Krisis Energi Global dan Peluang Percepatan Kendaraan Listrik di Sulawesi Selatan
Krisis energi global yang dipicu oleh konflik di kawasan Timur Tengah, terutama penutupan Selat Hormuz, telah menyebabkan lonjakan harga minyak dunia serta gangguan pasokan energi. Situasi ini tidak hanya berdampak pada perekonomian global, tetapi juga menjadi peringatan bagi negara-negara yang masih bergantung pada impor bahan bakar minyak (BBM), seperti Indonesia.
Pengamat Ekonomi dari Universitas Muhammadiyah Makassar (Unismuh), Dr Rendra Anggoro, menilai bahwa krisis ini menjadi momentum strategis untuk percepatan pengembangan kendaraan listrik (electric vehicle/ EV) di Indonesia. Menurutnya, kondisi ini mendorong masyarakat dan industri untuk beralih ke sumber energi yang lebih efisien, termasuk kendaraan listrik.
“Secara ekonomi, krisis Selat Hormuz adalah shock energi global yang mendorong kenaikan harga minyak dan tekanan biaya di dalam negeri,” ujar Rendra kepada Infomalangraya.com, di Makassar, Minggu (5/4/2026). Ia menambahkan bahwa situasi ini memicu efek substitusi energi, di mana masyarakat mulai mencari alternatif yang lebih hemat dan ramah lingkungan.
Dalam konteks ini, kendaraan listrik menjadi solusi jangka panjang yang sangat relevan. Namun, ia mengingatkan bahwa peluang ini tidak akan berjalan otomatis tanpa dukungan kebijakan dan kesiapan ekosistem. “Ini memang bisa menjadi momentum bagi pengembangan EV di Indonesia, termasuk Sulawesi Selatan, tetapi tidak otomatis berhasil tanpa dukungan infrastruktur, insentif, dan kesiapan pasar,” jelasnya.
Rendra melihat potensi unik Sulawesi Selatan sebagai pusat distribusi dan pengembangan ekosistem kendaraan listrik di kawasan Indonesia Timur. Ia menilai bahwa Sulsel lebih tepat diposisikan sebagai hub distribusi dan pasar kendaraan listrik, bukan sebagai basis produksi otomotif. “Intinya adalah bahwa momentum ada, potensi nyata, tetapi perannya strategis bukan industri manufaktur, melainkan pusat distribusi dan adopsi EV,” tambahnya.
Peran PLN dalam Mendukung Transisi Energi
Sebagai bagian dari upaya transisi energi, PT PLN (Persero) berkomitmen membangun ekosistem Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai (KBLBB). Hingga 1 April 2026, PLN telah mengoperasikan 74 Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) yang tersebar di 54 lokasi di Provinsi Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, dan Sulawesi Barat (Sulselrabar).
Manager Komunikasi dan TJSL PLN UID Sulselrabar, Ahmad Amirul Syarif, menjelaskan bahwa masyarakat tidak perlu khawatir terhadap ketersediaan layanan pengisian kendaraan listrik di wilayah Sulselrabar. “PLN UID Sulselrabar memastikan seluruh SPKLU beroperasi optimal, aman, dan andal untuk mendukung mobilitas pengguna kendaraan listrik, baik untuk aktivitas harian maupun perjalanan jarak jauh,” katanya.
Untuk mendukung ekosistem tersebut, PLN juga mengadakan Program Stimulus Percepatan Penggunaan KBLBB. Di antaranya berupa pemberian insentif biaya penyambungan pasang baru dan tambah daya sebesar 50 persen. Ada pula insentif diskon 30 persen pada home charging di waktu Luar Waktu Beban Puncak (LWBP) pukul 22.00 sampai 05.00 Wita. Seluruh promo ini berlaku mulai 1 Juli 2025 hingga 30 Juni 2026.
Layanan Home Charging Service (HCS)
Program Home Charging Service (HCS) sendiri merupakan layanan PLN yang memungkinkan pemilik kendaraan listrik untuk mengisi daya baterai mobil mereka secara praktis dari rumah, tanpa perlu mengunjungi SPKLU. Lewat layanan ini, penggunaan mobil listrik dapat menekan biaya operasional.
Jika menggunakan kendaraan berbahan bakar fosil, rata-rata biaya operasional per kilometer adalah Rp800. Namun, dengan mobil listrik, biaya operasionalnya hanya sekitar Rp200 per kilometer.
Hingga tahun 2025, sebanyak 219 pelanggan di Sulselrabar telah menikmati layanan HCS. Tingginya jumlah pelanggan menunjukkan antusiasme masyarakat yang semakin besar terhadap penggunaan KBLBB. Dengan dukungan infrastruktur dan insentif yang diberikan, peluang pengembangan kendaraan listrik di Sulawesi Selatan terlihat semakin cerah.
Kesimpulan
Krisis energi global yang sedang terjadi memberi peluang besar bagi percepatan pengembangan kendaraan listrik di Indonesia, khususnya di Sulawesi Selatan. Dengan posisi strategis sebagai pusat distribusi dan pengembangan ekosistem, Sulsel memiliki potensi besar untuk menjadi salah satu kawasan utama dalam transisi energi nasional. Kolaborasi antara pemerintah, industri, dan masyarakat menjadi kunci keberhasilan dalam mewujudkan visi ini.






