Pemerintah Daerah Administratif Khusus Hong Kong (HKSAR) Berkomitmen pada Pengembangan Sektor Budaya
Pemerintah Daerah Administratif Khusus Hong Kong (HKSAR) terus memperkuat pengembangan ekonomi melalui sektor budaya. Salah satu inisiatif utama adalah pembukaan Pusat Seni Pertunjukan WestK pada tahun 2027. Otoritas Distrik Budaya Kowloon Barat (WKCDA) baru-baru ini menandatangani 12 nota kesepahaman baru dengan mitra dari Tiongkok Daratan dan berbagai negara lain.
Penandatanganan ini dilakukan dalam Konferensi Tingkat Tinggi Budaya Internasional Hong Kong (HKICS atau KTT), yang merupakan acara internasional pertama dari rangkaian Pekan Seni Hong Kong 2026. Acara ini diselenggarakan oleh WKCDA dan berlangsung pada 22-23 Maret 2026, sebagai bagian dari persiapan pembukaan WestK Performing Arts Centre pada 2027. Divisi Seni Pertunjukan WestK sedang membentuk aliansi strategis dengan kelompok dan institusi terkemuka untuk memperkuat pengembangan program, pertukaran bakat, dan pelatihan profesional.
Rosanna Law, Sekretaris Kebudayaan, Olahraga, dan Pariwisata Pemerintah Daerah Administratif Khusus Hong Kong (HKSAR), menyampaikan bahwa pemerintah akan secara proaktif menyelaraskan diri dengan Rencana Lima Tahun ke-15 nasional. “Kami sedang menyusun Rencana Lima Tahun pertama Hong Kong, yang salah satu elemen pentingnya adalah memfasilitasi pertukaran seni dan budaya yang lebih besar antara Tiongkok Daratan dan negara lain,” ujarnya pada 23 Maret 2026 di Xiqu Centre WestK, Hong Kong.
Sebelumnya, pada Konferensi Budaya Internasional Hong Kong (HKICS) perdananya pada 2024, mereka menandatangani 21 Nota Kesepahaman dengan lembaga seni dan budaya di beberapa negara. WKCDA juga menjalin kemitraan jangka panjang dengan 34 lembaga. Pada akhir 2025, mereka mendirikan Akademi WestK untuk pembinaan bakat dan peningkatan kapasitas profesional di sektor seni dan budaya lokal maupun internasional.
Bernard Charnwut Chan, Ketua Dewan Otoritas Distrik Budaya Kowloon Barat (WKCDA), menegaskan dedikasi Otoritas untuk mendorong dialog dan kemitraan budaya secara global, memposisikan WestK sebagai pusat seni dan budaya terkemuka, serta memperkuat posisi Hong Kong sebagai pusat pertemuan Timur dan Barat untuk pertukaran budaya internasional.
“Konferensi Budaya Internasional Hong Kong berfungsi sebagai platform penting untuk menggambarkan kembali bagaimana lembaga seni dan budaya global dapat mendorong koneksi komunitas dan kohesi sosial dalam lanskap yang berkembang pesat saat ini,” ujarnya. Tema konferensi kali ini adalah “A New Era: Reimagining Community through the Arts”.
Dengan kerja sama dan konferensi ini, mereka ingin menjalin kemitraan global baru dan mendorong inspirasi yang akan memajukan budaya yang berkelanjutan baik di Hong Kong maupun internasional. Berdasarkan nota kesepahaman tersebut, Museum Istana Hong Kong akan berkolaborasi dengan mitra museum baru untuk bersama-sama menyelenggarakan lebih banyak pameran berkualitas dan memperkuat pertukaran budaya antara Hong Kong dan lembaga mitra.
Nota kesepahaman dengan Asosiasi Pelelang Tiongkok bertujuan memperkuat pelatihan bakat dan meningkatkan pertukaran profesional antara Hong Kong dan pasar seni Tiongkok Daratan. Sedangkan nota kesepahaman tambahan dengan organisasi budaya dan universitas akan membuka jalan bagi Program Percontohan Seniman Residen dan kursus profesional.
Nota kesepahaman baru dilakukan oleh Otoritas Distrik Budaya Kowloon Barat dengan Museums Victoria, Australia; Staatliche Kunstsammlungen Dresden, Jerman; Shanghai International Dance Center, Cina; Chaillot – National Theatre of Dance, Prancis; Factory International, Inggris; Sadler’s Wells dan Studio Wayne McGregor, Inggris; Czech Academy of Visual Art, Republik Cek; Misk Art Institute, Kerajaan Arab Saudi; School of Oriental and African Studies (SOAS), University of London, Inggris; RMIT University, Australia; China Association of Auctioneers (CAA), Cina.
Konferensi itu menghadirkan 30 pembicara dari 14 negara dan wilayah, termasuk kepala distrik budaya utama dan lembaga seni dan budaya internasional terkemuka. Mereka membahas isu-isu penting yang memengaruhi perkembangan seni dan budaya di masa depan secara global. Pembahasan mendalam juga tentang pengelolaan pusat seni budaya, museum di berbagai negara melihat peluang dan tantangan saat ini.
Beberapa pembicara yang hadir antara lain Elaine Bedell OBE, Kepala Eksekutif, Southbank Centre, Inggris Raya; Adrian Ellis, Ketua, Jaringan Distrik Budaya Global; Douglas Gautier, CEO, Royal Arts Complex, Kerajaan Arab Saudi; dan Dr. Mariët Westermann, Direktur dan CEO, Solomon R. Guggenheim Museum & Foundation, Amerika Serikat; Sir Alistair Spalding CBE, Direktur Artistik dan Co-Chief Executive, Sadler’s Wells, Inggris Raya; Rachid Ouramdane, Direktur, Chaillot – Teater Tari Nasional, Koreografer, Penari, Prancis; Toufic Maatouk, Penasihat Pemrograman Artistik, Yayasan Musik & Seni Abu Dhabi; Konduktor, Ahli Musik, Uni Emirat Arab; dan Sasapin Siriwanij, Direktur Artistik, Pertemuan Seni Pertunjukan Internasional Bangkok, Thailand.






