Pentingnya Memahami Lailatul Qadar dalam Bulan Ramadan
Bulan suci Ramadan telah memasuki separuh perjalanan, dan bagi umat Muslim, ini menjadi momen penting untuk lebih memperhatikan ibadah dan amal kebaikan. Keseriusan dalam menjalani puasa tidak hanya terbatas pada menahan lapar dan dahaga, tetapi juga melibatkan ketaatan kepada Allah SWT dengan menjalankan berbagai bentuk ibadah yang dianjurkan.
Salah satu bentuk ibadah yang sering dilakukan adalah mendengarkan kultum atau ceramah. Kultum biasanya disampaikan oleh para pendakwah, ustaz, atau tokoh masyarakat, dan sering kali diadakan sebelum salat tarawih. Selama bulan Ramadan, kita dapat menemukan sesi kultum di berbagai tempat seperti masjid, mushola, bahkan melalui tayangan media online seperti YouTube atau TV.
Berikut ini adalah naskah kultum Ramadhan yang bisa digunakan sebagai panduan dalam menjalani puasa hari ke-15 tahun 2026, dengan tema “Lailatul Qadar dan Misteri Dibaliknya”.
Naskah Kultum Ramadhan: “Lailatul Qadar dan Misteri Dibaliknya”
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ.
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ إِلَهُ الْأَوَّلِينَ وَالْآخِرِينَ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ خَاتَمُ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ.
أُوصِيْكُمْ وَإِيَّايَ نَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ فَإِنَّهُ خَيْرُ زَادِ الرَّاحِلِينَ. أَمَّا بَعْدُ.
Jamaah shalat Tarawih yang dirahmati Allah…
Pada malam hari ini, atas karunia dan izin Allah semata, kita memasuki malam ke-22 bulan Ramadhan tahun ini. Malam ini merupakan bagian dari sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan tahun ini. Kita diperintahkan untuk beribadah dengan sungguh-sungguh di dalamnya, demi menggapai kemuliaan Lailatul Qadar.
Allah Ta’ala berfirman, dalam Surat al-Qadr ayat 1—3,
إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ (1) وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ (2) لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ (3)
“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (al-Quran) pada Lailatul Qadar. Tahukah kamu apakah Lailatul Qadar itu? Lailatul Qadar itu lebih baik daripada seribu bulan.”
Sisi Misteri Lailatul Qadar
Jamaah shalat Tarawih yang dirahmati Allah…
Pada malam sebelumnya, kita telah membahas tentang hakikat Lailatul Qadar, atau pengertian Lailatul Qadar, dalam ayat pertama Surat al-Qadr. Dalam ayat kedua surat Al-Qadr, Allah Ta’ala bertanya kepada hamba-hamba-Nya,
وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ
“Tahukah kamu apakah Lailatul Qadar itu?”
Imam Jamaluddin al-Qasimi (w. 1332 H) dalam tafsirnya, Mahâsin at-Ta’wîl, menjelaskan bahwa dalam ayat ini Allah Ta’ala mengajukan sebuah kalimat pertanyaan yang menunjukkan bahwa kemuliaan dan keagungan Lailatul Qadar bukanlah perkara yang mudah untuk diketahui.
Imam Muhammad Thahir bin ‘Asyur at-Tunisi (w. 1393 H) dalam tafsirnya, at-Tahrîr wa at-Tanwîr, menjelaskan bahwa dalam ayat ini Allah Ta’ala menarik perhatian hamba-hamba-Nya dengan mengajukan sebuah kalimat pertanyaan yang mengandung pengertian bahwa mengetahui kapan tepatnya waktu Lailatul Qadar terjadi bukanlah perkara yang mudah, karena malam itu mengandung keagungan-keagungan yang sangat dahsyat.
Dalam tradisi bangsa Arab, pertanyaan dengan bunyi kalimat مَا أَدْرَاكَ merupakan gaya bahasa yang memiliki tujuan ta’zhîm asy-syai’ wa tafkhîmuhu, atau memosisikan sesuatu sebagai perkara yang besar dan penting.
Maka makna ayat tersebut adalah, perkara apa yang membuatmu bisa mengenali sebuah malam sebagai Lailatul Qadar yang sebenarnya? Dalam pengertian yang lain, sulit bagimu untuk menentukan secara tepat dan pasti kapan waktunya Lailatul Qadar dan betapa besarnya keagungan Lailatul Qadar tersebut.
