Peran Indonesia dalam Misi Global Sumud Flotilla 2026
Global Peace Convoy Indonesia (GPCI), sebuah konsorsium aktivisme untuk Palestina, mengharapkan dukungan dari Presiden Joko Widodo dalam keberangkatan kembali para relawan kemanusian yang akan berpartisipasi dalam misi Global Sumud Flotilla (GSF) 2026. GPCI meminta restu tersebut dalam bentuk jaminan perlindungan sebagai warga negara Indonesia yang akan kembali melakukan pelayaran akbar menembus blokade Gaza bersama ribuan aktivis internasional pada April mendatang.
Dewan Pembina GPCI KH Bachtiar Nasir menjelaskan bahwa partisipasi para aktivis dan relawan kemanusian Indonesia dalam misi ini merupakan bagian dari tugas untuk membantu negara dalam merealisasikan amanah Pembukaan Undang-Undang Dasar (UUD) 1945. Selain itu, hal ini juga sesuai dengan mandat Konferensi Asia Afrika (KAA) tentang pembebasan Palestina. “Bahwa penjajahan di muka bumi harus dihapus,” ujar Bachtiar saat ditemui Infomalangraya.com dalam Rembug Nasional GPCI untuk misi GSF menembus blokade Gaza 2026 di Jakarta, pada Sabtu (28/3/2026) malam.
“Jadi saya pikir posisi negara juga sangat penting dalam misi ini, dan kita meminta izin, meminta restu, memohon kepada negara agar memfasilitasi para aktivis-aktivis dan relawan kemanusian dari Indonesia ini. Dan saya kira, misi ini juga sesuai dengan komitmen dari Bapak Presiden yang sangat kuat dalam usaha memerdekakan Palestina, sehingga akan sangat relevan juga kalau aktivis-aktivis kemanusian ini mendapatkan dukungan dan perlindungan dari negara,” tambah Bachtiar.
Evaluasi Kinerja Misi Sebelumnya
Anggota Dewan Pengarah GPCI Muhammad Husein menyampaikan bahwa evaluasi penting bagi relawan dan aktivis kemanusian Indonesia adalah minimnya dukungan dan kemampuan komunikasi serta koordinasi dengan pemerintah dalam pemberian jaminan perlindungan terhadap warga negara. Pelayaran GSF menembus blokade Gaza melalui jalur internasional Laut Mediterania selama ini berhadapan dengan tentara penjajahan Zionis Israel sebagai penghalang kapal-kapal kemanusian untuk memasuki daratan Gaza.
Tentara penjajahan Zionis Israel selalu menangkap para aktivis dan relawan kemanusian dan memasukkan mereka ke dalam sel-sel penjara. Mereka juga melakukan berbagai aksi kekerasan, memperlakukan para aktivis dan relawan yang ditangkap secara tidak manusiawi. Bahkan, tentara penjajahan Zionis Israel melakukan berbagai pelanggaran hak asasi terhadap para aktivis dan relawan yang ditangkap di tengah laut dengan pembatasan-pembatasan sepihak sebagai tawanan.
“Karena itu, di antara schedule kegiatan kita di GPCI dalam persiapan untuk misi Global Sumud Flotilla kali ini, kita tetap meminta waktu dan kesediaan dari pemerintah, mungkin dari Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) untuk kita dapat audiensi, untuk kita mendapatkan semacam jaminan keselamatan itu, dan kita memang berhak untuk mendapatkan perlindungan itu sebagai warga negara Indonesia,” kata Husein. Dengan adanya perlindungan negara, akan memberikan semacam garansi keamanan paling minimal terhadap para aktivis dan relawan.
Partisipasi Aktivis dari Indonesia
Koordinator Dewan Pengarah GPCI Maimon Herawati menambahkan bahwa dalam misi GSF 2026, ada sekitar 20 aktivis dan relawan dari Indonesia yang akan ikut bergabung bersama ribuan aktivis dari sekitar 100 negara. Para relawan dan aktivis tersebut terdiri dari tim dokter dan medis, kru kapal dan teknisi, serta para ahli di bidang pembangunan. “Misinya tetap sama, kita akan berlayar di perairan internasional untuk menembus blokade Gaza, membuka koridor bantuan kemanusian untuk masyarakat di Gaza yang sampai hari ini masih menjadi korban penjajahan dan genosida Zionis Israel,” kata Maimon.
Maimon menjelaskan bahwa misi GSF 2026 lebih masif dan rapi ketimbang kampanye serupa pada tahun lalu. Indonesia tetap mengambil peran penting dalam sumbangsihnya memfasilitasi pengadaan kapal-kapal yang mengangkut bantuan kemanusian untuk masyarakat di Gaza, Palestina. “Dan Indonesia di-GSF tahun ini, diberikan kesempatan untuk salah satunya kita dari GPCI menjadi anggota steering committee yang dapat memberikan masukan, ide, dan saran untuk keberhasilan misi menembus blokade Gaza kali ini,” kata Maimon.
Rute dan Jadwal Pelayaran
Dia menerangkan bahwa GSF tahun ini tak lagi mengambil titik kumpul serempak pelayaran di Tunisia seperti GSF 2025. Kata dia, konvoi kapal-kapal kemanusian masih tetap mengambil jalur perairan internasional Laut Mediterania. Namun, mengambil titik awal keberangkatan masing-masing dari pelabuhan-pelabuhan di Spanyol, Italia, Yunani, dan Turki lalu bergabung semuanya di dekat perairan Gaza. Jadwal pelayaran paling awal dari Barcelona, Spanyol pada 12 April 2026. “Indonesia, melalui GPCI tetap pada sumbangsihnya dengan ikut menyumbangkan tiga kapal,” ujar Maimon.
Selain melalui jalur laut, konvoi kemanusian dalam misi yang sama juga dilakukan via daratan Libya dan Mesir. Kata Maimon, dengan jumlah partisipasi para aktivis dan relawan yang lebih masif dari tahun sebelumnya, misi GSF 2026 diharapkan kembali membuka mata internasional tentang penjajahan yang masih terjadi dan dialami oleh masyarakat Gaza di Palestina. “Misi GSF ini akan tetap menjadi misi yang sangat penting bagi kita masyarakat sipil internasional, untuk bersama-sama menghentikan penjajahan, dan genosida yang dilakukan Israel terhadap bangsa Palestina,” ujar Maimon.







