Peran Air dalam Kehidupuan dan Bencana
Air adalah sumber kehidupan yang memiliki peran penting dalam berbagai aspek kehidupuan manusia. Dalam konteks lingkungan, air tidak hanya menjadi pelarut universal, tetapi juga menjadi pembentuk peradaban. Namun, hubungan kita dengan air di Indonesia kini diwarnai ambivalensi: di satu sisi kita mendapatkan manfaat, di sisi lain kita dilanda musibah, mulai dari kekeringan ekstrem yang melumpuhkan pertanian, hingga banjir bandang dan longsor yang merenggut nyawa dan harta.
Presiden Prabowo Subianto mengajak masyarakat untuk memanusiakan air, bukan hanya sebagai sumber daya pasif yang bebas dieksploitasi, tetapi sebagai entitas yang memiliki hak, yang harus dihormati dan dikelola dengan bijaksana. Filosofi ini menuntut kita untuk mengubah pandangan tersebut, sehingga kita dapat ikut membantu memanusiakan air dengan terlebih dahulu mengenalnya.
Sifat Fisika-Kimia yang Unik
Air (H2O) memiliki sifat fisika-kimia yang unik, menjadikannya ‘jantung’ bumi. Adanya ikatan hidrogen yang kuat antara atom Hidrogen dan Oksigen di antara molekul air atau molekul lain, membuat air adalah pelarut universal, yang berarti ia mampu membawa dan mentransfer nutrisi (sekaligus polutan) ke seluruh ekosistem. Kandungan air yang tinggi pada manusia (50-75 persen) menunjukkan bahwa tubuh manusia sendiri adalah bagian intrinsik dari siklus air. Kekurangan sedikit air (dehidrasi 1-2 persen) sudah dapat menurunkan fungsi kognitif dan fisik. Oleh karena itu, manusia memerlukan hingga 2 liter air masuk ke tubuhnya setiap harinya.
Adanya ikatan hidrogen yang kuat juga membuat air memiliki sifat yang paling vital dalam konteks bencana yaitu daya kapilaritas. Ikatan hidrogen yang kuat pada air menyebabkan sifat kohesi (tarik menarik dengan molekul lain) dan adhesi (tertariknya air pada permukaan polar lainnya) semakin kuat. Sifat keduanya inilah yang mengakibatkan daya alir air sangat kuat jika tidak ditahan dengan permukaan polar lainnya seperti akar selulosa xilem pada tumbuhan. Daya kapilaritas memungkinkan air bergerak ke atas (melawan gravitasi) melalui pori-pori tanah dan tumbuhan (melalui akarnya), menjadikan hutan menjadi “spons” raksasa. Mekanisme alami ini kita sebut sebagai contoh osmosis. Namun, saat vegetasi dan resapan dihancurkan, sifat “spons” atau penyerap air unik ini hilang.
Kekayaan Sumber Air Indonesia
Sebagai negara kepulauan, Indonesia diberkahi dengan tiga sumber air utama yang saling terhubung dalam siklus hidrologi, yaitu:
- Air Hujan merupakan sumber utama yang harus diserap oleh lahan.
- Air Permukaan, seperti sungai, danau, dan rawa yang mengalir dari hulu ke hilir.
- Air Tanah (Akuifer): Cadangan air bawah tanah yang terbentuk dari proses resapan air hujan bertahun-tahun. Salah satunya air pegunungan. Jadi, air yang disebutkan oleh PT. Tirta Investama air tanah itu merupakan air pegunungan bukan air permukaan.
Keseimbangan tiga sumber ini sangat rapuh. Jika air hujan tidak dapat diresap (karena urbanisasi), cadangan air tanah menipis (kekeringan), dan air permukaan meluap (banjir).
Di Indonesia, payung hukum seperti UU No. 17 Tahun 2019 tentang Sumber Daya Air menegaskan bahwa air adalah hak asasi manusia dan harus dikelola demi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Inti dari regulasi ini adalah hak dan kewajiban bahwa masyarakat berhak atas air, namun memiliki kewajiban untuk menjaga kelestarian sumber air, daerah resapan, dan kualitas air. Regulasi ini secara eksplisit melarang kegiatan yang dapat merusak fungsi konservasi sumber daya air, termasuk pembuangan limbah tanpa izin dan perusakan kawasan lindung. Pelanggaran terhadap regulasi ini adalah pelanggaran terhadap “hak hidup” air itu sendiri.
Manusiakan Air: Etika di Atas Kepentingan Eksploitasi
Memanusiakan air berarti mengutamakan pertimbangan etika daripada kepentingan eksploitasi jangka pendek. Air yang kita gunakan hari ini adalah air yang sama yang harus diwariskan. Etika Air menuntut kita untuk:
- Konservatif: menggunakan air sesuai kebutuhan dan memastikan ketersediaan air untuk seluruh ekosistem.
- Higienis: tidak mencemari air dengan sampah atau bahan kimia berbahaya.
- Berkelanjutan: menjaga daerah hulu (resapan) dan daerah aliran sungai (DAS) agar siklus hidrologi berjalan sempurna.
Tiga etika air inilah yang dimaksud oleh Presiden untuk diteliti dan diberikan solusi untuk menghindari eksploitasi berlebihan.
