Awal Kecurigaan Ijazah Rismon Sianipar
Ketua Relawan Jokowi Mania (Joman) Andi Azwan mengungkap awal mula kecurigaannya terhadap keaslian ijazah Rismon Sianipar. Kecurigaan ini muncul setelah melihat ijazah Rismon yang ditampilkan di sebuah stasiun televisi tujuh bulan silam. Dari sana, ia mulai memperhatikan beberapa hal yang tidak biasa.
Kejanggalan dalam Ijazah dan Kemampuan Bahasa Jepang
Andi Azwan menyatakan bahwa kecurigaannya semakin kuat setelah menyadari bahwa Rismon tidak mampu berbahasa Jepang meskipun ijazahnya berasal dari Universitas Yamaguchi, Jepang. Menurutnya, penerima beasiswa di Jepang biasanya memiliki kemampuan bahasa Jepang dasar untuk menunjang studi dan kehidupan sehari-hari. Namun, menurut pengamatan Andi, Rismon justru tidak mengerti bahasa Jepang sama sekali.
“Yang lebih menarik ia tidak mengerti Bahasa Jepang sama sekali. Kalau mendapat beasiswa ke Jepang biasanya S2 plus S3. Minimal pasti dia harus bisa Bahasa Jepang yang standar SD N5 atau N4. Bahasa sehari-hari yang harus ia gunakan untuk bersosialisasi. Kenyataannya tidak,” ujarnya.
Dugaan Drop Out dan Pemalsuan Surat Kematian
Selain itu, Andi menduga Rismon pernah mengalami drop out (DO) dari Universitas Yamaguchi. Ia menilai ada indikasi bahwa Rismon tidak menyelesaikan studinya meski tercatat sebagai penerima beasiswa Monbukagakusho dari pemerintah Jepang.
“Diduga dia di-DO di sana,” katanya.
Andi juga menyebut adanya dugaan pemalsuan surat kematian oleh Rismon. Hal ini dilakukan untuk menghindari pembayaran uang pengganti yang diminta pemerintah Jepang. “Ada dugaan karena tidak bisa membayar uang pengganti. Namanya beasiswa kan kalau gagal dalam studi kita harus mengganti uang yang kita terima. Dugaannya membuat surat kematian. Dia terdaftar di Monbukagakusho tapi tidak lulus,” tambahnya.
Kritik terhadap Sikap Rismon
Andi menyoroti sikap Rismon yang kerap mempertanyakan ijazah orang lain. Menurutnya, sebelum mengkritik pihak lain, Rismon sebaiknya memeriksa keaslian ijazahnya sendiri.
“Kalau ingin mengulak-alik ijazah seseorang mustinya kita bertanya kamu punya ijazah tidak. Selama ini publik terkecoh dengan gaya ini. Padahal mereka semua bermasalah,” ujarnya.
Proses Investigasi Terus Berlangsung
Saat ini, Andi menyatakan bahwa pihaknya masih mengumpulkan bukti-bukti untuk memperkuat dugaan tersebut. Ia juga tengah mencari dokumen pembanding dari lulusan Universitas Yamaguchi.
“Kita berkorespondensi teman-teman di Jepang. Ijazah Rismon diduga palsu. Yamaguchi Daigaku Teknik Elektro. Tapi itu tidak ada kita temukan,” jelasnya.
Andi menambahkan bahwa proses pengumpulan bukti masih berlangsung dan pihaknya akan terus menelusuri informasi terkait dugaan tersebut. Ia juga menyebut rencana untuk bertolak ke Jepang dalam waktu dekat untuk mengambil surat-surat penting.
[NAMA GAMBAR 0]
Penelitian di Pangkalan Data Akademik
Lebih lanjut, terkait dugaan ijazah palsu S2 dan S3 milik Rismon Sianipar, Andi menekankan pentingnya penelusuran lebih lanjut. Hal ini karena Rismon pernah menjadi dosen di Universitas Mataram (UNRAM).
Andi mengaku telah melakukan pengecekan di Pangkalan Data Pendidikan Tinggi (PDDikti) hingga CiNii, pangkalan data akademik di Jepang, namun nama Rismon tidak terdaftar sebagai lulusan S2 dan S3 dari Universitas Yamaguchi Jepang.
“Dicek pangkalan data di Jepang CiNii, seluruh alumni dari Jepang itu pasti terdaftar di sana sampai tahun itu sampai sekarang itu terdaftar, itu (Rismon Sianipar) tidak diketemukan untuk itu,” ucapnya.
Laporan ke Polda Metro Jaya
Sebelumnya, Andi Azwan dan sejumlah pihak dari Peradi Bersatu melaporkan Rismon Sianipar ke Polda Metro Jaya. Pelapor, Taufik Bilhaki, menuding ijazah magister (S2) dan doktoral (S3) milik Rismon yang diterbitkan oleh Universitas Yamaguchi adalah palsu.
Kubu Andi Azwan menyebut polisi telah menerima dan siap melanjutkan proses penyelidikan terkait dugaan pemalsuan ijazah oleh Rismon Sianipar ini. Mereka juga telah menyerahkan sejumlah bukti elektronik dan keterangan dari Yamaguchi University Jepang.
Tanggapan Rismon Sianipar
Sebelumnya, Rismon Sianipar membantah keras telah memalsukan ijazah S2 dan S3 dari Yamaguchi University. Ia malah menuding para pelapornya adalah orang-orang pesanan.
“Kalau saya pikir, saya duga menurut keyakinan saya ini atas perintah orang-orang yang merasa terganggu,” ujar Rismon.
Ia menilai bahwa laporan atas ijazahnya dimaksudkan untuk mengganggu konsentrasi maupun stamina. “Dan yang kedua bisa jadi itu pesanan terhadap saya,” katanya.
Rismon juga beralasan bahwa saat ini dirinya sebagai penulis buku Gibran and Game semakin progresif dalam menyebarkan bukunya. “Satu bulan ini sudah laku 5.000 buku dan per hari ini ya itu kita sudah kirimkan 200 buku Gibran and Game Wapres tak lulus SMA ke DPD. Jadi setiap anggota DPD mendapatkan satu. Nah, total anggota DPD 150-an ditambah staf ahli kami total kami bulatkan 200 buku Gibran End Game.”







