Kasus Guru SD di Jember yang Suruh Murid Lepas Baju
Kasus seorang guru SD di Jember yang menyuruh murid-muridnya melepas baju telah menimbulkan reaksi keras dari para wali murid. Kejadian ini berawal dari kehilangan uang oleh guru tersebut, yang akhirnya memicu tindakan yang tidak pantas dan membuat para siswa trauma.
Nasib Guru yang Terlibat
Guru perempuan berinisial FT, yang merupakan wali kelas V, diberhentikan sementara dari tugasnya sebagai bentuk pembinaan. Kepala Dinas Pendidikan Jember, Arief Tjahjono, menjelaskan bahwa pihaknya telah melakukan mediasi antara guru, wali murid, sekolah, hingga polisi. Saat ini, FT sedang menjalani proses pembinaan di kantor Dispendik Jember.
Arief juga menyatakan bahwa tidak ada tuntutan lanjutan dari pihak siswa setelah mediasi dilakukan. “Guru yang bersangkutan sudah kita panggil ke dinas untuk proses pembinaan,” ujar Arief.
Selain itu, FT akan dimutasi ke tempat lain agar bisa melanjutkan tugasnya tanpa mengganggu lingkungan belajar siswa dan wali murid. Arief menjelaskan bahwa pihaknya telah berkoordinasi dengan satuan pendidikan dasar negeri lain sebagai tempat baru bagi guru tersebut.
Penyebab Perilaku Guru
Setelah menjalani pemeriksaan etik, terungkap bahwa guru tersebut memiliki reaksi berlebihan ketika kehilangan sesuatu. FT dikabarkan telah mengakui kesalahannya dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi.
Menurut Arief, FT kehilangan uang pecahan lembaran baru Rp 75 ribu di kelas pada Jumat (6/2/2026). Uang tersebut disimpan di dompet dalam tasnya. Saat jam pelajaran, FT sempat meninggalkan kelas sebentar untuk pergi ke toilet. Setelah kembali, uang di dompetnya telah hilang.
FT merasa marah karena uang tersebut merupakan uang yang bersejarah baginya. Ia juga dikabarkan sering buang air kecil akibat sakit jantung yang dideritanya. Sebelum kejadian ini, FT juga mengaku telah beberapa kali kehilangan uang di kelas tersebut.
Trauma pada Siswa
Setelah kejadian tersebut, sejumlah siswa mengalami trauma dan takut kembali ke sekolah. Untuk mengatasi hal ini, Kadispendik Jember Arief Tjahjono menjelaskan bahwa para siswa telah menjalani trauma healing bersama KPAI (Komisi Perlindungan Anak Indonesia).
“Kami melakukan trauma healing terhadap adik-adik siswa. Supaya mereka tidak mengalami rasa trauma yang dalam,” ujar Arief.
Sebagian siswa tidak masuk sekolah setelah kejadian tersebut. Oleh karena itu, trauma healing diperlukan agar proses belajar mengajar dapat berjalan normal kembali.
Reaksi Wali Murid
Wali murid merasa sangat murka atas tindakan guru tersebut. Proses pemeriksaan dilakukan dalam ruang kelas yang tertutup. Namun, salah satu wali murid tiba-tiba mendobrak pintu kelas karena curiga dengan kegiatan yang terjadi di dalam.
Beberapa wali murid datang ke sekolah setelah mendapat laporan dari siswa kelas VI yang melihat kejadian tersebut. Setelah insiden itu, sejumlah murid merasa ketakutan hingga trauma.
Sehari setelah kejadian, hanya 6 anak yang berani datang ke sekolah setelah ditelepon oleh guru. Sementara murid-murid lainnya enggan untuk datang. Seluruh wali murid kemudian membuat petisi untuk dikirim ke Dinas Pendidikan Jember agar guru tersebut ditindak.
Namun, pada hari Minggu (8/2/2026), pihak Dinas Pendidikan Jember datang ke sekolah untuk melakukan mediasi dengan wali murid. Dalam mediasi tersebut, wali murid diminta untuk tanda tangan perjanjian untuk tidak bicara apapun kepada wartawan jika diwawancara.
Tanggapan dari Sekolah
Reaksi serupa juga diberikan oleh Plt Kepala SDN tempat guru tersebut mengajar, AR. Ia meminta semua wartawan untuk meletakkan smartphone dan alat perekam apapun saat diminta konfirmasi terkait kasus guru SD di Jember ini.
AR memilih untuk bungkam dan tak mau berkomentar atas kasus ini. Menurutnya masalah ini telah ditangani oleh Dinas Pendidikan Jember.
“Saya serahkan semua ke Diknas, kalau mau konfirmasi silakan langsung ke Diknas,” ujarnya.







