Potensi Kenaikan Harga Emas dan Strategi Perusahaan Terkait
Peningkatan harga emas yang terus berlangsung menarik perhatian sejumlah perusahaan di Indonesia yang memiliki bisnis terkait logam mulia. Beberapa emiten seperti PT Hartadinata Abadi Tbk. (HRTA) dan PT Bumi Resources Minerals Tbk. (BRMS) telah mengambil langkah-langkah strategis untuk memanfaatkan peluang ini.
Direktur Investor Relations PT Hartadinata Abadi Tbk. (HRTA), Thendra Crisnanda, menjelaskan bahwa dinamika geopolitik dan ekonomi global saat ini semakin memperkuat posisi emas sebagai aset lindung nilai. Menurutnya, masyarakat cenderung melihat emas sebagai pilihan investasi yang stabil dalam situasi ketidakpastian global, baik itu konflik politik maupun tekanan inflasi.
”Minat terhadap kepemilikan emas tetap kuat, baik dari masyarakat maupun institusi,” ujarnya dalam keterangan resmi. Ia juga menyebutkan bahwa tren akumulasi emas oleh bank sentral menunjukkan sinyal positif. Bank Indonesia (BI) misalnya, telah menambah cadangan emas sebanyak 7 ton pada tahun 2025, sehingga total cadangan mencapai 85 ton pada akhir tahun tersebut.
Thendra juga merujuk pada prediksi dari lembaga keuangan global seperti Goldman Sachs dan JP Morgan. Goldman Sachs memprediksi harga emas akan mencapai US$5.400 per troy ounce pada 2026, sedangkan JP Morgan memperkirakan harganya bisa mencapai US$6.000 per troy ounce dalam jangka panjang. Prediksi ini didasarkan pada permintaan kuat dari bank sentral dan institusi keuangan di tengah kekhawatiran terhadap penurunan mata uang global.
Strategi Perusahaan dalam Menghadapi Peluang
Dalam menghadapi peluang ini, HRTA fokus pada penguatan ekosistem bisnis emas yang terintegrasi. Hal ini mencakup peningkatan volume penjualan emas batangan HRTA Gold, optimalisasi jaringan distribusi dan ritel, serta penguatan kemitraan dengan institusi keuangan dalam ekosistem bullion bank.
Selain itu, perusahaan juga berkomitmen untuk menjaga efisiensi operasional dan disiplin pengelolaan biaya agar profitabilitas tetap terjaga. Thendra menilai bahwa peluang HRTA untuk meningkatkan kinerja keuangan berasal dari meningkatnya minat masyarakat terhadap emas sebagai aset lindung nilai, serta pengembangan ekosistem bullion bank dan permintaan dari institusi keuangan di Indonesia.
Namun, ia juga mengakui beberapa tantangan yang dihadapi, antara lain volatilitas harga emas global, dinamika kebijakan moneter internasional, serta kondisi geopolitik yang dapat memengaruhi sentimen pasar dalam jangka pendek.
Prediksi dan Tantangan bagi BRMS
Di sisi lain, Direktur PT Bumi Resources Minerals Tbk. (BRMS), Herwin Hidayat, juga memprediksi kenaikan harga emas melalui proyeksi dari lembaga keuangan global. Ia menyebutkan bahwa harga emas diperkirakan berada di kisaran US$5.400—US$6.000 per troy ounce hingga akhir 2026 atau awal 2027.
Herwin menjelaskan bahwa saat ini biaya operasi BRMS masih berada di kisaran US$1.700—US$1.800 per troy ounce. Dengan harga emas global saat ini yang ada di kisaran US$4.600—US$4.700, BRMS masih mendapatkan margin laba yang cukup baik.
Analisis Pasar dan Rekomendasi Saham
Head of Research KISI Sekuritas, Muhammad Wafi, menilai bahwa potensi kenaikan harga emas memberikan sentimen positif bagi emiten tambang emas Tanah Air. Kenaikan harga jual rata-rata akan mendorong margin laba secara signifikan.
Sebaliknya, emiten perhiasan emas dianggap terdampak negatif karena lonjakan harga bahan baku bisa menekan margin dan mengurangi permintaan dari konsumen ritel akibat harga yang terlalu tinggi.
Wafi juga menyebutkan bahwa risiko utama bagi emiten tambang emas adalah penurunan volume produksi akibat kendala cuaca, operasional, dan pembengkakan biaya energi. Selain itu, volatilitas rupiah turut meningkatkan risiko.
Namun, ia menilai bahwa kompensasi biaya dari lonjakan harga emas akan jauh melampaui kenaikan biaya logistik dan operasional perusahaan. Dengan demikian, emiten tambang emas sangat diuntungkan dari potensi kenaikan ini.
Wafi merekomendasikan saham PT Bumi Resources Minerals Tbk. (BRMS) pada target harga Rp880, saham PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM) pada target harga Rp5.100, dan saham PT Hartadinata Abadi Tbk. (HRTA) dengan target Rp2.400 per saham.
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Indonesiadiscover.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.







