Momen Penting Saat Sahur Pertama di Bulan Ramadan 1447 H
Momen sahur pertama di bulan Ramadan 1447 H menjadi penentu semangat menjalani ibadah puasa selama hari-hari berikutnya. Menu sahur yang tepat tidak hanya membantu menjaga energi sepanjang hari, tetapi juga memenuhi kebutuhan gizi tubuh setelah berjam-jam beristirahat di malam hari. Oleh karena itu, pilihan hidangan sahur yang praktis, sehat, dan mengenyangkan menjadi perhatian banyak orang.
Berikut ini adalah 20 ide menu sahur pertama yang bisa menjadi referensi:
- Nasi putih, telur dadar sayur, dan tumis buncis wortel
- Nasi goreng sederhana dengan telur ceplok
- Sup ayam kentang dan nasi hangat
- Oatmeal susu + potongan pisang dan madu
- Roti gandum isi telur dan keju
- Nasi, ayam goreng, lalap, dan sambal
- Mi goreng telur ditambah sawi dan tomat
- Bubur ayam hangat + telur rebus
- Nasi, tempe orek, dan sayur bayam bening
- Sandwich tuna + segelas susu
- Nasi uduk sederhana dengan telur balado
- Kentang rebus, telur rebus, dan buah apel
- Smoothie pisang + roti panggang selai kacang
- Nasi putih, ikan goreng, dan tumis kangkung
- Sop bakso sayur dengan nasi hangat
- Mie kuah ayam + sawi hijau
- Nasi, tahu tempe goreng, dan capcay
- Salad buah + yogurt + roti gandum
- Nasi kuning sederhana dengan telur iris
- Bubur kacang hijau + roti tawar
Pemerintah menetapkan 1 Ramadan 1447 H/2026 M jatuh pada Kamis (19/2/2026). Penetapan ini didasarkan pada keputusan sidang isbat (penetapan) 1 Ramadan 1446 H yang dipimpin Menteri Agama Nasaruddin Umar di Hotel Borobudur, Lapangan Banteng, Sawah Besar, Jakarta Pusat, Selasa (17/2/2026).
“Berdasarkan hasil hisab dan tidak adanya laporan rukyat hilal, sidang Isbat menyepakati bahwa 1 Ramadan 1447 Hijriah jatuh pada hari Kamis, 19 Februari 2026,” ujar Menag dalam konferensi pers yang digelar usai Sidang Isbat Penetapan 1 Ramadan 1447 H, Selasa (17/2/2026) petang.
Menag menjelaskan sidang menyepakati keputusan tersebut karena dua hal. “Kita telah mendengar paparan Tim Hisab Rukyat Kemenag dan sudah didiskusikan,” ungkap Menag.
Melalui musyawarah di sidang isbat, pemerintah mengumpulkan laporan hisab (perhitungan astronomi) dan hasil rukyat (observasi hilal) dari berbagai titik pengamatan.
Proses Sidang Isbat
Sidang isbat merupakan forum yang digelar Pemerintah untuk menetapkan awal Ramadan, Syawal, dan Zulhijah. Ini dilakukan sejak 1950-an, sidang ini diadakan sebagai upaya negara ruang musyawarah berbagai ormas Islam dalam penentuan awal bulan Hijriah.
Rangkaian sidang isbat diawali dengan seminar posisi hilal pada pukul 16.30 WIB. Hadir, para pakar astronomi dan ahli falak. Sidang Isbat dilaksanakan secara tertutup pada pukul 18.30 WIB, sedangkan hasilnya diumumkan melalui konferensi pers sekitar pukul 19.05 WIB.
Sidang Isbat diantaranya dihadiri perwakilan duta besar negara sahabat, Komisi VIII DPR RI, Mahkamah Agung RI, Majelis Ulama Indonesia (MUI), serta para ahli dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
Selain itu, hadir pula akademisi Institut Teknologi Bandung (ITB), perwakilan planetarium, anggota Tim Hisab Rukyat Kemenag, pakar falak dari berbagai organisasi kemasyarakatan Islam, serta pimpinan ormas Islam dan pondok pesantren.
Menag menjelaskan, secara historis sidang isbat selalu menjadi rujukan bangsa Indonesia dalam menentukan awal Ramadan dan Idul Fitri. Dalam dua tahun terakhir memang terjadi dinamika perbedaan penentuan awal Ramadan di tengah masyarakat, namun Kemenag terus mencoba untuk mempertemukan.
“Kalau kita lihat sejarah bangsa Indonesia, memang sidang isbat selalu jadi faktor penentu lebaran dan puasa. Dalam dua tahun terakhir memang ada perkembangan dan perbedaan, tetapi kita berusaha menjadi media penyatu dalam penentuan hari penting keagamaan,” ujar Menag, Jakarta, Selasa (17/2/2026).
Ia menjelaskan bahwa perbedaan metode antara ormas Islam merupakan bagian dari khazanah fikih yang telah lama dikenal. Muhammadiyah, misalnya, dulu menggunakan hisab sebagai penentu utama dan rukyat sebagai konfirmasi. Sementara ormas Islam lainnya menjadikan rukyat sebagai dasar utama dengan dukungan hisab.
