Malam Tahlil 40 Hari: Rindu yang Menggema di Berbagai Titik
Pada malam Rabu (25/3), di antara sela angin yang turun pelan dari perbukitan hingga pesisir di Kabupaten Batang, Jawa Tengah, ada sesuatu yang bergerak pelan, tetapi serempak. Bukan sebuah perayaan besar. Terdengar lirih lantunan ayat suci Alquran, selawat, dan nama yang dipanggil berulang-ulang dengan penuh takzim: Abah KH Ahmad Hadlor Ihsan.
Tidak jauh dari hari itu, tepatnya pada malam Kamis Pahing, genap empat puluh hari wafatnya Pengasuh Pondok Pesantren Al-Ishlah Mangkangkulon, KH Ahmad Hadlor Ihsan yang berpulang pada Sabtu (14/2/2026) dini hari. Sekitar 800 santri dan alumni pondok pesantren tersebut—yang tersebar di Kabupaten Batang—duduk bersila, kepala tertunduk, bibir bergerak melantunkan doa yang sama.
Mereka berkumpul dalam acara ‘Tahlil dan Doa Bersama’ yang digelar serentak oleh Pengurus IKHLAS (Ikatan Alumni Al-Ishlah) Cabang Batang. Bukan di satu tempat. Namun, mereka berdoa di berbagai titik, yakni di Pecalungan (bertempat di kediaman Kiai Saikhu), Pasusukan Bawang (Ustaz Mushollah), Ujung Negoro Tulis (Kiai Karomat), Wonobodro Blado (Kiai Nur Khozin), Tumbreb Bandar (KH Fatkhurrohman), serta wilayah lain dengan skala lebih kecil.
Acara malam itu sederhana. Ada khataman Alquran 30 juz, tahlil, dan doa penutup. Lingkaran orang-orang yang saling mengenal itu, duduk bersama karena alasan yang sama, yakni rindu kepada sang guru.
Di sela rangkaian tahlil dan doa bersama, para santri dan alumni juga melantunkan Sholawat Ulama, karya almarhum KH Ahmad Hadlor Ihsan. Selawat merupakan rangkaian doa dan pujian kepada Nabi Muhammad. Selain itu, juga mengandung pesan-pesan nilai keislaman yang membumi, seperti pentingnya mengikuti sunnah Nabi, menghormati ulama, serta memohon perlindungan dari kebodohan dan kesesatan.
Sholawat Ulama juga memuat doa-doa sosial, seperti harapan agar negeri tetap aman dan masyarakat hidup dalam kebaikan. Karena itu, bagi para santri dan alumni Al-Ishlah, selawat ini tidak sekadar bacaan ritual, melainkan bagian dari ajaran dan warisan spiritual yang terus diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.
Mengenang Sosok Sang Guru
Ketua Pengurus IKHLAS Cabang Batang Kiai Saikhu mengatakan tahlil 40 hari bukan sekadar kewajiban tradisi, ini adalah urusan hati. “Bagi santri dan alumni, almarhum adalah sosok guru yang luar biasa sabar, ikhlas, dan sangat tawadlu. Keteladanan beliau sangat menginspirasi para santri,” ujar Kiai Saikhu kepada JPNN Jateng, Kamis (26/3).
Bagi Kiai Saikhu, ketiga kata itu—sabar, ikhlas, dan tawadlu—bukan sekadar istilah yang sering diulang dalam ceramah. Itu adalah pengalaman yang benar-benar dia jalani selama bertahun-tahun menjadi santri di Al-Ishlah.
“Kami belajar arti kesabaran dari beliau yang selalu menjaga hati agar tetap bersikap lapang dalam situasi apa pun. Dan yang paling membekas adalah nasihat-nasihat beliau yang tidak pernah terasa seperti perintah, tetapi seperti pelukan yang hangat, dekat, dan tanpa jarak. Sehingga, membuat siapa pun yang mendengarnya merasa diajak, bukan dihakimi,” ungkapnya.
Itulah, kata dia, yang membuat peringatan 40 hari wafatnya digelar tidak di satu tempat, melainkan tersebar di banyak titik sekaligus. “Karena semasa hidupnya, almarhum tidak pernah memusatkan segalanya di satu tempat,” ujarnya.

Almarhum KH Ahmad Hadlor Ihsan, Pengasuh Ponpes Al-Ishlah Mangkangkulon, Kota Semarang. Foto: Tangkapan layar di kanal YouTube @alishlah.mangkangkulon.
Bagi Kiai Saikhu, cara Abah Hadlor menjalani hidup justru selalu bergerak dengan mendatangi, menjangkau, menemui siapa saja tanpa sekat, dan memilih hadir lebih dulu di tengah umat.
“Maka kami menjawab dengan cara yang sama dengan berdoa dari sudut mana pun yang bisa kami jangkau,” lanjutnya.
Di situlah, menurutnya, makna peringatan ini menjadi lebih dari sekadar ritual, melainkan cara para murid menunjukkan cinta kepada gurunya yang tidak harus berkumpul di satu tempat, tetapi bisa dilakukan dari mana saja.
“Seperti dulu seperti semasa hidup almarhum yang hadir di banyak tempat dan menjangkau banyak orang, para santri pun kini mendoakannya dari berbagai arah,” katanya.