Penjelasan Hadits tentang Lailatul Qadar
Jamaah shalat Tarawih yang dirahmati Allah…
Penjelasan dua ulama tafsir di atas, Imam Jamaluddin al-Qasimi ad-Dimasyqi dan Muhammad Thahir bin Asyur at-Tunisi, selaras dengan penjelasan para ulama hadits terhadap hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
مَنْ يَقُمْ لَيْلَةَ الْقَدْرِ، إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا، غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
“Barang siapa sedang melakukan shalat malam (Tarawih dan Witir) pada Lailatul Qadar, niscaya dosa-dosanya yang telah lalu diampuni Allah.” (HR. Al-Bukhari no. 35)
Mari kita perhatikan dengan seksama hadits shahih ini. Dalam hadits ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mempergunakan fi’il mudhari’, yaitu kata kerja yang menunjukkan terjadinya aktifitas pada masa sekarang dan akan datang.
Dalam hal ini adalah kata kerja يَقُمْ , secara harfiah bermakna “sedang melakukan shalat malam” atau “akan melakukan shalat malam”.
Dalam hadits ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak mempergunakan fi’il madhi, yaitu kata kerja yang menunjukkan telah terjadinya aktifitas pada waktu yang telah lampau atau telah lewat. Padahal dalam dua hadits shahih lainnya, beliau selalu menggunakan fi’il madhi, yaitu dalam hadits,
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ، إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا، غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
“Barang siapa telah melakukan shaum Ramadhan …” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Dan dalam hadits,
مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا، غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
“Barang siapa telah melakukan qiyam (shalat Tarawih dan Witir) pada malam Ramadhan …” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Rahasia di Balik Penggunaan Kata Kerja yang Berbeda
Jamaah shalat Tarawih yang dirahmati Allah…
Khusus dalam hadits tentang Lailatul Qadar, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda dengan menggunakan kata kerja yaqum, yang artinya “sedang melakukan shalat malam”, atau “akan melakukan shalat malam”, bukan kata kerja qâma yang artinya “telah melakukan shalat malam”.
Rahasia apakah di balik penggunaan kata kerja yang berbeda tersebut?
Ulama hadits, Imam Syamsuddin al-Kirmani (w. 786 H) dalam al-Kawâkib ad-Darârî fî Syarh Shahîh al-Bukhârî menjelaskan,
لِأَنَّ قِيَامَ رَمَضَانَ وَصِيَامَهُ مُحَقَّقُ الْوُقُوعِ فَجَاءَ بِلَفْظٍ يَدُلُّ عَلَيْهِ بِخِلَافِ قِيَامِ لَيْلَةِ الْقَدْرِ فَإِنَّهُ غَيْرُ مُتَيَقَّنٍ فَلِهَذَا ذَكَرَهُ بِلَفْظِ الْمُسْتَقْبَلِ
“Karena qiyam Ramadhan (shalat Tarawih dan Witir pada malam-malam Ramadhan) dan shaum Ramadhan itu pasti bisa diraih (dilakukan oleh setiap muslim). Maka beliau menyebutkannya dengan lafal yang menunjukkan kepastian (yaitu dengan kata kerja lampau “telah …”).
Berbeda halnya dengan qiyam (melakukan shalat Tarawih dan Witir) pada Lailatul Qadar, itu belum pasti setiap orang bisa mendapatkannya. Oleh karena itu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menggunakan kata kerja dengan bentuk waktu mendatang (yang artinya: sedang atau akan, bukan “telah”).”
Penjelasan Imam al-Kirmani ini dikutip dan disetujui oleh Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathu al-Bârî Syarh Shahîh al-Bukhârî.
Kesimpulan
Jamaah shalat Tarawih yang dirahmati Allah…
Penjelasan dua ulama besar tafsir dan dua ulama besar hadits di atas memiliki satu pengertian yang sama. Yaitu, bahwa setiap kita harus berusaha melakukan amalan-amalan wajib dan amalan-amalan sunah sebaik mungkin pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan.
Tetapi, apakah kita betul-betul, secara yakin 100 persen, akan mendapatkan keagungan Lailatul Qadar adalah perkara yang tidak bisa dipastikan. Boleh jadi kita mendapatkannya. Namun, tidak tertutup kemungkinan kita akan terluput darinya.
Oleh karena itu, yang dituntut dari masing-masing kita adalah berusaha dengan sungguh-sungguh, sembari terus berdoa dan memohon kepada karunia Allah Ta’ala. Namun, jangan pernah sekali-kali membangga-banggakan atau mengklaim telah sukses meraih Lailatul Qadar. Wallahu a’lam bish-shawab.
Demikian materi kultum Ramadhan dengan tema mengungkap misteri Lailatul Qadar. Semoga kita termasuk hamba-hamba Allah yang mendapatkan berkah Lailatul Qadar. Amiin.







