Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan mengalami penurunan pada perdagangan saham hari ini, Selasa (7/4). Pada perdagangan Senin (6/4), IHSG ditutup turun sebesar 0,53% ke level 6.989. Tekanan jual masih menjadi dominasi di pasar saham.
Analis dari MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, menyatakan bahwa posisi IHSG saat ini masih dalam tren melemah. Oleh karena itu, indeks berpotensi turun lebih lanjut ke kisaran 6.745–6.849. Namun, dalam skenario terbaik, penurunan IHSG sudah selesai dan indeks berpeluang kembali menguat ke level 7.323–7.450.
“Di dalam risetnya, Herditya menetapkan support IHSG berada di 6.917 dan 6.846. Sementara resistance terdekat berada di 7.207 dan 7.302,” tulisnya dalam laporan yang dirilis Selasa (7/4).
IHSG Turun 0,53%, Ada Transaksi Crossing di ARCI Dan BREN
Dalam analisis terkini, IHSG rawan terkoreksi. Sejumlah analis merekomendasikan beberapa saham untuk dibeli. Misalnya, PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) direkomendasikan untuk akumulasi beli di rentang Rp 26.250–Rp 26.650 dengan target harga di Rp 28.550–Rp 29.750. Level stoploss ditempatkan di bawah Rp 26.000.
Selain itu, PT Barito Pacific Tbk (BRPT) juga direkomendasikan untuk buy on weakness pada area Rp 1.160–Rp 1.255 dengan target harga di Rp 1.610–Rp 1.890. Stoploss ditempatkan di bawah Rp 1080.
Sentimen Negatif IHSG
Phintraco Sekuritas menilai penurunan IHSG ke level 6.989 atau turun 0,53% pada perdagangan Senin (6/4) kemarin disebabkan oleh kenaikan harga minyak mentah yang terus berlanjut akibat konflik di Timur Tengah. Presiden AS Donald Trump mengancam akan menyerang pembangkit listrik dan infrastruktur Iran mulai Selasa (7/4), jika Iran tidak membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz secara penuh.
Namun, Iran menolak ultimatum tersebut dan menyatakan hanya akan membuka kembali Selat Hormuz jika mendapat kompensasi atas kerusakan akibat perang. Meski demikian, Trump secara terpisah menyebut masih ada peluang untuk mencapai kesepakatan pada Senin (6/4), sehingga pasar tetap mencermati perkembangan negosiasi antara kedua negara.
“Investor global berada pada posisi yang tidak menentu di antara mengharapkan adanya kesepakatan yang mengakhiri perang dan eskalasi signifikan yang membuat harga minyak mentah terus menguat,” tulis Phintraco dalam analisisnya, Selasa (7/4).
Penyebab Tekanan pada Pasar
Beberapa faktor lain turut memperparah tekanan pada pasar. Pengumuman sejumlah saham yang masuk dalam daftar kepemilikan terkonsentrasi tinggi per Maret 2026 menjadi salah satu penyebabnya. Beberapa saham tersebut merupakan saham berkapitalisasi besar, sehingga membebani pergerakan indeks.
Tidak hanya itu, kekhawatiran muncul karena saham-saham tersebut berpotensi dikeluarkan dari indeks MSCI dalam rebalancing Mei 2026. Meski demikian, dalam jangka menengah hingga panjang, kondisi ini dinilai positif karena dapat meningkatkan transparansi dan pemahaman investor terhadap karakteristik suatu saham.
Pergerakan Rupiah dan Sektor Saham
Di sisi lain, nilai tukar Rupiah ditutup melemah 0,32% ke level Rp 17.035 per dolar AS di pasar spot pada Senin (6/4). Berdasarkan sektoral, saham sektor infrastruktur mencatatkan koreksi terdalam sebesar 0,92%, sementara sektor cyclicals naik paling tinggi 2,26%.
“Secara teknikal, diperkirakan IHSG masih akan menguji level 6.900,” tulis Phintraco.
Phintraco Sekuritas merekomendasikan beberapa saham, seperti PT Rukun Raharja Tbk (RAJA), PT Raharja Energi Cepu Tbk (RATU), PT Era Media Sejahtera Tbk (DOOH), PT J Resources Asia Pasifik Tbk (PSAB), dan PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA).







