Kasus Siswa yang Diklaim Dicopot dari OSIS, Pihak Sekolah Bantah
Sebuah video yang beredar di media sosial memicu perdebatan tentang seorang siswa yang mengaku dilengserkan dari jabatan Ketua OSIS di SMA Muhammadiyah 3 Yogyakarta. Video tersebut menimbulkan narasi dramatis yang menyatakan bahwa siswa bernama Bayu diberhentikan karena menolak program Makan Bergizi Gratis (MBG). Namun, pihak sekolah memberikan klarifikasi yang justru membantah klaim tersebut.
Klaim Bayu dan Peran MBG
Dalam video tersebut, Bayu mengatakan bahwa dirinya dikeluarkan dari posisi Ketua OSIS setelah menyuarakan penolakan terhadap program MBG. Ia menyebut tindakan itu sebagai “kudeta” yang dilakukan oleh oknum tertentu. Menurutnya, MBG dinilai tidak efektif dan hanya menjadi proyek untuk mengalihkan dana ke guru-guru.
Bayu juga menjelaskan bahwa ia dan teman-temannya menolak program tersebut karena merasa tidak sesuai dengan kebutuhan siswa. Ia mengklaim bahwa dalam proses perjuangan itu, ada pihak yang memaksa dirinya mundur dari posisi yang dianggapnya penting.
Penjelasan Pihak Sekolah
Pihak sekolah langsung memberikan respons terkait video tersebut. Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan, Muflikh Najib, menegaskan bahwa informasi dalam video tidak benar. Ia menyatakan bahwa Bayu bukanlah Ketua OSIS maupun Ketua IPM. Menurutnya, Bayu saat ini adalah siswa kelas 12, sementara kepengurusan OSIS atau IPM diisi oleh siswa kelas 11.
Muflikh juga menjelaskan bahwa Bayu tidak pernah menjabat posisi apa pun dalam organisasi selama masa studinya. Bahkan, ketika sempat bergabung di kelas 10, ia memilih mengundurkan diri setelah beberapa bulan.
Fakta Program MBG yang Baru Masuk Tahun Ini
Selain itu, pihak sekolah juga menyampaikan fakta bahwa program MBG baru saja diterima tahun ini. Artinya, klaim Bayu bahwa dirinya menolak program tersebut sejak masih menjabat di kelas 11 tidak sesuai dengan kondisi sebenarnya.
“Kita belum pernah dapat MBG jadi apa yang disampaikan tidak benar semuanya,” ujar Muflikh.
Jabatan Ketua OSIS yang Sah
Pihak sekolah juga menegaskan bahwa jabatan Ketua OSIS saat ini dipegang oleh seorang siswi bernama Syifa. Hal ini bertentangan dengan klaim dalam video yang menyebut Bayu sebagai Ketua OSIS.
Selain itu, muncul dugaan bahwa pembuatan video tersebut tidak sepenuhnya dilakukan secara mandiri oleh siswa. Muflikh menyebut adanya indikasi keterlibatan pihak luar dalam produksi video tersebut. Ia menyebut salah satu pihak yang diduga terlibat adalah mantan anggota BEM UGM.
Antara Narasi dan Realitas
Kasus ini menunjukkan bagaimana narasi di media sosial dapat cepat membentuk opini publik. Di satu sisi, video tersebut menghadirkan cerita dramatis tentang perlawanan dan ketidakadilan. Namun, di sisi lain, klarifikasi pihak sekolah justru mengungkap adanya perbedaan signifikan antara klaim dan kenyataan.
Kini, publik menanti hasil pendalaman lebih lanjut untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi di balik video yang sempat viral tersebut. Proses investigasi sedang berlangsung, dan pihak sekolah akan terus memastikan kejelasan atas semua isu yang muncul.






