Tamu Bersemangat Menerima Suvenir dari Acara Diskusi tentang Roehana Koeddoes
Sejumlah tamu terlihat senang ketika diberikan sebuah suvenir berupa pouch berwarna terang, dengan sulaman bunga-bunga cantik yang menghiasi kedua sisi tas kecil beresleting. Mereka seolah tidak menyangka akan mendapat kenang-kenangan istimewa usai mengikuti acara diskusi bertajuk “3 Wajah Roehana Koeddoes: Pahlawan Nasional, Jurnalis Perempuan Pertama di Indonesia” yang digelar di kantor IDN HQ, Jakarta Selatan, Jumat, 6 Februari 2026.
Kegembiraan juga terlihat pada wajah sejumlah ibu-ibu yang mengenakan Baju Kurung Basiba dengan kain batik. Canda, tawa dan sapa berbaur jadi satu, hingga membuat suasana di lobi lantai 3 gedung IDN HQ terasa cair dan hangat.
Yang menarik, hampir semua ibu-ibu berbaju kurung tersebut mengenakan selendang bersulam dengan hiasan bunga-bunga cantik. Beberapa di antara selendang itu, di bagian ujungnya dihiasi dengan renda bangku.
Trini Tambu, salah seorang ibu yang menggunakan selendang bersulam dengan hiasan renda bangku mengungkapkan, selendang yang dikenakannya merupakan hasil kerajinan ibu-ibu di Yayasan Amai Setia, sebuah pusat kerajinan untuk perempuan yang dibangun oleh Roehana Koeddoes.
Roehana Koeddoes merupakan Pahlawan Nasional yang berasal dari Koto Gadang, Agam, Sumatera Barat. Ia ditetapkan menjadi Pahlawan Nasional pada Jumat, 8 November 2019 oleh Presiden Joko Widodo karena jasa-jasanya memperjuangkan nasib perempuan hingga memiliki kedudukan yang setara dengan laki-laki. Perjuangannya mendidik dan mengangkat derajat kaum perempuan dilakukan melalui dua wadah, yakni Perkumpulan Kerajinan Amai Setia dan Surat Kabar Soenting Melajoe.
Perjuangan Roehana dalam Mendidik Kaum Perempuan
Roehana lahir di Koto Gadang, Agam, Sumatera Barat pada 20 Desember 1884. Masa mudanya ia habiskan untuk mendidik kaum perempuan agar keluar dari kebodohan, kelemahan, kemiskinan dan bisa sejajar dengan laki-laki.
Salah satu wadah perjuangannya mendidik kaum perempuan yakni melalui Perkumpulan Kerajinan Amai Setia. Perkumpulan ini didirikan di kampung halamannya, Koto Gadang pada 11 Februari 1911.
Perkumpulan Kerajinan Amai Setia masih ada hingga saat ini. Namanya pun tidak berubah, hanya berganti menjadi yayasan pada 1979. Hingga sekarang Amai Setia masih menjadi sekolah, tempat belajar menjahit, menyulam, menenun, membuat renda, bordir dan lain-lain bagi para perempuan atau para amai (ibu dalam bahasa Minangkabau).
“Selendang yang kami pakai itu adalah buatan dari perempuan-perempuan di kampung, hasil tangan dari ibu-ibu di Koto Gadang. Kami punya toko kecil untuk menjual hasil-hasil karya mereka, banyak yang beli dari Jakarta. Sekarang lagi model Selendang Gadang dengan motif bunganya lebih besar. Zaman dulu bunganya kecil-kecil, sekarang bunganya lebih besar,” ujar Trini yang merupakan Ketua Yayasan Amai Setia, Sabtu (14/2/2026).
Kerajinan Amai Setia sebagai “Sekolah” untuk Perempuan
Kerajinan Amai Setia merupakan “sekolah” yang dibangun oleh Roehana Koeddoes pada zaman penjajahan Hindia Belanda, untuk mendidik para perempuan yang pada saat itu tidak bisa mengenyam pendidikan formal seperti laki-laki dan mengalami diskriminasi dalam semua sisi kehidupan.
