Peran Sektor Otomotif dalam Perekonomian Nasional
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyampaikan bahwa sektor otomotif, khususnya di segmen kendaraan pick-up, memiliki peran penting dalam perekonomian Indonesia. Ia menekankan bahwa penyerapan tenaga kerja dan nilai tambah ekonomi akan lebih besar jika kebutuhan kendaraan tersebut dipenuhi oleh industri dalam negeri.
“Jika seluruh kebutuhan kendaraan pick-up dipenuhi melalui impor, maka nilai tambah ekonomi dan penyerapan tenaga kerja akan dinikmati oleh industri luar negeri,” ujar Agus dalam pernyataannya.
Namun, jika kebutuhan kendaraan tersebut dapat dipenuhi dari dalam negeri, maka manfaat ekonomi, penciptaan lapangan kerja, serta penguatan industri nasional akan dirasakan secara langsung oleh masyarakat Indonesia.
Sebagai contoh, jika kebutuhan sebanyak 70 ribu armada pick-up dihasilkan dari dalam negeri, maka dampak positif ekonomi (backward linkage) mencapai sekitar Rp27 triliun. Selain itu, banyak industri pendukung yang terkait dengan produksi satu kendaraan pick-up, seperti industri ban, kaca, baterai basah (accu), logam, kulit, plastik, kabel, dan elektronik.
Kualitas Kendaraan Lokal yang Tidak Kalah Dengan Impor
Agus juga menyampaikan bahwa standar dan kualitas kendaraan pick-up (4×2) yang diproduksi di dalam negeri tidak kalah dengan produk luar negeri. Bahkan, kendaraan lokal dinilai mampu memenuhi kebutuhan operasional di berbagai wilayah Indonesia dengan kondisi infrastruktur jalan yang sangat beragam.
Keandalan kendaraan-kendaraan ini telah dirasakan oleh masyarakat Indonesia. Performanya dinilai sangat andal serta mampu melayani kebutuhan distribusi dan mobilitas barang.
Namun, Agus mengakui bahwa saat ini Indonesia belum memproduksi tipe kendaraan pick-up dengan spesifikasi penggerak empat roda (4×4) yang dirancang khusus untuk medan sangat berat, khususnya daerah tambang dan perkebunan.
Tantangan dan Upaya Industri Otomotif
Menperin menegaskan bahwa pihaknya terus mengajak pelaku industri otomotif agar menjaga keberlangsungan usaha sekaligus mempertahankan tenaga kerja, sehingga tidak terjadi pemutusan hubungan kerja di tengah tantangan industri yang ada.
Sebelumnya, Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (GAIKINDO) menyatakan bahwa anggotanya memiliki kesiapan dalam memenuhi kebutuhan armada-armada pick-up dari berbagai merek yang ada di Tanah Air. Secara keseluruhan, anggota-anggota GAIKINDO memiliki kapasitas produksi untuk jenis kendaraan pick-up mencapai lebih dari 400.000 unit per tahun, namun hingga kini belum dapat dimanfaatkan secara optimal.
Kendaraan-kendaraan yang diproduksi umumnya adalah kendaraan dengan penggerak 4×2, dan kendaraan-kendaraan tersebut memiliki Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) yang cukup tinggi, mencapai lebih dari 40 persen.
Kendaraan-kendaraan komersial penggerak 4×2 atau jenis pick-up tersebut telah mampu memenuhi kebutuhan masyarakat di seluruh pelosok tanah air. Hal ini juga didukung oleh jaringan servis bengkel purna jual yang tersebar cukup luas.
”Sebenarnya anggota Gaikindo dan juga industri-industri pendukungnya, diantaranya industri komponen otomotif yang tergabung dalam GIAMM, memiliki kapasitas produksi untuk memenuhi kebutuhan tersebut, namun memang diperlukan waktu yang memadai agar jumlah dan kriterianya dapat dipenuhi,” kata Ketua Umum Gaikindo, Putu Juli Ardika dalam keterangan resminya, Jumat.