“Kementerian Agama sebagai perwakilan pemerintah tentunya perlu konfirmasi secara langsung dengan melihat posisi hilal dan diputuskan melalui sidang isbat,” tegasnya. Tahun ini, pemantauan hilal dilakukan di 96 titik di seluruh Indonesia sebagai bagian dari ikhtiar ilmiah dan syar’i.
Posisi Hilal di Bawah Ufuk
Hasil sidang isbat ini berbeda dengan Pimpinan Pusat Muhammadiyah yang menetapkan awal Ramadhan lebih cepat satu hari atau jatuh pada besok Rabu (18/2/2026). Anggota Tim Hisab Rukyat Kemenag Cecep Nurwendaya menjelaskan posisi hilal di wilayah Indonesia saat rukyat berada pada kisaran minus 2 derajat 24 menit 43 detik hingga minus 0 derajat 55 menit 41 detik, dengan elongasi antara 0 derajat 56 menit 23 detik hingga 1 derajat 53 menit 36 detik.
Sementara kriteria MABIMS menetapkan tinggi hilal minimum 3 derajat dan elongasi minimum 6,4 derajat. Sebelumnya, berdasarkan perhitungan hisab yang dilakukan oleh Kementerian Agama, ijtimak (konjungsi) menjelang Ramadan 1447 H terjadi pada Selasa, 17 Februari 2026, pukul 19.01 WIB.
Melansir laman kemenag.go.id, posisi hilal saat matahari terbenam di seluruh wilayah Indonesia berada di bawah ufuk, dengan ketinggian berkisar -2° 24 menit 42 detik hingga -0° 58 menit 47 detik, serta sudut elongasi 0° 56 menit 23 detik hingga 1° 53 menit 36 detik. Data ini sesuai dengan kriteria visibilitas yang digunakan (seperti MABIMS), sehingga hilal belum memenuhi syarat terlihat secara teoritis.
Untuk melengkapi data hisab, Kemenag melaksanakan rukyatulhilal di 96 lokasi yang tersebar di seluruh Indonesia. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) juga menyatakan hal serupa pada Selasa, 17 Februari 2026. Data hisab saat Matahari terbenam menunjukkan tinggi hilal masih berada di bawah ufuk, berkisar antara -2,41 derajat di Jayapura, Papua hingga -0,93 derajat di Tua Pejat, Sumatera Barat.
Elongasi geosentris tercatat antara 0,94 derajat di Banda Aceh hingga 1,89 derajat di Jayapura. Umur bulan berkisar antara -3,07 jam hingga -0,16 jam, dengan lag minus 8,27 menit hingga minus 3,11 menit. Fraksi iluminasi bulan juga masih sangat kecil, antara 0,01 persen hingga 0,05 persen. Kondisi ini menunjukkan hilal belum memenuhi kriteria MABIMS pada 17 Februari 2026.
Sementara itu, pada Rabu, 18 Februari 2026, tinggi hilal saat Matahari terbenam diperkirakan sudah berada di atas ufuk dengan kisaran 7,62 derajat di Merauke, Papua hingga 10,03 derajat di Sabang, Aceh.
Cuaca Saat Pemantauan Hilal
Untuk melengkapi data hisab, Kemenag melaksanakan pemantauan hilal (rukyatul hilal) di 96 lokasi dari Aceh hingga Papua. Pengamatan dilakukan oleh Kantor Wilayah Kemenag provinsi dan kabupaten/kota, bekerja sama dengan Pengadilan Agama, ormas Islam, serta instansi terkait.
Dipantau dari beberapa titik pemantauan hilal, seperti di Masjid Al Musyari’in Ponpes Al Hidayah Basmol, Kembangan, Jakarta Barat menunjukkan cuaca langit di sekitar Masjid Al Musyari’in tampak mendung dan berawan. “Kalau untuk kriteria di sini memang belum memenuhi. Tinggi hilal masih di bawah ufuk,” kata Ketua Tim Falakiyah Abdul Ghofur saat ditemui di lokasi, Selasa (17/2/2026).
Cuaca mendung terlihat saat petugas melakukan pemantauan. Pemantauan dari Indonesia paling Barat yakni di Aceh pun menunjukkan jika hilal tak terlihat. Laporan dari Observatorium Lhoknga Aceh hilal tak tampak.
Perbedaan Awal Puasa 10 Tahun Terakhir
Sebelum Ramadhan 2026, perbedaan awal puasa terakhir di Indonesia terjadi pada Ramadhan 1443 H (tahun 2022). Muhammadiyah menetapkan awal puasa pada Sabtu, 2 April 2022, berdasarkan metode hisab hakiki wujudul hilal. Pemerintah (Kemenag/NU) melalui sidang isbat menetapkan awal puasa pada Minggu, 3 April 2022, karena hasil rukyat menunjukkan hilal belum terlihat pada 1 April 2022.
Akibatnya, umat Islam di Indonesia memulai puasa tidak serentak: sebagian pada 2 April, sebagian pada 3 April.







