Tegangnya Hubungan Iran dan Amerika Serikat Mengancam Stabilitas Pasar Energi Global
Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat terus meningkat, menciptakan ketidakpastian di pasar energi global. Konflik yang melibatkan pihak-pihak lain seperti Israel juga memicu kekhawatiran baru mengenai stabilitas pasokan minyak dunia. Situasi ini menyebabkan harga minyak melonjak tajam dalam beberapa hari terakhir, menunjukkan dampak langsung dari ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah.
Pemerintah AS Pertimbangkan Langkah Darurat untuk Menstabilkan Pasar
Pemerintah Amerika Serikat kini sedang mempertimbangkan langkah darurat untuk menstabilkan pasar energi yang sedang mengalami tekanan berat. Salah satu opsi yang dipertimbangkan adalah mencabut sebagian sanksi terhadap minyak dari Rusia. Langkah ini dinilai dapat membantu menambah pasokan energi global yang saat ini terganggu akibat konflik geopolitik.
Menteri Keuangan Amerika Serikat, Scott Bessent, mengungkapkan bahwa pemerintah sedang menimbang kemungkinan tersebut. Ia menyatakan bahwa masih ada ratusan juta barel minyak mentah Rusia yang tidak dapat dipasarkan karena terkena sanksi internasional. “Kami mungkin akan mencabut sanksi terhadap perusahaan minyak Rusia lainnya,” ujarnya dalam wawancara dengan Fox Business.
Menurut Bessent, jika sebagian pembatasan tersebut dicabut, minyak yang saat ini tertahan di laut berpotensi segera masuk ke pasar global. “Dengan mencabut sanksi tersebut, Departemen Keuangan dapat menciptakan tambahan pasokan minyak,” katanya.
Namun, pemerintah AS menegaskan bahwa langkah ini tidak berarti melonggarkan tekanan terhadap Rusia secara keseluruhan. Sanksi terhadap Rusia sebelumnya diberlakukan oleh negara-negara Barat setelah konflik antara Rusia dan Ukraina meletus dan memicu krisis geopolitik berkepanjangan.
Lonjakan Harga Minyak Akibat Ketegangan di Timur Tengah
Konflik militer antara Amerika Serikat dan Iran juga berdampak langsung terhadap stabilitas pasar energi dunia. Serangan militer serta balasan dari Teheran di kawasan Teluk membuat sektor transportasi dan energi global mengalami gangguan serius.
Aktivitas pelayaran di Selat Hormuz hampir terhenti akibat ketegangan tersebut. Selat Hormuz merupakan jalur pengiriman energi yang sangat penting bagi dunia, dengan sekitar 20 persen konsumsi minyak global setiap hari melewati jalur laut ini. Ketika jalur tersebut terganggu, pasokan energi global langsung terdampak dan memicu lonjakan harga.
Data pasar menunjukkan harga minyak mentah naik sekitar 8,5 persen dalam satu hari dan hampir 30 persen sepanjang pekan terakhir. Lonjakan harga tersebut terjadi setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa konflik di Timur Tengah hanya akan berakhir jika Iran melakukan “penyerahan tanpa syarat”.
India Diizinkan Membeli Minyak Rusia
Sebelumnya, pada Kamis (5/3/2026), pemerintah Amerika Serikat juga mengambil langkah sementara dengan melonggarkan sebagian sanksi energi. Washington mengizinkan India membeli minyak Rusia yang saat ini tertahan di laut. “Departemen Keuangan setuju untuk mengizinkan sekutu kami di India mulai membeli minyak Rusia yang sudah berada di perairan,” kata Bessent.
Ia menjelaskan bahwa langkah tersebut diambil untuk mengurangi tekanan pada pasar energi global yang sedang mengalami kekurangan pasokan. Menurutnya, izin tersebut hanya bersifat sementara dan tidak akan memberikan keuntungan finansial besar bagi pemerintah Rusia. Dalam unggahannya di platform X, Bessent juga menyebut langkah tersebut hanya berlaku untuk minyak yang sudah berada di laut dan tidak membuka kontrak baru.
Dampak Global Konflik Iran
Ketegangan yang terjadi di Timur Tengah kini tidak hanya berdampak pada kawasan tersebut, tetapi juga pada perekonomian global. Lonjakan harga minyak membuat banyak negara mulai khawatir terhadap potensi krisis energi baru. Sementara itu, penasihat ekonomi Kremlin Kirill Dmitriev mengatakan pihaknya sedang membahas isu tersebut dengan Amerika Serikat.
Dalam pernyataannya di media sosial X, Dmitriev menyebut sanksi Barat selama ini justru merugikan ekonomi global. Izin pembelian minyak Rusia oleh India akan berlaku hingga 3 April 2026. Para analis menilai kebijakan tersebut menunjukkan bahwa konflik Iran telah memberikan tekanan besar terhadap pasar energi dunia. Jika ketegangan terus meningkat, harga minyak global diperkirakan akan semakin bergejolak dalam beberapa waktu ke depan.







