Tren Pembelian Mobil Listrik di Indonesia
Saat ini, pembeli mobil listrik di Indonesia masih didominasi oleh kalangan konsumen yang memiliki lebih dari satu mobil dan membeli kendaraan listrik sebagai tambahan. Selain itu, ada juga para pengguna awal (early adopters) yang cepat mengadopsi teknologi baru. Secara umum, transaksi pembelian mobil listrik masih dilakukan secara tunai.
Namun, menurut Jodjana Jody, praktisi dan pengamat industri pembiayaan, ketika segmen tersebut sudah selesai, maka penetrasi pasar akan mulai masuk ke segmen konsumen pertama kali membeli mobil (first users) serta konsumen yang sebelumnya menggunakan mobil bekas lalu beralih ke mobil listrik baru (used car users). Biasanya, mode pembayaran untuk segmen ini adalah kredit.
“Perusahaan pembiayaan perlu mendeteksi kelayakan konsumen jenis ini karena kemungkinan default-nya lebih tinggi dan kerugian pada repossess (penyitaan) kendaraan listrik dari pengalaman kita adalah lebih besar,” ujarnya kepada Bisnis, Senin (30/3/2026).
Penilaian Kelayakan Kredit
Jodjana menegaskan bahwa saat ini penilaian utama kelayakan kredit masih terletak pada profil risiko konsumen. Selain itu, kemampuan finansial yang memadai hingga infrastruktur charging di rumah juga bisa menjadi penilaian lainnya.
Ia berpendapat bahwa mobil listrik masih baru di Indonesia, sehingga baik pembiayaan maupun penetrasi pasarnya masih terus naik. Namun, ia menilai kenaikannya pada tahun ini akan melandai seperti di negara lain, seiring dengan jumlahnya yang akan masuk stabil.
“Kecuali penetrasinya sudah masuk ke first buyer, saat ini masih multiple users. Multifinance masih terus mencermati pembiayaan kendaraan ini dan tentunya sangat hati-hati dalam menilai kelayakan konsumen,” ucapnya.
Perkiraan Komposisi Pasar Mobil Listrik
Lebih lanjut, dia memperkirakan bahwa komposisi pasar mobil listrik tahun ini akan lebih landai. Berbeda dengan 2025 yang komposisinya tercatat melonjak hampir dua kali lipat dibandingkan 2024, yakni menjadi 21,71% dari sebelumnya 11,52%.
“Dan perkiraan saya tahun ini lebih landai ke arah 25%, yang mana porsi hybrid akan naik lebih tinggi seiring dengan mulai dikeluarkannya hybrid murah seperti Toyota Veloz Hybrid dan lain-lain,” bebernya.
Tantangan Utama: Nilai Jual Kembali
Di samping itu, asuransi juga berperan penting dalam memberikan perlindungan apabila kendaraan mengalami kecelakaan berat yang berpotensi menyebabkan kerugian total (total loss).
Bagi Jodjana, resale value atau nilai jual kembali masih menjadi tantangannya utama. Saat ini saja, battery electric vehicle (BEV) yang sudah digunakan 3 tahun bisa terdepresiasi lebih dari 50%, sehingga ini menjadi concern perusahaan pembiayaan.
Pilihan Kendaraan Ramah Lingkungan
Kendati demikian, dia menilai pada tahun ini semakin beragamnya pilihan kendaraan ramah lingkungan di pasar membuat perusahaan multifinance lebih leluasa menentukan pembiayaan yang diminati. Menurutnya, kendaraan hybrid akan jadi salah satu sasaran yang lebih agresif karena murah dan risikonya lebih rendah.
Namun, ia turut memandang bahwa semua alternatif teknologi sangat bergantung pada kesiapan konsumennya. Jodjana melihat untuk BEV murni fokusnya masih berada pada konsumen di kota besar seperti Jabodetabek.
“Yang banyak diuntungkan dengan fasilitas bebas genap ganjil, biaya pajak registrasi yang rendah dan charging infrastruktur yang lebih siap. Kota di luar itu masih bergelut dengan berbagai tantangan seperti infrastruktur charging, resale value, jaminan pelayanan purna jual dan lainnya,” pungkasnya.







