Perang antara Iran dan Amerika Serikat: Kekhawatiran akan Terjadinya Konflik
Perang antara Iran dan Amerika Serikat dikhawatirkan akan segera pecah jika negosiasi yang dilakukan di Jenewa tidak menghasilkan solusi yang positif. Banyak pihak menantikan hasil dari perundingan ini, terutama bangsa-bangsa di kawasan Timur Tengah. Mereka bertanya-tanya apakah negosiasi tersebut akan membawa kedamaian atau justru memicu peperangan yang dahsyat.
Presiden RI ke-6, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), menyadari bahwa Jendera bisa menjadi saksi sejarah. Ia percaya bahwa perundingan ini dapat melahirkan perubahan besar yang berdampak pada perkembangan dunia. Dalam sebuah cuitannya di X, ia mengungkapkan bahwa banyak kalangan sedang menantikan hasil negosiasi tersebut. Sukses atau gagal? Apakah akan membawa kedamaian atau sebaliknya?
Negosiasi yang menyangkut masa depan proyek nuklir Iran sangat rumit. Tidak mudah untuk menciptakan opsi yang bisa diterima oleh kedua belah pihak. Kepentingan masing-masing negara sangat berbeda. Para juru runding juga harus cerdas dalam membaca pikiran para pemimpin mereka, Presiden Trump dan Ayatullah Khamenei.
Menurut SBY, membangun “harmoni” antara juru runding dengan para bosnya bukanlah hal yang mudah. Dalam resolusi konflik, baik pada tingkat nasional maupun internasional, negosiasi sangat melelahkan. Membutuhkan kesabaran, kecerdasan, dan keuletan. Siap untuk berkompromi serta bersedia untuk “take and give”. Keinginan dan sasaran yang digariskan oleh kedua pemimpin negara juga harus sangat dimengerti.
Khusus untuk negosiasi antara Amerika dan Iran, SBY mengamati bahwa kedua pemimpin, Donald Trump dan Ali Khamenei, memiliki “uniqueness”. Keduanya memiliki ego, ambisi, dan juga “personal interest”. Trump khawatir reputasi dan “legacy” yang ingin diraih bisa hancur jika negosiasi gagal. Sebaliknya, Ali Khamenei juga khawatir jika sengketa dengan Amerika berakhir buruk.
Bisa saja pergantian rezim terjadi, dan “he must go”. Ini merupakan “survival interest” bagi pemimpin Iran. Banyak pihak memprediksi bahwa jika negosiasi gagal, maka perang besar akan segera meletus. Kondisi sudah matang, tinggal menunggu komando dari Trump dan Khamenei.
Namun, SBY berpendapat bahwa terjadinya perang yang seolah diniscayakan itu bisa “iya”, bisa “tidak”. Apalagi jika para jenderal di kedua belah pihak terus mengawal pengambilan keputusan para pemimpinnya. Trump dan Khamenei tidak akan gegabah dalam memerintahkan tentaranya untuk berperang. Terlalu tinggi risiko dan harga yang harus mereka bayar jika keputusannya salah.
Menurut politikus Partai Demokrat ini, ada catatan penting bagi seorang “commander-in-chief” untuk mengambil jalan perang guna memenuhi kepentingan nasionalnya. Pertama, apakah perang itu harus dilaksanakan atau masih ada opsi lain? Ini sering disebut sebagai “war of necessity” dan “war of choice”. Pada akhirnya, kedua belah pihak akan menentukan apakah berperang atau menempuh jalan lain.
Kedua, negara siap berperang jika kalkulasi rasionalnya menjamin bahwa perang dapat dimenangkan. Baik Trump maupun Khamenei harus bisa meyakinkan dirinya sendiri bahwa perang yang dipilih memang akan bisa dimenangkan. Karena perang terkait dengan nasib dan masa depan rakyat yang dipimpinnya.
Pertimbangan dan saran para jenderal dan petinggi militer juga mesti diindahkan, jangan terkubur dengan ego pemimpin yang terlalu tinggi. SBY memperingatkan, bagi Amerika yang sesumbar untuk menghancurkan Iran, perlu dipikirkan dalam-dalam sebelum mengambil keputusan untuk berperang.
Maksudnya, jangan-jangan bagi Amerika menang perang sulit dicapai, kemudian “exit” atau mengakhiri peperangan juga tidak mudah dilakukan. Ingat kembali pengalaman pahit ketika melakukan peperangan di Vietnam, Irak, dan Afghanistan. Ingat, Iran adalah Iran. Iran bukan Irak dan bukan Afghanistan.
SBY pun berpesan bukan hanya untuk Presiden Trump dan Ayatullah Khamenei, tetapi juga untuk seluruh pemimpin politik di dunia yang di tangannya ada tombol untuk memulai peperangan. Para perwira dan prajurit juga punya jiwa, keyakinan, akal sehat, dan harapan. Kalau soal berkorban untuk nusa dan bangsa, tentara selalu siap mengorbankan jiwa dan raganya.
Hal itu tidak perlu diragukan. Selama 30 tahun ia mengabdi di dunia militer, lima tahun pernah bertempur untuk Sang Merah Putih. Namun, sukses sebuah peperangan juga ditentukan oleh apa yang ada dalam hati dan pikiran para prajurit.
Ada kalimat indah yang mesti diingat oleh para pemimpin politik – presiden atau perdana menteri – “Soldiers will not fight and die, unless they know what they fight and die for” (Prajurit tidak bertempur dan siap untuk mati, kecuali mereka tahu untuk apa mereka bertempur dan mati).