Di Amai Setia, Roehana Koeddoes mengajarkan para perempuan membaca, menulis, berhitung dan membuat berbagai kerajinan tangan yang bisa dijual hingga bisa mendatangkan tambahan penghasilan bagi para amai di Koto Gadang saat itu.
“Pada 1915 keberadaan Amai Setia diakui Pemerintah Hindia Belanda sebagai badan hukum, pengakuan yang sangat penting di zaman itu, apalagi dimulai oleh seorang perempuan dan sejak itulah makin bagus dan makin besar lagi. Tahun 1979 berubah jadi yayasan. Kepemimpinan dirotasi setiap 5 tahun sekali, dan selalu (dipimpin) perempuan dari Kota Gadang,” jelas Trini memaparkan sejarah singkat Amai Setia.
Pendirian Surat Kabar Soenting Melajoe
Perjuangan Roehana Koeddoes untuk mendidik dan mengangkat derajat kaum perempuan tidak hanya melalui Amai Setia, ia juga mendirikan surat kabar khusus perempuan bernama Soenting Melajoe. Surat kabar ini terbit perdana pada 10 Juli 1912. Namun ada juga yang menyebutkan pada 12 Juli 1912 di Padang, Sumatera Barat.
Roehana menerbitkan Soenting Melajoe bukan hanya sebagai tempat untuk menyalurkan kemampuan mengarangnya. Namun lebih dari itu, ada tujuan yang sangat penting, yakni untuk mendidik perempuan, memperjuangkan hak-hak perempuan, menggerakkan dan memberdayakan perempuan melalui tulisan-tulisan yang ada di dalamnya. Dengan kata lain, Roehana mendirikan Soenting Melajoe sebagai media pergerakan untuk mengangkat harkat dan martabat kaum perempuan.
Terbitnya Soenting Melajoe sekaligus menjadikan Roehana sebagai jurnalis perempuan pertama di Indonesia. Di Soenting Melajoe, Roehana yang dibantu Zoebaidah Ratna Joewita, putri Datuk Sutan Maharaja, fokus menulis tentang pendidikan, kesehatan, sejarah, dan budaya. Belakangan, ia banyak menerima kiriman tulisan dari perempuan-perempuan lain yang telah berhasil ia didik.
Warisan Roehana Koeddoes yang Masih Relevan
Kiprahnya mendirikan surat kabar sebagai media untuk mendidik dan menggerakkan kaum perempuan, membuat Roehana diakui dan ditetapkan sebagai wartawati atau jurnalis perempuan pertama di Indonesia. Ia mendapat penghargaan terkait hal ini dari Pemerintah Daerah Sumatera Barat Pada 1974. Ia juga mendapatkan penghargaan sebagai perintis pers Indonesia pada 1987 dan mendapat Bintang Jasa Utama pada 2007.
Dalam film biografinya berjudul Soenting Melajoe yang diproduksi TVRI Sumatera Barat, Roehana Koeddoes mengatakan, “semua (Amai Setia dan Soenting Melajoe) diupayakan sama-sama berjalan dengan kerja keras,” ujar Roehana.
Legasi Nyata Roehana Koeddoes untuk Perempuan Indonesia
Melawan takdir demi memperbaiki nasib perempuan

Roehana merupakan putri dari Muhammad Rasjad Maharadja Soetan, seorang Kepala Jaksa di Karesidenan Jambi. Ibunya bernama Kiam, wafat saat melahirkan adik Roehana yang ke-6.
Roehana memiliki nama kecil Siti Roehana dan tumbuh di lingkungan Minangkabau, di bawah didikan sang ayah. Ia sudah bisa membaca dan menulis sejak usia 8 tahun, dan di usianya yang masih kecil, ia telah mengajari anak-anak perempuan belajar dan membaca di beranda rumahnya. Melihat apa yang dilakukan Roehana, sang ayah membelikannya papan, batu tulis, dan buku-buku untuk mengajari anak-anak perempuan lainnya di rumah mereka.
Ketekunan dan kedisiplinan membuat Roehana tak hanya bisa membaca dan menulis, tapi ia juga menguasai bahasa Belanda, Arab, dan Latin meski tak mengenyam pendidikan formal.
