Ancaman Hama dan Penyakit yang Mengancam Produksi Pisang
Pisang, sebagai salah satu komoditas pangan terpenting di dunia, kini menghadapi ancaman serius dari hama dan penyakit yang bisa mematikan produksinya. Dari Asia hingga Afrika, jutaan petani dan konsumen terancam kehilangan sumber pangan dan penghidupan mereka. Di tengah tantangan ini, Indonesia melalui Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) berperan penting dalam memperkuat kolaborasi internasional untuk riset pemuliaan pisang.
Komitmen tersebut ditunjukkan melalui Pertemuan Tahunan Kedua Program Riset Pemuliaan Pisang Internasional bertajuk “Collection, Characterization and Pre-breeding Wild Bananas”. Program ini adalah proyek jangka panjang selama lima tahun yang mengumpulkan ilmuwan dan mitra global untuk bekerja sama dalam menjawab tantangan global terkait ketahanan pangan.
Peran Penting Pisang dalam Ketahanan Pangan
Pisang menjadi makanan pokok bagi ratusan juta penduduk dunia, termasuk di Indonesia dan sejumlah negara Afrika. Namun, di balik perannya yang krusial, produksi pisang sangat rentan terhadap serangan penyakit berbahaya. Salah satu ancaman terbesar saat ini adalah penyakit layu Panama akibat jamur Fusarium oxysporum f. sp. cubense dan Banana Bunchy Top Virus (BBTV) yang ditularkan oleh serangga.
Menurut Kepala Pusat Riset Rekayasa Genetika BRIN, Ratih Asmana Ningrum, patogen Fusarium dapat bertahan lama di dalam tanah dan hampir tidak bisa dikendalikan dengan metode konvensional. Sementara itu, penyebaran BBTV juga sangat sulit dihentikan. Solusi paling berkelanjutan adalah pemuliaan varietas pisang yang tahan hama dan penyakit.
Potensi Pisang Liar dalam Pemuliaan
Indonesia memiliki keragaman pisang liar yang luar biasa, yang diduga merupakan nenek moyang pisang budi daya yang kita kenal sekarang. Melalui proyek ini, para peneliti mengumpulkan dan mengkarakterisasi pisang liar Indonesia, mencari sifat ketahanan alaminya, dan memanfaatkannya sebagai plasma nutfah untuk merakit genotipe unggul yang tahan terhadap Fusarium dan BBTV.
Hasil riset ini tidak hanya bermanfaat bagi Indonesia, tetapi juga akan digunakan oleh mitra global seperti International Institute for Tropical Agriculture (IITA) untuk disebarkan ke petani dan pemulia di Afrika, serta oleh BRIN dan kementerian terkait untuk kawasan Asia Tenggara.
Teknik dan Kolaborasi dalam Riset Pisang
Dalam prosesnya, riset ini mengombinasikan teknik konvensional dan mutakhir, mulai dari penyerbukan hingga hibridisasi somatik, gene editing, serta analisis genomik, transkriptomik, metabolomik, dan integrasi data modern. BRIN memimpin langsung riset ini dengan dukungan penuh berupa pendanaan, fasilitas laboratorium, lahan riset, serta program mobilitas periset dan beasiswa pascasarjana.
Program ini juga mendapat sokongan dari LPDP Kementerian Keuangan RI dan Gates Foundation, yang berfokus pada peningkatan kesejahteraan petani kecil di wilayah rentan dunia.
Kolaborasi Global dalam Riset Pisang
Kolaborasi internasional ini melibatkan institusi riset terkemuka dunia, seperti University of Queensland, Wageningen University & Research, Meise Botanic Gardens, Alliance of Bioversity International & CIAT, Institute of Experimental Botany Czech Republic, serta IITA Afrika. Di dalam negeri, IPB University dan Universitas Padjadjaran menjadi mitra utama, bersama unsur industri dan swasta.
Pendirian BIND Center
Momentum Pertemuan Tahunan Kedua ini juga ditandai dengan peresmian Banana Innovation, Network, Database (BIND) Center, pusat kolaborasi global riset pisang. Melalui eksplorasi, karakterisasi, dan pra-pemuliaan pisang liar, hasil riset akan diintegrasikan dalam database nasional INA-BAN sebagai dasar kebijakan pemuliaan pisang ke depan.
Melalui BIND Center, BRIN ingin membangun program abadi yang melampaui masa proyek, memperkuat kemitraan internasional, dan memosisikan Indonesia sebagai kontributor utama riset pisang global.







