Ketersediaan Pangan Stabil Selama Rangkaian Hari Besar Keagamaan Nasional
Badan Pangan Nasional (Bapanas) memastikan bahwa pasokan dan harga pangan akan tetap stabil menjelang rangkaian Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) pada triwulan I 2026, termasuk Ramadan hingga Idul Fitri 1447 H dan Hari Suci Nyepi. Hal ini dilakukan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat yang meningkat selama periode tersebut.
Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman kembali menegaskan bahwa stok pangan untuk memenuhi kebutuhan rangkaian HBKN aman. Pernyataan ini disampaikannya dalam rapat terbatas (ratas) bersama Presiden Prabowo Subianto di Istana Kepresidenan, Rabu (11/2). Ia menyebutkan bahwa terdapat sekitar 12 bahan pokok yang tersedia, seperti swasembada minyak goreng, beras, bawang merah, dan lainnya.
“Yang disampaikan adalah stok pangan menghadapi bulan suci Ramadan. Semua stok kita dua bulan ke depan surplus, lebih dari cukup,” ujar Amran. Menurutnya, surplus ini bisa mencukupi kebutuhan masyarakat selama periode HBKN.
Surplus Produksi Cabai di Jawa Barat
Amran juga menyebutkan beberapa sentra produksi utama, terutama Jawa Barat, saat ini masih mencatat surplus produksi yang cukup besar. Surplus ini berpotensi menopang distribusi antarwilayah selama periode HBKN.
Berdasarkan neraca cabai Jawa Barat, produksi cabai rawit (CR) pada Februari 2026 mencapai 34.463 ton, sementara kebutuhan hanya 16.578 ton. Artinya, terdapat surplus 17.885 ton. Surplus semakin besar pada Maret 2026 dengan produksi mencapai 78.963 ton, kebutuhan 23.946 ton, dan neraca positif 55.018 ton.
Untuk cabai besar atau cabai merah (CB), produksi Februari tercatat 32.398 ton dengan kebutuhan 23.858 ton, menghasilkan surplus 8.540 ton. Pada Maret, produksi meningkat menjadi 38.703 ton, dengan kebutuhan 27.740 ton dan surplus 10.962 ton.
Data tersebut menunjukkan bahwa pasokan cabai di Jawa Barat relatif aman menghadapi lonjakan permintaan saat Ramadan hingga Lebaran. “Pemerintah terus mengawal pasokan dan distribusi cabai agar kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi,” tambah Amran.
Luas Panen Cabai di Beberapa Daerah
Sebagai salah satu sentra utama cabai nasional, Jawa Barat ditopang oleh luas panen signifikan di beberapa daerah. Hasil pemantauan menunjukkan luas panen cabai di Kabupaten Bandung mencapai 400 hektare, Kabupaten Garut 485 hektare, dan Kabupaten Sumedang 250 hektare. Luas panen ini menjadi fondasi utama menjaga kesinambungan pasokan selama Ramadan hingga Idul Fitri.
Stok Pangan Lainnya Juga Cukup
Direktur Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP), Bapanas Maino Dwi Hartono mengatakan bahwa pasokan beberapa pangan stoknya cukup hingga bulan Maret mendatang. “Bapanas mencatat proyeksi Neraca Pangan Nasional per 6 Januari 2026, untuk komoditas seperti beras, daging ayam ras, telur ayam ras, gula konsumsi, dan daging sapi atau kerbau masih mencukupi untuk tiga bulan ke depan,” katanya.
Lebih rinci, pasokan khusus beras saat ini mencapai 22,2 juta ton yang berasal dari stok awal tahun sebesar 12,4 juta ton dan proyeksi produksi dalam tiga bulan ke depan yang diprediksi capai 9,8 juta ton. Jumlah ini lebih besar dari total kebutuhan konsumsi sebesar 7,7 juta ton sampai akhir Maret mendatang.
Pasokan daging ayam ras saat ini mencapai 1,6 juta ton, atau lebih besar dari total produksi yang mencapai 1,01 juta hingga lebaran idul fitri mendatang. Hal serupa juga terjadi pada telur ayam ras yang stoknya diprediksi capai 1,9 juta ton, sedangkan konsumsi nasional Januari-Maret mencapai 1,67 juta ton.
Surplus Kedelai dan Stabilitas Harga
Selain itu, pemerintah juga memastikan ketersediaan pangan strategis nasional berada dalam kondisi aman hingga akhir Maret 2026, termasuk komoditas kedelai yang menjadi bahan baku utama industri tahu dan tempe.
Kepala Bapanas Andi Amran Sulaiman menyampaikan, proyeksi neraca pangan 2026 menunjukkan pasokan komoditas utama berada di atas kebutuhan konsumsi, meliputi beras, jagung, kedelai, daging sapi dan kerbau, daging ayam, telur ayam, bawang merah, bawang putih, minyak goreng, gula konsumsi, serta cabai.
Berdasarkan neraca pangan hingga akhir Maret 2026, ketersediaan kedelai nasional tercatat sekitar 629.000 ton, sementara kebutuhan konsumsi Februari–Maret 2026 sebesar 453.900 ton. Dengan demikian, neraca kedelai masih mencatat surplus sekitar 176.000 ton.
Ketua Asosiasi Kedelai Indonesia (Akindo) Hidayatullah Suralaga menyatakan, stok kedelai dalam negeri dinilai cukup untuk memenuhi kebutuhan selama Ramadan dan Idulfitri 2026. “Menjelang, selama, dan pasca bulan puasa Ramadhan dan Idul Fitri stok kedelai di dalam negeri selalu tersedia. Rata-rata cukup untuk memenuhi kebutuhan sekitar 1,5 bulan, khususnya bagi perajin tempe dan tahu nasional,” ujar Hidayatullah.
Dari sisi harga, Akindo menilai kenaikan harga kedelai di sejumlah wilayah Jawa Timur masih berada dalam rentang wajar. Di beberapa daerah seperti Surabaya, Jember, Malang, Bondowoso, Situbondo, Blitar, Ponorogo, dan Tuban, harga kedelai di tingkat perajin tercatat berada di kisaran Rp10.000 per kilogram atau di bawahnya.
Ke depan, Akindo menyatakan akan terus berkoordinasi dengan pemangku kepentingan untuk menjaga kelancaran distribusi, ketersediaan stok, serta stabilitas harga kedelai demi menjaga keberlangsungan usaha perajin tahu dan tempe nasional selama periode Ramadan dan Idulfitri 2026.