Doa yang Menggema
Sementara di Batang ratusan alumni berkumpul dalam lingkaran doa yang hangat, di Pondok Pesantren Al-Ishlah Mangkangkulon sendiri, tempat almarhum menghabiskan sebagian besar hidupnya, peringatan 40 hari juga digelar. Acara itu disiarkan secara langsung melalui kanal YouTube Ponpes Al-Ishlah, menjangkau santri dan alumni yang tersebar jauh, yang tak bisa hadir secara fisik, tetapi tak ingin absen dalam doa.
Hadir dalam acara tersebut KH Fadlolan Musyaffa’, pengasuh Pondok Pesantren Fadhlul Fadhlan Mijen Semarang sekaligus Ketua Komisi Fatwa MUI Jawa Tengah. Dia adalah sosok yang dekat dengan almarhum dan mengenal langsung bagaimana KH Ahmad Hadlor Ihsan menjalani hidupnya.
Dalam kesempatannya berbicara, Kiai Fadlolan tidak panjang lebar. Dia tidak merasa perlu memperkenalkan siapa sosok almarhum, karena baginya, semua yang hadir sudah tahu.

KH Fadlolan Musyaffa’, pengasuh Pondok Pesantren Fadhlul Fadhlan Mijen Semarang sekaligus Ketua Komisi Fatwa MUI Jawa Tengah saat mengenang hidup Abah KH Ahmad Hadlor Ihsan. Foto: Tangkapan layar dari kanal YouTube @alishlah.mangkangkulon.
“Kami semua tak usah menjelaskan siapa sosok Kiai Hadlor. Beliau sangat-sangat baik, alim, ahlul hikmat, persahabatannya dan ketulusannya semua orang sudah merasakannya. Sehingga malam ini, kami mengirim doa, mengirim pahala untuk Kiai Hadlor,” ujarmya yang dilansir JPNN melalui kanal YouTube @alishlah.mangkang.
Ahlul hikmat, kata Kiai Fadlolan, adalah orang yang memiliki hikmah, kebijaksanaan yang lahir bukan dari teori semata tetapi dari perjalanan panjang menghidupi ilmu.
“Kata itu terasa tepat untuk menggambarkan Kiai Hadlor. Seorang ulama yang tidak hanya tahu, tetapi juga merasakan dan mewujudkan apa yang diajarkan. Dan ketulusan persahabatannya bukan hanya dirasakan oleh satu-dua orang, tetapi semua merasakannya,” tuturnya.
Ulama yang Tumbuh dari Mangkang
KH Ahmad Hadlor Ihsan lahir di Semarang pada 5 Juni 1957, dari pasangan KH Mujidan dan Nyai Chodliroh. Dari pihak ibu, darah pesantren mengalir kuat yang merupakan putri dari KH Ihsan bin Mukhtar, pendiri Pondok Pesantren Al-Ishlah Mangkangkulon. Sejak kecil, Kiai Hadlor sudah berada di dalam ekosistem keilmuan pesantren.
Pendidikan formalnya ditempuh di MI Ianatusshibyan Semarang, dilanjutkan ke MTs NU Nurul Huda, kemudian mondok di Pondok Pesantren Al-Muayyad Mangkuyudan, Solo. Ia juga tercatat sebagai santri kalong di beberapa pesantren sekitar Mangkang, sebelum akhirnya menyelesaikan sarjana di Fakultas Syariah IAIN Walisongo Semarang (sekarang UIN Walisongo).
Sejak muda, Kiai Hadlor menunjukkan militansi organisasi. Ia aktif di IPNU Jawa Tengah pada akhir 1970-an hingga 1980-an, bahkan menjabat sebagai Wakil Ketua IPNU Jawa Tengah. Kiprah itu menjadi fondasi bagi peran-peran lebih besar yang diembannya, seperti menjadi Rais Syuriah PCNU Kota Semarang selama dua periode (2001-2011). Periode selanjutnya mengemban amanat menjadi Wakil Rais Syuriah PWNU Jawa Tengah, Wakil Ketua BAZNAS Jawa Tengah, Ketua Komisi Fatwa MUI Jawa Tengah, Ketua Bidang Ketakmiran Badan Pengelola Masjid Agung Semarang, hingga Mustasyar PCNU Kota Semarang.
Namun di balik sederet jabatan itu, almarhum lebih dikenal sebagai pendakwah yang turun ke bawah. Pengajian rutin setiap Kamis pagi setelah Subuh di Masjid At-Taqwim Mangkangkulon dangan mengkaji berbagai kitab. Ia juga mengisi kajian tafsir Alquran setiap Rabu malam di Masjid Agung Jawa Tengah, dan tercatat sebagai salah satu inisiator pembangunan masjid baru di kawasan Mangkang.
Adapun Kiai Hadlor menjadi pengasuh Pondok Pesantren Al-Ishlah Mangkangkulon sejak 1996. Telah melahirkan ribuan santri yang tersebar di berbagai daerah baik di Jawa maupun luar Jawa, serta pesantren berkembang sebagai pusat kajian kitab kuning dan Alquran di Kota Semarang.