Anatomi Bencana Hidrologi
Ketika etika air diabaikan, air akan membalas dengan hukum alamnya sendiri, yaitu menciptakan bencana:
Banjir dan Longsor
Fenomena ini adalah respons langsung terhadap hilangnya daya serap tanah. Deforestasi membuat lapisan tanah penahan air hilang. Air hujan yang turun tidak lagi tertahan dan menyeret massa tanah (longsor), atau mengalir deras sebagai limpasan permukaan (run-off) yang membanjiri dataran rendah. Di perkotaan, masalah diperparah oleh drainase kota yang buruk. Penggunaan beton dan aspal secara masif menutup permukaan tanah, sementara sampah menyumbat parit dan gorong-gorong. Air yang seharusnya mengalir terhenti, mencari jalur baru, dan akhirnya menggenangi pemukiman.Kekeringan dan Krisis Air Bersih
Di musim kemarau, kegagalan dalam memanusiakan air menciptakan krisis air. Penutupan daerah resapan (sumur, biopori) menyebabkan air hujan terbuang sia-sia. Akibatnya, cadangan air di akuifer habis. Penarikan air tanah secara berlebihan yang dilakukan oleh industri atau kawasan padat penduduk mempercepat kekeringan sumur dangkal. Lebih jauh lagi, di kawasan pesisir, penipisan akuifer memicu intrusi air laut, mencemari air tanah dan membuatnya tidak layak minum.
Mengembalikan Air sebagai Kawan
Memanusiakan air membutuhkan tindakan nyata dan kolektif. Solusi harus dilaksanakan dari tingkat individu hingga kebijakan.
Skala Individu dan Rumah Tangga
- Konservasi Air Praktis: Memperbaiki kebocoran pipa, menggunakan kembali air cucian (Greywater) untuk menyiram tanaman, dan mematikan keran saat tidak digunakan.
- Sistem Biopori dan Sumur Resapan: Setiap rumah tangga diwajibkan membuat lubang biopori atau sumur resapan. Biopori adalah investasi kecil dengan dampak besar, mengembalikan air ke tanah dan mengurangi beban drainase kota.
- Pemanenan Air Hujan (Rain Harvesting): Memasang sistem penampungan air hujan sederhana di rumah untuk digunakan pada keperluan non-minum.
Skala Komunal dan Kebijakan
Menanggapi perintah Presiden Prabowo, maka perlu kiranya kajian strategis dari PT sebagai solusi kebijakan ‘memanusiakan air’ kembali, yaitu:
1. Rehabilitasi Lahan Kritis: Pemerintah dan masyarakat harus bekerja sama dalam program reforestasi di daerah hulu dan kawasan DAS yang rusak. Penanaman pohon lokal yang memiliki daya serap air tinggi harus menjadi prioritas.
2. Tata Ruang Berbasis Air: Kebijakan tata ruang harus ketat, melarang pembangunan di zona resapan air dan sempadan sungai. Prinsip ini memastikan bahwa fungsi ekologis lahan dipertahankan di atas kepentingan ekonomi jangka pendek.
3. Pengelolaan Sampah Terpadu: Mencegah sampah mencapai badan air adalah langkah pencegahan banjir paling efektif. Gerakan gotong royong dan sistem pengelolaan sampah berbasis komunitas harus diperkuat.
4. Kajian Strategis Perguruan Tinggi (Kebutuhan Infrastruktur Inovatif): Sejalan dengan pandangan strategis, perguruan tinggi dan lembaga penelitian ditantang untuk menggiatkan kajian mendalam mengenai solusi infrastruktur air jangka panjang. Kajian ini difokuskan pada dua isu vital: (a) Studi Kelayakan Diversi Sungai yaitu menganalisis potensi dan risiko pengalihan aliran sungai dari wilayah kelebihan air ke wilayah defisit air, dengan pertimbangan dampak ekologis, sosial, dan ekonomi yang komprehensif. (b) Pembangunan Waduk dan Danau Buatan dengan meneliti lokasi-lokasi strategis untuk membangun reservoir dan embung baru yang berfungsi ganda sebagai penahan air saat musim hujan (pencegah banjir) dan sebagai cadangan saat musim kemarau (pencegah kekeringan).
Keterlibatan akademisi memastikan setiap proyek infrastruktur didasarkan pada data saintifik dan prinsip keberlanjutan.
Filosofi “memanusiakan air” mengajarkan kita bahwa alam tidak pernah meminta ganti rugi, tetapi ia merespons dengan hukumnya sendiri. Banjir, longsor, dan kekeringan adalah bukti bahwa kita telah memperlakukan air sebagai musuh yang harus ditaklukkan, bukan kawan yang harus dihormati. Dengan kembali pada etika air yaitu menjaga sifat uniknya, menghormati regulasinya, dan melakukan tindakan konservasi konkret, maka kita tidak hanya mencegah bencana, tetapi juga menjamin ketersediaan air yang berkelanjutan untuk diri kita dan generasi yang akan datang. Manusiakan air adalah investasi terpenting kita dalam ketahanan nasional dan ekologis. Sekaranglah saatnya bagi setiap individu, komunitas, dan pengambil kebijakan untuk bertindak dan menjadikan air kawan sejati dalam pembangunan bangsa.







