik serupa di kemudian hari.
5. Psikolog Ingatkan Bahaya Billboard Aku Harus Mati di Ruang Publik

Gelombang protes terhadap billboard promosi film ‘Aku Harus Mati’ tidak hanya datang dari masyarakat, tapi juga dari kalangan profesional. Psikolog Naomi Ernawati Lestari, M.Psi, turut angkat bicara mengenai bahaya konten promosi tersebut, khususnya di ruang publik yang dapat diakses oleh siapa saja tanpa filter.
Menurut Naomi, kalimat “aku harus mati” yang terpampang di ruang publik sangat “keras dan riskan”. Bagi individu yang sedang depresi atau memiliki gangguan mental, frasa ini bisa menjadi pemicu serius (trigger) yang memperparah kondisi mereka, bahkan bisa terasa seperti validasi atas pikiran negatif yang mereka miliki. Dampaknya tidak hanya pada orang dewasa, anak-anak pun bisa merasakan takut atau bahkan menganggap kata “mati” sebagai hal yang biasa, yang tentu tidak sehat bagi perkembangan mereka.
Naomi menekankan bahwa ruang publik seharusnya menjadi tempat yang aman bagi semua kalangan. Industri kreatif diharapkan lebih sensitif dan bertanggung jawab dalam menampilkan materi promosi, terutama untuk tema-tema yang sensitif seperti horor. Ia juga memuji langkah cepat Pemprov DKI Jakarta yang menurunkan sejumlah billboard tersebut, menegaskan bahwa semakin cepat dihapus, semakin baik untuk melindungi masyarakat dari dampak psikologis yang tidak diinginkan.







