Serangan Besar-besaran terhadap Iran
Pada malam hari Sabtu (28/2/2026), Iran dilaporkan mengalami serangan besar-besaran yang diduga dilakukan oleh Amerika Serikat dan Israel. Presiden AS Donald Trump mengklaim bahwa militer negara tersebut sedang menjalankan operasi tempur besar-besaran, sementara ia meminta pasukan pemerintah Iran untuk meletakkan senjata mereka.
Sebelumnya, menteri pertahanan Israel menyatakan bahwa negaranya telah melancarkan serangan awal terhadap Iran, sehingga memicu sejumlah ledakan. Ketegangan bersejata ini terjadi setelah berminggu-minggu ancaman dan negosiasi terkait program nuklir Iran.
Ledakan di Berbagai Wilayah
Tak lama setelah pukul 09:30 waktu Iran (06:00 GMT), media setempat melaporkan ledakan di Teheran. Menurut BBC, terlihat asap di atas Lapangan Jomhouri dan Lapangan Hassan Abad di kota itu. Ledakan juga dilaporkan terdengar di beberapa kota lain di seluruh negeri, termasuk Isfahan, Qom, Karaj, dan Kermanshah.
Video yang beredar di media sosial menunjukkan orang-orang di dekat lokasi ledakan berlari panik. Suara jeritan dan tangisan terdengar di latar belakang. Korban jiwa atau luka-luka belum diketahui saat ini, tetapi seorang pejabat setempat mengatakan kepada media pemerintah bahwa setidaknya 53 orang tewas dalam serangan Israel terhadap sebuah sekolah dasar putri di wilayah Minab, Iran selatan.
Wilayah udara Iran telah ditutup sejak serangan tersebut, menurut kantor berita Tasnim. Ada satu video tampak ledakan dalam jarak satu kilometer (0,6 mil) dari Leadership House, kantor Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Namun tidak jelas apakah serangan itu mengenai gedung secara langsung.
Pernyataan Amerika Serikat dan Israel
Trump mengunggah video di Truth Social yang mengkonfirmasi keterlibatan AS. “Belum lama ini, militer Amerika Serikat memulai operasi tempur besar-besaran di Iran,” katanya. Tujuan AS adalah untuk membela rakyat Amerika dengan menghilangkan ancaman nyata dari rezim Iran. Ia juga meminta rakyat Iran untuk tetap berlindung dan tidak meninggalkan rumah mereka.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu juga menyerukan kepada seluruh rakyat Iran untuk melepaskan diri dari belenggu tirani dan mewujudkan Iran yang bebas dan damai. Ia juga menyarankan warga Israel untuk mengikuti arahan dari pihak berwenang.
Tanggapan Iran
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyebut serangan gabungan itu sama sekali tidak beralasan, ilegal, dan tidak sah. Ia menulis di X bahwa Trump telah mengubah “Amerika Pertama” menjadi “Israel Pertama” – yang selalu berarti “Amerika Terakhir”. Sebelumnya, ia mengatakan Iran akan menggunakan seluruh kemampuan pertahanan dan militernya berdasarkan hak membela diri yang sah untuk melindungi dirinya sendiri.
Reaksi Dunia
Kepala Hak Asasi Manusia PBB, Volker Türk, menyerukan pengekangan dan memohon kepada semua pihak untuk berpikir rasional, meredakan ketegangan, dan kembali berunding. Diplomat tertinggi Uni Eropa, Kaja Kallas, menyebut perkembangan terbaru ini “berbahaya”. Ia menekankan perlindungan warga sipil dan hukum humaniter internasional sebagai prioritas.
Reaksi dari berbagai negara seperti Inggris, Jerman, Prancis, Italia, Australia, dan Rusia juga tercatat. Semua pihak mengecam tindakan AS-Israel dan menyerukan penyelesaian diplomatik serta penghentian eskalasi konflik.
Situasi di Wilayah Lain
Di tempat lain di kawasan, kantor berita negara Bahrain melaporkan bahwa pusat layanan Armada ke-5 Angkatan Laut AS, yang berada di Bahrain, telah menjadi sasaran serangan rudal. Sementara itu, kementerian pertahanan Qatar mengatakan pihaknya berhasil menangkis sejumlah serangan yang menargetkan wilayah negara itu.
Warga Israel telah diperingatkan untuk tidak berkumpul dan pergi ke sekolah serta bekerja kecuali jika sangat penting. Pedoman ini berlaku hingga Senin pukul 20:00, kata pihak berwenang. Wilayah udara Israel juga ditutup untuk penerbangan sipil.
Kesimpulan
Serangan besar-besaran terhadap Iran oleh AS dan Israel memicu reaksi global yang mengecam tindakan tersebut. Dalam situasi yang semakin memanas, upaya diplomasi dan penyelesaian konflik menjadi prioritas utama bagi komunitas internasional.







