Perjalanan Iran dalam Menghadapi Sanksi dan Kekuasaan Barat
Iran, sebuah negara dengan peradaban yang kaya sejak zaman pra-Masehi, telah menjadi pusat perhatian bagi banyak kalangan, baik dari para pemimpin negara hingga masyarakat biasa. Bangsa Persia ini dikenal sebagai bangsa yang sabar, tabah, dan kuat, bahkan dalam menghadapi berbagai tantangan selama beberapa dekade.
Sejak tahun 1979, Iran telah diembargo dan menghadapi sanksi internasional. Meskipun begitu, bangsa ini tetap bertahan dan bahkan akhirnya bangkit melawan kekuatan besar seperti Amerika Serikat (AS) dan Israel. Pada tanggal 28 Februari 2026, setelah serangan oleh AS dan Israel, Iran menunjukkan ketangguhannya dengan melakukan perlawanan.
Sebelum serangan tersebut, terdapat perundingan tentang nuklir antara AS dan Iran yang “nyaris berhasil” dengan mediator Oman dan rencana tahap selanjutnya di Jenewa. Namun, bagi Israel, perundingan itu bukanlah penghentian, tetapi justru memberi waktu bagi program nuklir Iran untuk berkembang. Akibatnya, perundingan nuklir berjalan bersamaan dengan tekanan militer. Ketika dianggap tidak cukup cepat, opsi militer langsung diambil oleh AS dan Israel.
Dibandingkan dengan masa embargonya yang berlangsung selama hampir 40 tahun, masa perang saat ini yang baru berlangsung selama 40 hari tampaknya tidak terlalu sulit bagi bangsa Persia. Mereka tampak siap berperang, bahkan selama setengah abad, demi membangun kekuatan yang seimbang dengan derita yang dialami selama 47 tahun diisolasi oleh tekanan Barat.
Pertanyaan menarik muncul: “Bagaimana Iran bisa bertahan selama 47 tahun diembargo lalu menjadi kuat dan berani melawan AS-Israel?” Apa saja yang dilakukan oleh bangsa Persia yang muslim Syiah ini untuk “membangun diri” di bawah sanksi dan tekanan puluhan tahun?
Berikut adalah jawaban atas pertanyaan tersebut:
- Iran menyadari bahwa mereka tidak boleh bergantung pada Barat. Maka dari itu, mereka melihat ke Timur.
- China, yang secara kultural dan historis merupakan bagian dari Timur.
- Rusia, yang meskipun sekuler, memiliki pengalaman tekanan ekonomi dan politik yang berat, serta menjunjung agama.
Korea Utara, yang juga menjadi mitra dalam membangun kemandirian.
Dengan adanya China, Rusia, dan Korea Utara, Iran tidak benar-benar sendirian dalam membangun kemandiriannya. Mereka saling mendukung dalam menghadapi tekanan Barat.
Dalam masa membangun kemandirian, Iran fokus pada pengurangan impor dan pengembangan industri lokal.
- Sanksi yang diberikan justru mendorong tumbuhnya industri domestik, termasuk industri militer.
- Industri militer yang mandiri membuat Iran tidak lagi bergantung pada senjata dari Barat.
Sebagai sahabat sesama Timur, Iran dapat membeli senjata dari China, Rusia, dan Korea Utara.
Tidak lama lagi, dunia akan mulai menoleh ke Timur. Barat tidak lagi menjadi kiblat sains dan pengetahuan.
- Timur akan menjadi pusat kajian agama-agama, khususnya Islam.
- Penelitian dan kajian Islam akan bergeser, terutama dari Kairo Mesir ke berbagai kota di Timur.
- Alasannya, dunia kini menyaksikan Islam Syiah Iran menggerakkan roda sejarah dan peradabannya ke Timur, bukan ke Barat.







