Rudal Tomahawk: Senjata Kunci dalam Operasi Militer Amerika Serikat
Rudal jelajah jarak jauh Tomahawk milik Amerika Serikat kembali menjadi sorotan sebagai salah satu senjata utama dalam operasi militer terkini. Dalam operasi Epic Fury, rudal ini dianggap sebagai “anak emas” militer AS karena kemampuannya menyerang target hingga jarak 2500 km dengan akurasi yang sangat presisi. Dengan cara ini, militer tidak perlu mengirim pesawat tempur berawak masuk ke wilayah yang dilindungi pertahanan udara musuh.
Kekuatan rudal Tomahawk membuat Ukraina rela melobi AS bertahun-tahun untuk mendapatkan senjata ini. Namun, pada masa pemerintahan Presiden Trump, Ukraina dinilai terlalu dini untuk menerima rudal tersebut.
Mengapa Rudal Tomahawk Dianggap Berbahaya?
Rudal Tomahawk AS dikenal sebagai senjata serangan jarak jauh yang dapat menjangkau hingga 1500 sampai 2500 km. Keunggulan ini memungkinkan serangan standoff, yaitu menembak dari jarak yang relatif aman, bahkan bisa diluncurkan dari kapal perang atau kapal selam. Hal ini memberikan keuntungan strategis bagi AS karena mereka bisa memiliki berbagai opsi perang tanpa terhalang oleh kondisi geografi.
Penggunaan rudal Tomahawk juga menciptakan kekhawatiran bagi Rusia. Jika suatu saat AS mengirimkan rudal ini ke Ukraina, maka Ukraina akan mampu menyerang jauh ke dalam wilayah Rusia, termasuk pangkalan militer, pusat logistik, lapangan udara, hingga markas komando yang selama ini berada di luar jangkauan sistem senjata Ukraina.
Spesifikasi dan Fungsi Rudal Tomahawk
Rudal Tomahawk memiliki panjang sekitar 6,1 meter, dengan bentang sayap sekitar 2,6 meter, serta bobot sekitar 1.510 kilogram. Ukuran yang lumayan besar ini menunjukkan bahwa rudal ini dirancang sebagai senjata untuk melumpuhkan infrastruktur vital lawan, bukan sekadar untuk memecah konsentrasi musuh.
Oleh karena itu, rudal Tomahawk sering digunakan untuk menyerang fasilitas komando, sistem pertahanan, gudang amunisi atau logistik. Jika infrastruktur ini lumpuh, maka operasi lawan akan terganggu secara lebih cepat.
Ketajaman akurasi serangan rudal Tomahawk didukung oleh sistem pemandu yang canggih. Teknologi radar seperti navigasi inersia, GPS, dan pemetaan medan (radar altimeter) membantu rudal menyesuaikan rute secara presisi hingga mencapai sasaran yang telah ditetapkan.
Biaya produksi rudal ini juga cukup tinggi. Setiap unit rudal Tomahawk yang diproduksi oleh Raytheon, anak perusahaan RTX, memerlukan biaya antara 1,3 hingga 2,5 juta USD.
Sejarah Penggunaan Rudal Tomahawk
Rudal Tomahawk telah digunakan dalam berbagai operasi militer sejak tahun 1991. Beberapa contoh penggunaan pentingnya adalah:
- 17 Januari 1991: Amerika Serikat dan koalisi melancarkan Operation Desert Storm melawan Irak dalam Perang Teluk menggunakan rudal Tomahawk.
- 17 Januari 1993 dan 26 Juni 1993: Amerika Serikat menembakkan Tomahawk ke target di Irak, termasuk fasilitas militer dan markas intelijen di Baghdad.
- 10 September 1995: Rudal Tomahawk digunakan oleh NATO dalam Operation Deliberate Force melawan pasukan Serbia Bosnia di Bosnia.
- 3 September 1996: Tomahawk kembali digunakan terhadap target pertahanan udara di Irak dalam Operation Desert Strike.
- 20 Agustus 1998: Amerika Serikat menembakkan rudal Tomahawk ke target yang diduga milik Al-Qaeda di Afghanistan dan Sudan dalam Operation Infinite Reach.
- 16 Desember 1998: Rudal ini kembali digunakan terhadap Irak dalam Operation Desert Fox.
- Tahun 1999: Tomahawk juga digunakan oleh NATO selama pengeboman Yugoslavia yang menargetkan wilayah Serbia dan Montenegro.
- 7 Oktober 2001: Rudal Tomahawk digunakan dalam serangan awal perang melawan Taliban dan Al-Qaeda di Afghanistan setelah serangan 11 September.
- 2003: Ratusan rudal Tomahawk diluncurkan untuk menyerang berbagai target militer dalam invasi Irak.
- 2008 hingga 2026: Rudal Tomahawk masih sering digunakan dalam berbagai operasi militer, termasuk serangan terhadap militan di Somalia, Yaman, Suriah, dan lainnya.
- 2017: Amerika Serikat meluncurkan 59 rudal Tomahawk dari kapal perang di Laut Mediterania untuk menghancurkan pangkalan udara Shayrat di Suriah sebagai respons atas dugaan serangan senjata kimia.
- 2018: Amerika Serikat bersama Inggris dan Prancis menembakkan lebih dari 100 rudal (termasuk Tomahawk) ke beberapa fasilitas senjata kimia di Suriah.
- 2019: Amerika Serikat menggunakan rudal Tomahawk dari kapal selam untuk menyerang target ISIS di Suriah.
- 2024: Amerika Serikat dan Inggris menembakkan rudal Tomahawk ke posisi pemberontak Houthi di Yaman sebagai respons terhadap serangan terhadap kapal dagang di Laut Merah.
- 2025: Amerika Serikat menggunakan Tomahawk untuk menyerang target ISIS di Nigeria dan meluncurkan sejumlah besar rudal terhadap kelompok Houthi di Yaman.
- 2026: Tomahawk masih menjadi salah satu senjata utama serangan presisi jarak jauh militer Amerika Serikat. Stok rudal ini dilaporkan menurun, sehingga produksi meningkat hingga lebih dari 1.000 rudal per tahun untuk memenuhi kebutuhan militer.







