Perkembangan Terbaru dalam Negosiasi Iran dan Amerika Serikat
Negosiasi antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang dijadwalkan berlangsung di Pakistan terus menunjukkan tanda-tanda ketidakpastian. Peluang tercapainya kesepakatan antara kedua belah pihak dilaporkan sangat kecil, meskipun beberapa pihak masih optimis bahwa proses ini bisa menghasilkan solusi.
Pertemuan tersebut direncanakan sebagai langkah awal untuk mengakhiri konflik yang telah berlangsung selama bertahun-tahun. Namun, sejumlah pengamat percaya bahwa syarat-syarat yang diajukan oleh masing-masing pihak akan sulit diterima, sehingga memperbesar kemungkinan negosiasi berakhir tanpa hasil.
Syarat yang Diajukan oleh Amerika Serikat
Menurut laporan dari sumber-sumber terpercaya di pemerintahan Israel, AS telah mengajukan 15 syarat kepada Iran jika ingin perang berhenti. Beberapa di antaranya meliputi:
- Penghapusan persediaan uranium yang sangat diperkaya
- Penghentian kegiatan pengayaan uranium
- Pembatasan program rudal balistik Iran
- Penghentian pendanaan kelompok-kelompok sekutu di kawasan
Selain itu, AS juga meminta Iran untuk menghentikan semua aktivitas militer yang dianggap mengancam stabilitas wilayah. Syarat-syarat ini disebutkan memiliki dampak besar terhadap kebijakan luar negeri Iran dan kemampuan militer negara tersebut.
Syarat yang Diajukan oleh Iran
Di sisi lain, Iran juga memberikan lima syarat yang harus dipenuhi AS jika ingin perang berakhir. Beberapa syarat tersebut antara lain:
- Pengakhiran tindakan agresi dan pembunuhan
- Penciptaan kondisi konkret untuk menjamin bahwa perang tidak akan terulang
- Pembayaran ganti rugi perang dengan mekanisme yang jelas
- Penghentian permusuhan sepenuhnya di semua lini yang mencakup semua faksi yang terlibat
- Pengakuan kedaulatan Iran atas Selat Hormuz sebagai hak alami dan sah
Pejabat Iran menegaskan bahwa mereka akan mengakhiri perang sesuai waktu yang mereka tentukan, asalkan syarat-syarat tersebut dipenuhi. Mereka juga menolak ide bahwa Presiden AS Donald Trump dapat memaksakan jadwal tertentu untuk mengakhiri konflik.
Ketidakpastian dan Ancaman Eskalasi
Sebaliknya, Gedung Putih menolak untuk mengungkapkan rincian proposal mereka, yang disampaikan melalui perantara. Namun, mereka tetap mengancam akan meningkatkan serangan ke Iran jika tidak ada kesepakatan yang tercapai.
Juru bicara Gedung Putih Caroline Leavitt menyatakan bahwa jika Iran tidak menyadari bahwa mereka telah dikalahkan secara militer, maka Presiden Trump akan memastikan bahwa Iran dihantam lebih keras dari sebelumnya.
Sementara itu, pejabat pertahanan Israel meragukan kemungkinan Iran menerima syarat-syarat yang diajukan AS. Mereka khawatir bahwa para negosiator AS akan membuat konsesi yang tidak menguntungkan. Israel juga ingin setiap kesepakatan tetap mempertahankan opsi serangan pendahuluan.
Tantangan dalam Proses Negosiasi
Beberapa sumber regional menyebutkan bahwa Iran telah memberi tahu para mediator bahwa Lebanon harus menjadi bagian dari setiap perjanjian gencatan senjata dengan AS dan Israel. Hal ini menunjukkan bahwa Iran ingin melibatkan negara-negara lain dalam proses perdamaian.
Ali Vaez, seorang peneliti yang mengkhususkan diri dalam urusan Iran, percaya bahwa syarat-syarat yang diajukan AS dan Iran dirancang untuk ditolak. Ia menulis dalam sebuah unggahan di X: “Usulan Amerika meminta hal-hal yang telah ditolak oleh Iran… dan usulan Iran meminta hal-hal yang tidak akan diterima oleh Amerika.”
Persiapan Militer dan Ancaman Serangan
Seiring dengan perkembangan negosiasi, Pentagon sedang merencanakan menerbangkan ribuan pasukan ke Teluk untuk memberi Presiden Trump lebih banyak pilihan terkait perintah serangan darat. Dua divisi Korps Marinir sudah dalam perjalanan ke wilayah tersebut.
Unit Marinir pertama diperkirakan akan tiba dengan kapal serbu amfibi besar sekitar akhir bulan ini, Maret 2026. Trump kembali mengancam akan melancarkan serangan dahsyat terhadap Iran kecuali tercapai kesepakatan.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi menegaskan bahwa otoritas tertinggi negara itu sedang meninjau proposal yang diajukan melalui mediator (Pakistan dan Mesir). Ia menambahkan bahwa negaranya tidak menginginkan perang, tetapi menekankan bahwa mereka menginginkan penyelesaian permanen atas konflik tersebut dan kompensasi atas kerusakan yang terjadi.
Sebuah sumber Pakistan mengungkapkan bahwa Iran memberi tahu Islamabad bahwa mereka akan menghubungi mereka untuk menanggapi usulan mengakhiri perang, meskipun beberapa media Iran mengindikasikan bahwa Teheran telah menolak usulan tersebut.
Sumber tersebut menyimpulkan dengan menekankan bahwa Pakistan “belum menerima konfirmasi resmi apa pun dari Iran. Oleh karena itu, Pakistan masih menunggu.”







