Proyek infrastruktur besar yang sedang dikerjakan oleh PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA), salah satu emiten konstruksi BUMN, adalah jalan tol layang Ancol Timur–Pluit atau dikenal sebagai Harbour Road II. Proyek ini memiliki nilai kontrak sebesar Rp 5,02 triliun dan dijalankan bersama dengan PT Girder Indonesia menggunakan skema design and build. Proyek ini ditargetkan selesai pada 31 Desember 2026, dengan progres pembangunan saat ini mencapai 32,31%.
Direktur Utama WIKA, Agung Budi Waskito, menyatakan bahwa proyek ini merupakan solusi strategis untuk mengatasi kemacetan serta meningkatkan konektivitas di kawasan Jakarta Utara. Jalan tol layang ini memiliki panjang sekitar 9,7 kilometer, menghubungkan kawasan Ancol Timur hingga Pluit, serta melintasi beberapa titik vital seperti Pelabuhan Tanjung Priok dan Jalan RE Martadinata.
“Harbour Road II menjadi bukti kapabilitas WIKA dalam menawarkan solusi infrastruktur modern di tengah kompleksitas kawasan urban,” ujar Agung BW dalam pernyataannya di Jakarta, Senin (6/4).
Salah satu keunggulan utama dari proyek ini adalah desain dan metode konstruksinya. Jalan tol layang ini mengusung struktur bertingkat dengan ketinggian sekitar 38 meter di atas permukaan tanah. Selain itu, proyek ini menggunakan teknologi segmented box girder dengan lebar hingga 14,3 meter, termasuk kategori terlebar tanpa ribs. Teknologi ini memberikan efisiensi sekaligus kekuatan struktur yang optimal.
Tidak hanya itu, Harbour Road II juga memiliki bentang steel box girder terpanjang tanpa shoring hingga 70 meter. Proyek ini dibangun secara end-to-end elevated atau di atas permukaan tanah di tengah keterbatasan ruang, berdampingan dengan jalan tol eksisting, jalur kereta api, sungai, hingga kawasan permukiman dan bangunan yang sudah ada.
“Jalan tol ini diharapkan mampu memberikan dampak signifikan dalam mengurangi kemacetan, meningkatkan efisiensi logistik, serta mendorong pertumbuhan ekonomi di kawasan pesisir utara Jakarta,” kata Agung.
Selain fokus pada proyek Harbour Road II, WIKA juga menghadapi tantangan dalam kinerja keuangannya. Berdasarkan laporan keuangan tahunan 2025, WIKA mencatatkan rugi bersih sebesar Rp 9,70 triliun, naik 329,20% dibandingkan tahun sebelumnya sebesar Rp 2,26 triliun. Penurunan pendapatan perusahaan menjadi Rp 13,32 triliun dari Rp 19,24 triliun secara tahunan menjadi salah satu penyebab penurunan kinerja keuangan.
Beban pokok pendapatan turun menjadi Rp 12,19 triliun dari Rp 17,72 triliun, sementara beban lain-lain melonjak menjadi Rp 6,37 triliun dari Rp 3,73 triliun. Rugi ventura bersama juga meningkat lebih dari dua kali lipat menjadi Rp 1,44 triliun dari Rp 606,66 miliar.
Akibatnya, rugi sebelum pajak WIKA melebar menjadi Rp 10,12 triliun dari Rp 2,46 triliun. Meskipun menghadapi tekanan tersebut, WIKA berhasil mencatatkan kontrak baru sebesar Rp 17,46 triliun dengan total kontrak berjalan mencapai Rp 50,52 triliun.







