Tradisi dan Amalan Sunnah Nabi Muhammad SAW Jelang dan Saat Idulfitri
Idulfitri bukan hanya momen kebahagiaan yang dirayakan dengan penuh sukacita, tetapi juga menjadi kesempatan untuk mengingat kembali nilai-nilai spiritual dan sosial yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW. Di balik perayaan yang meriah, terdapat amalan-amalan kecil yang memiliki makna mendalam dan bisa menjadi panduan dalam menjalani hari raya tersebut.
Berikut adalah lima amalan sunnah Nabi Muhammad SAW yang sebaiknya kita lakukan jelang dan saat Idulfitri:
Mensucikan Diri dengan Zakat Fitrah
Zakat fitrah merupakan salah satu kewajiban yang harus dilaksanakan oleh setiap umat Islam sebelum salat Idulfitri. Ini bukan sekadar ritual tahunan, melainkan bentuk kepedulian sosial yang sangat penting. Zakat ini bertujuan untuk membersihkan jiwa dari dosa-dosa kecil selama bulan Ramadan serta membantu sesama yang kurang mampu.
Dalam sebuah hadis, Nabi Muhammad SAW menyebutkan bahwa zakat fitrah diperintahkan sebagai cara untuk mensucikan orang yang berpuasa dari perkataan sia-sia dan kotor, serta memberi makan bagi orang-orang miskin. Oleh karena itu, zakat fitrah harus dibayarkan hingga batas waktu sebelum khatib naik mimbar agar para fakir miskin dapat ikut merayakan hari raya ini.Menghidupkan Malam dengan Takbir
Tradisi mengumandangkan takbir pada malam Idulfitri merupakan bagian dari syiar Islam yang penuh makna. Takbir dimulai sejak matahari terbenam di akhir Ramadan hingga menjelang pelaksanaan salat Idulfitri. Hal ini didasarkan pada firman Allah dalam Al-Qur’an Surah Al-Baqarah ayat 185:
“Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah (bertakbir) atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.”
Takbir menjadi simbol kemenangan spiritual, karena seorang muslim telah berhasil menahan hawa nafsu dan mendekatkan diri kepada Allah sepanjang Ramadan. Suasana malam Idulfitri biasanya dipenuhi gema takbir dari masjid, mushalla, hingga rumah-rumah. Dentuman bedug dan lantunan takbir yang bergema menciptakan nuansa kebersamaan dan kegembiraan.Mandi Sebelum Berangkat Salat Id
Menjelang pelaksanaan salat Idulfitri, umat Islam dianjurkan untuk menjaga kebersihan lahiriah sebagai cerminan kesucian batin. Salah satu amalan yang dicontohkan para sahabat adalah mandi sebelum berangkat ke lapangan tempat salat Id. Riwayat dari Ibnu Umar RA menyebutkan bahwa beliau senantiasa mandi terlebih dahulu sebelum menghadiri salat Id.
Tradisi ini bukan sekadar rutinitas fisik, melainkan simbol kesiapan diri dalam menyambut hari kemenangan. Dengan membersihkan tubuh, seorang muslim diharapkan hadir dalam keadaan suci, rapi, dan penuh penghormatan terhadap momen sakral Idulfitri. Kebersihan lahiriah menjadi representasi dari hati yang telah ditempa selama Ramadan, sehingga ibadah terasa lebih sempurna.Mengambil Jalan Berbeda saat Pulang Salat Id
Salah satu sunnah Rasulullah SAW yang sering terlupakan adalah mengambil jalan berbeda ketika berangkat dan pulang dari salat Id. Dalam riwayat disebutkan bahwa Nabi sengaja membedakan rute berangkat dan rute pulang. Tujuannya bukan sekadar variasi perjalanan, melainkan untuk menyapa lebih banyak orang, menebarkan salam, serta menampakkan syiar Islam di berbagai sudut jalan.
Makna sosial dari sunnah ini sangat besar. Dengan melewati jalan yang berbeda, Nabi memperluas jangkauan dakwah, memperlihatkan kebersamaan umat, dan menegaskan bahwa Idulfitri adalah momen kebahagiaan yang harus dirasakan oleh semua lapisan masyarakat.Makan Kurma Sebelum Salat Idulfitri
Berbeda dengan Iduladha, pada hari Idulfitri umat Islam disunnahkan untuk makan terlebih dahulu sebelum berangkat salat. Hal ini menjadi tanda bahwa masa berpuasa telah berakhir, sekaligus simbol syukur atas nikmat yang diberikan Allah SWT.
Sunnah ini dicontohkan langsung oleh Nabi Muhammad SAW sebagaimana diriwayatkan oleh Anas bin Malik RA:
“Rasulullah SAW tidak berangkat pada pagi hari Idulfitri hingga beliau makan beberapa butir kurma… dan beliau memakannya dalam jumlah ganjil.”
Amalan sederhana ini memiliki makna yang mendalam. Dengan makan kurma sebelum salat Id, seorang muslim menegaskan bahwa puasa Ramadan telah selesai, dan kini saatnya merayakan kemenangan dengan penuh rasa syukur.
Dengan demikian, makan kurma sebelum salat Id bukan sekadar tradisi, melainkan bagian dari sunnah yang memperindah ibadah. Ia mengajarkan bahwa kemenangan Ramadan harus disambut dengan rasa syukur, kesederhanaan, dan keteladanan dari Nabi Muhammad SAW.
Itulah lima kebiasaan Nabi Muhammad SAW yang patut kita teladani untuk menyempurnakan hari kemenangan. Meski beberapa di antaranya terlihat sederhana—seperti mengambil jalan yang berbeda saat pulang—setiap langkah tersebut menyimpan hikmah sosial untuk memperluas silaturahmi dan menebar keberkahan di sepanjang jalan yang kita lalui.
Mari kita hidupkan kembali sunnah-sunnah yang mulai terlupakan ini, agar Idulfitri kita tidak hanya berkesan secara tradisi, tetapi juga bernilai pahala di sisi Allah SWT. Selamat menyambut hari raya Idulfitri, mohon maaf lahir dan batin.