Hingga usia 13 tahun, Roehana tetap mengajarkan para perempuan, meski ia tengah berduka karena sang ibunda wafat usai melahirkan.
“Duka saya tak bisa terkatakan, namun kegiatan mengajar anak-anak dan kaum perempuan tetap saya lakukan, hingga sesuatu harus membuat saya pulang,” ujar Roehana dalam film biografinya.
Saat berusia 17 tahun, ayahnya pindah tugas ke Medan. Namun Roehana tak bisa mendampingi sang ayah. Ia kembali ke kampung halaman mereka di Koto Gadang untuk menemani adik-adiknya yang sudah lebih dulu pulang. Di Koto Gadang inilah Roehana membuat sekolah atau perkumpulan bagi para perempuan, yang diberi nama Amai Setia.
Upaya Roehana mendidik kaum perempuan pada masa Hindia Belanda tak selalu mudah. Banyak penolakan, termasuk dari kalangan perempuan itu sendiri. Ia dianggap melawan takdir. Karena penolakan ini, jumlah murid Roehana berkurang hingga membuatnya hampir kehilangan semangat. Namun Roehana bangkit kembali atas dukungan sang suami, Abdoel Koeddoes, hingga akhirnya bisa menerbitkan surat kabar Soenting Melajoe.
Roehana menamai surat kabarnya Soenting Melajoe bukan asal nama. “Soenting mewakili perlambang kaum perempuan, mahkota indah yang dipakai di hari pernikahan seorang perempuan. Melajoe menjadi tanda, ia akan beredar di Tanah Melajoe sebagai halnya Oetoesan Melajoe,” ujar Roehana.
Oetoesan Melajoe sendiri merupakan surat kabar berbahasa Melayu yang dipimpin Datuk Sutan Maharadja, salah seorang guru Roehana. Surat kabar ini terbit pertama kali di Padang pada 2 Januari 1911, dan diyakini sebagai surat kabar pertama yang dikelola pribumi.
Dengan berdirinya Amai Setia dan Soenting Melajoe, Roehana pun menjawab cemoohan orang yang menganggapnya melawan takdir. “Kemajuan zaman tidak akan pernah membuat kaum perempuan menyamai kaum laki-laki. Perempuan tetap perempuan dengan segala kemampuan dan kewajibannya, yang berubah perempuan harus mendapat pendidikan dan perlakuan yang lebih baik, tidak untuk ditakut-takuti, dibodoh-bodohi apalagi dianiaya,” ujarnya.

Spirit bagi Perjuangan Emansipasi dan Jurnalis Perempuan
Untuk mengingat dan menghidupkan kembali spirit Roehana Koeddoes, IDN Times bersama Yayasan Amai Setia dan Forum Jurnalis Perempuan Indonesia (FJPI) menggelar acara nonton bareng dan diskusi khusus tentang sosok Roehana Koeddoes, pada 6 Februari 2026, menjelang Hari Pers Nasional yang jatuh setiap tanggal 9 Februari.
Ketua Yayasan Kerajinan Amai Setia Koto Gadang, Trini Tambu, yang menjadi salah satu pembicara dalam acara diskusi tersebut mengatakan, perjuangan Roehana Koeddoes jauh melampaui sekadar gagasan emansipasi. Menurutnya, Roehana telah membangun infrastruktur emansipasi yang nyata melalui pendidikan, jurnalistik, dan pemberdayaan ekonomi perempuan sejak awal abad ke-20, jauh sebelum istilah emansipasi bergema secara nasional.
Hal ini ia buktikan dengan mengutip salah satu tulisan Roehana yang berjudul Perempuan. “Kaum perempuan harus dimajukan mengikuti aliran zaman. Bangsa kita masih terbelakang dalam kemajuan hidup. Untuk itu, tidak dapat tidak, kaum perempuan pun harus memasuki sekolah seperti kaum laki-laki. Karena dengan sekolah lah ilmu pengetahuan diperoleh”.
Menurut Trini, tulisan itu merupakan sebuah manifesto perubahan cara berpikir bahwa perempuan memiliki peran strategis dalam pembangunan bangsa.








