Kementerian Energi Iran melaporkan bahwa ibu kota Teheran dan sejumlah provinsi di sekitarnya mengalami pemadaman listrik akibat serangan yang dilakukan oleh Amerika Serikat (AS) dan Israel. Pemadaman terjadi setelah pembangkit listrik di Provinsi Teheran serta beberapa distrik di wilayah tersebut menjadi sasaran serangan. Tim teknis Kementerian Energi sedang bekerja keras untuk memperbaiki masalah ini.
Menurut laporan, pecahan proyektil menyerang menara listrik tegangan tinggi di Alborz, sehingga menyebabkan gangguan pasokan listrik. Wakil Menteri Energi Iran, Mostafa Mashhadi, menjelaskan bahwa pecahan peluru menghantam salah satu tiang listrik di pintu masuk kota Karaj. Selain itu, gardu induk di wilayah Dowshan Tappeh juga rusak, yang berdampak pada pemadaman listrik di sejumlah distrik di Teheran dan Karaj.
Serangan udara yang dilakukan oleh Israel mencakup lebih dari 140 serangan di Iran tengah dan barat dalam 24 jam terakhir. Target serangan tersebut meliputi lokasi peluncuran rudal, fasilitas penyimpanan, dan posisi militer. Di Irak, serangan juga menargetkan lokasi Pasukan Mobilisasi Populer di Mosul dan Tuz Khurmatu.
Sebuah universitas di Isfahan melaporkan bahwa mereka menjadi sasaran serangan AS-Israel untuk kedua kalinya akhir pekan ini. Situasi ini terjadi saat pasukan AS terus bersiap untuk kemungkinan intervensi darat di Iran. Pentagon dilaporkan sedang mempertimbangkan tindakan untuk mengamankan lokasi-lokasi strategis, termasuk pusat minyak Pulau Kharg dan fasilitas militer.
Menurut CNN, Kepala Komando Pusat AS, Laksamana Brad Cooper, bertemu dengan Kepala Staf militer Israel, Letnan Jenderal Eyal Zamir, dan jenderal senior lainnya untuk membahas konflik dan upaya menghentikan produksi senjata Iran.
Serangan ke Israel dan Negara Teluk
Israel melaporkan bahwa sebuah pabrik industri di dekat Beer Sheva di gurun Negev terkena rudal atau puing-puing, yang memicu peringatan bahan berbahaya. Bahrain dan Uni Emirat Arab (UEA) juga melaporkan serangan Iran terhadap pabrik aluminium mereka.
Rekaman yang diverifikasi oleh BBC seperti dikutip The Express Tribune menunjukkan asap mengepul dari kompleks industri Neot Hovav di Israel selatan. Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengklaim bertanggung jawab atas serangan tersebut. Gambar yang beredar di media menunjukkan api yang berkobar dan kepulan asap hitam tebal dari lokasi tersebut, yang menampung lebih dari 30 pabrik.
Dinas pemadam kebakaran dan penyelamatan Israel mengatakan bahwa petugas sedang bekerja untuk “mencegah ledakan atau kebocoran tambahan” dan memperingatkan masyarakat agar tidak mendekati area tersebut karena adanya bahan berbahaya. Warga di sekitar lokasi diimbau untuk “mengunci diri di rumah mereka, menutup jendela dan ventilasi.” Dinas tersebut menambahkan bahwa insiden tersebut terbatas “di dalam batas zona industri” dan tidak menimbulkan bahaya bagi siapa pun yang berada lebih dari 800 meter jauhnya.
Kawasan Teluk juga mengalami peningkatan serangan. Kementerian Pertahanan Kuwait melaporkan mendeteksi 14 rudal balistik dan 12 drone di wilayah udaranya, melukai 10 personel militer di sebuah kamp militer. Qatar mencegat beberapa drone Iran, mencegah korban jiwa. Kementerian Pertahanan UEA mengatakan sistemnya mencegat 16 rudal balistik dan 42 drone. Emirates Global Aluminium mengonfirmasi kerusakan signifikan di sebuah lokasi di Abu Dhabi dan enam karyawan terluka. Aluminium Bahrain melaporkan cedera ringan pada dua anggota staf.
Pada 28 Februari, Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap target-target di Iran, termasuk di Teheran, yang menyebabkan kerusakan dan menewarkan warga sipil. Iran kemudian membalas dengan menyerang wilayah Israel dan fasilitas militer AS di Timur Tengah.






