Pandangan Mantan Duta Besar RI tentang Kemampuan Indonesia sebagai Mediator Konflik Iran-AS-Israel
Mantan duta besar Republik Indonesia untuk Iran pada periode 2012 hingga 2016, Dian Wirengjurit, memberikan pendapatnya terkait kemungkinan Indonesia menjadi mediator dalam konflik antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel. Menurutnya, Indonesia masih memiliki keterbatasan dalam hal pengakuan diplomatik terhadap Israel yang membuat posisi negara ini sulit diakui oleh pihak-pihak yang berselisih.
Dian menyatakan bahwa Indonesia tidak mengakui Israel secara resmi, sehingga sulit bagi negara ini untuk menjadi penengah yang dapat diterima oleh kedua belah pihak. Ia menilai bahwa jika ingin menjadi mediator, suatu negara harus diakui secara diplomatik oleh semua pihak yang terlibat dalam konflik tersebut.
Alasan Indonesia Sulit Jadi Penengah
Menurut Dian, selain tidak mengakui Israel, Indonesia juga dinilai condong ke pihak Amerika Serikat. Hal ini terlihat dari partisipasi Indonesia dalam Board of Peace (BOP) bersama AS dan Israel. Dian menganggap bahwa langkah ini bisa memicu ketidakpuasan dari Iran, karena mereka mungkin merasa bahwa Indonesia tidak netral dalam konflik tersebut.
Ia juga menyebutkan bahwa hubungan diplomatik antara Indonesia dan Israel sangat minim. Bahkan, saat ia pernah ditugaskan untuk menjadi penengah antara Palestina dan Israel, pihak Israel justru kaget dengan inisiatif Indonesia. Mereka meminta agar Indonesia mengakui Israel sebelum bisa menjadi mediator. Namun, jawaban dari pihak Indonesia adalah bahwa konstituen mereka mayoritas Muslim, yang belum sepenuhnya menerima pengakuan terhadap Israel.
Pengalaman Pribadi dalam Mediasi
Dian bercerita bahwa ia pernah ditugaskan untuk menjadi penengah antara Palestina dan Israel di Jenewa pada awal tahun 2000-an. Ia mengatur pertemuan antara Indonesia dan Israel di tingkat menteri luar negeri. Namun, hasilnya tidak begitu memuaskan, karena Israel tidak percaya kepada Indonesia akibat ketidakterbukaan negara ini dalam hal pengakuan diplomatik.
“Jawaban menteri kita lucunya waktu itu adalah ‘ya karena konstituen kami islam, walaupun moderat belum bisa menerima adanya pengakuan terhadap Israel’. Dijawab oleh menteri Israel ‘kalau Indonesia punya konstituen, kami juga punya konstituen. Bagaimana kami mempertanggungjawabkan konstituen kami bahwa kami menerima mandat kepada Indonesia yang tidak mengakui’,” ujarnya.
Kritik terhadap Kesiapan Presiden Prabowo Subianto
Meskipun Presiden Prabowo Subianto menyatakan siap menjadi mediator dalam konflik Iran-AS-Israel, Dian menyarankan agar presiden lebih fokus pada isu-isu dalam negeri. Menurutnya, masih banyak masalah domestik yang perlu diselesaikan sebelum Indonesia mencoba terlibat dalam konflik internasional.
“Maaf, dengan segala hormat bapak presiden, lebih baik fokus pada keadaan dalam negeri. Masih banyak pr yang harus dikerjakan,” imbuh Dian.
Tantangan dalam Berdiplomasi
Dian menekankan bahwa diplomasi internasional membutuhkan keseimbangan dan pengakuan dari semua pihak yang terlibat. Tanpa pengakuan diplomatik yang kuat, upaya mediasi akan sulit dilakukan. Selain itu, kebijakan luar negeri Indonesia yang dianggap condong ke AS juga bisa menjadi hambatan dalam proses perdamaian.
Pernyataan Presiden Prabowo Subianto untuk terbang ke Teheran guna memfasilitasi dialog antara Iran dan AS telah mendapat berbagai respons. Namun, menurut Dian, Indonesia masih perlu memperkuat posisi diplomasi dan hubungan dengan negara-negara yang terlibat dalam konflik sebelum bisa menjadi mediator yang efektif.






