Kinerja Keuangan Empat Bank BUMN pada Tahun 2025
Empat bank milik pemerintah atau yang dikenal dengan Himbara (Himpunan Bank Milik Negara) mencatatkan total laba bersih sebesar Rp 136,93 triliun selama tahun 2025. Angka ini mengalami penurunan sebesar 2,5% dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai Rp 140,56 triliun.
Dari keempat bank tersebut, dua di antaranya mengalami penurunan laba bersih. Dua bank lainnya berhasil mencatatkan kenaikan laba bersih. Penyebab utama penurunan laba bersih adalah meningkatnya biaya pencadangan atau impairment yang cukup signifikan.
Penurunan Laba Bersih pada Beberapa Bank
PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) dan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) menjadi dua bank yang mencatatkan penurunan laba bersih pada tahun lalu. Untuk BBRI, laba bersih turun menjadi Rp 57,13 triliun dari Rp 60,30 triliun pada tahun sebelumnya. Sementara itu, laba bersih BBNI turun menjadi Rp 20 triliun dari Rp 21,46 triliun.
Penyebab utama penurunan laba bersih BBRI adalah naiknya biaya pencadangan (impairment) sebesar 20,8% menjadi Rp 46,09 triliun. Di sisi lain, biaya pencadangan BBNI juga meningkat sebesar 27,52% YoY, dari Rp 7,78 triliun menjadi Rp 9,92 triliun hingga akhir 2025.
Kenaikan Laba Bersih pada Dua Bank Lainnya
Sementara itu, dua bank lainnya yaitu PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) dan PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) berhasil mencatatkan kenaikan laba bersih. BMRI mencatatkan laba konsolidasi sebesar Rp 56,3 triliun, naik dari Rp 55,8 triliun pada tahun sebelumnya. Sementara itu, BBTN mencatatkan laba bersih konsolidasi sebesar Rp 3,5 triliun, naik 16,4% dibandingkan periode yang sama tahun 2024.
Peningkatan Penyaluran Kredit
Meskipun beberapa bank mengalami penurunan laba bersih, penyaluran kredit keempat bank Himbara mencatatkan peningkatan yang signifikan. Total penyaluran kredit empat bank Himbara mencapai Rp 4.715,57 triliun pada 2025, meningkat dari Rp 4.159,05 triliun pada 2024.
Berikut rincian kinerja keuangan masing-masing bank:
Laba Bersih BBRI
Laba bersih BBRI turun menjadi Rp 57,13 triliun pada tahun 2025. Penurunan terjadi karena naiknya biaya pencadangan (impairment) sebesar 20,8% menjadi Rp 46,09 triliun. Penyaluran kredit BRI secara konsolidasian mencapai Rp 1.521 triliun, tumbuh 11,98% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Laba Bersih BMRI
Laba konsolidasi BMRI mencapai Rp 56,3 triliun hingga kuartal keempat 2025, naik dari Rp 55,8 triliun pada tahun sebelumnya. Penyaluran kredit konsolidasi Bank Mandiri mencapai Rp 1.894,98 triliun, tumbuh 13,4% secara tahunan.
Laba Bersih BBNI
BNI membukukan laba bersih konsolidasi sebesar Rp 20 triliun sepanjang 2025. Pertumbuhan kredit sebesar 15,9% YoY sepenuhnya didanai oleh dana murah dengan pertumbuhan CASA sebesar 28,9% YoY.
Laba Bersih BBTN
BTN membukukan laba bersih konsolidasi sebesar Rp 3,5 triliun tahun buku 2025. Capaian laba bersih BTN ditopang dari pendapatan bunga yang naik 23% YoY menjadi Rp 36,33 triliun hingga akhir 2025.
Analisis Kualitas Aset dan Pendanaan
Kualitas aset dan pendanaan dari masing-masing bank juga menjadi faktor penting dalam menilai kinerja keuangan mereka. Misalnya, NPL gross BRI tercatat sebesar 3,29%, meningkat dari 2,94%. Sementara itu, NPL net BRI berada di level 0,96%.
Di sisi lain, Bank Mandiri mencatatkan rasio kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) gross sebesar 0,96% dengan coverage ratio yang tetap solid di level 253%. Dana Pihak Ketiga (DPK) Bank Mandiri tumbuh 23,9% YoY menjadi Rp 2.105 triliun.
Kesimpulan
Secara keseluruhan, kinerja keuangan empat bank BUMN pada tahun 2025 menunjukkan perubahan yang cukup signifikan. Meski beberapa bank mengalami penurunan laba bersih, penyaluran kredit tetap tumbuh dan kualitas aset serta pendanaan terjaga. Hal ini menunjukkan bahwa bank-bank tersebut masih mampu menjaga stabilitas operasional meskipun menghadapi tantangan ekonomi global.







