Kehidupan Desy Pratiwi Putri: Dari Hobi Menjadi Bisnis Sukses
Desy Pratiwi Putri, seorang ibu rumah tangga di Kota Batu, kini berhasil menjalankan usaha kerajinan tangan bernama Silhouette Crochet yang sukses menembus pasar luar negeri. Usaha ini dimulai dari hobi sederhana dan bertransformasi menjadi penghasilan utama keluarganya.
Awal Mula Kehidupan Berbisnis
Awalnya, Desy hanya membuat produk rajutan sebagai cara mengisi waktu luang saat mengantar anak sekolah. Tidak pernah terpikir olehnya bahwa karyanya akan menjadi bisnis yang mampu menembus pasar internasional. Ia memulai usaha ini pada tahun 2016 dengan membuat sekitar 10 produk. Dengan semangat dan passion di dunia fashion, ia mulai mengembangkan karyanya secara bertahap.
Pada awalnya, Desy menggunakan bahan-bahan yang ada di rumah seperti benang dari teman dan barang-barang lainnya. Namun, ia merasa tidak ada peningkatan yang signifikan. Pada tahun 2019, ia menemukan ide baru dalam bentuk aksesoris etnik khas rajutan yang belum ada di Kota Batu. Ide tersebut akhirnya menjadi fondasi dari usaha Silhouette Crochet.
Perjalanan Menuju Kesuksesan
Hasil karya Desy awalnya dinilai aneh oleh beberapa orang. Bahkan, ada yang menganggapnya mirip dengan aksesoris dukun atau jimat. Meski begitu, ia tidak mudah menyerah. Dengan keyakinan diri yang kuat, ia mulai menjual produknya secara kecil-kecilan kepada teman, tetangga, dan ibu-ibu yang juga sedang mengantar anak sekolah.
Kemudian, ia ikut serta dalam sebuah pameran di Kota Malang. Dari 10 produk yang dijual, ia berhasil mendapatkan pendapatan sebesar Rp 1.250.000. Uang tersebut digunakan untuk membeli bahan-bahan seperti tali, benang, dan komponen lainnya untuk aksesoris. Dari situ, ia mulai memproduksi dalam jumlah yang lebih besar.
Ekspansi Pasar dan Kolaborasi
Dari pameran-pameran yang diikuti, karya Desy semakin dikenal. Produk Silhouette Crochet mulai dilirik oleh Wali Kota Batu saat itu, Dewanti Rumpoko. Saat ini, produk Silhouette Crochet telah diekspor ke beberapa negara, termasuk Jepang, Korea, Australia, dan Amerika.
Menurut Desy, rajutan etnik buatannya banyak dilirik di luar negeri karena mayoritas orang asing menyukai barang-barang yang memiliki nilai budaya, keunikan, dan estetika. Selain itu, rajutan Desy sering dibeli oleh desainer ternama baik dalam maupun luar negeri untuk dipakai dalam acara catwalk.
Beberapa acara bergengsi yang pernah diikuti oleh Desy antara lain Apresiasi Kreasi Indonesia oleh Kemenparekraf, Inacraft, Batik Fashion Show di Canberra Australia, dan Nusantara Fashion Feast Sidney Australia. Keberhasilannya juga membawanya meraih berbagai penghargaan.
Pengembangan Usaha dan Pemberdayaan
Saat ini, Desy tidak lagi menjalankan usaha sendirian. Ia memiliki delapan karyawan tetap yang terdiri dari ibu-ibu pemberdayaan. Sebelum direkrut, para ibu-ibu ini telah mengikuti pelatihan langsung dari Desy terkait rajutan. Selain itu, ia juga bekerja sama dengan beberapa pengrajin UMKM dan peternak ular sutra di wilayah Batu dan Pasuruan.
Desy juga berkolaborasi dengan komunitas perempuan di Bangkalan untuk mendapatkan bahan baku serat daun agel. Semangat pantang menyerahnya mencerminkan emansipasi wanita di momen Hari Kartini.
Harapan dan Tujuan
Meskipun berperan sebagai ibu rumah tangga, Desy tetap berjuang untuk mengembangkan usahanya. Dari awalnya hasil jualannya hanya untuk uang jajan, kini menjadi pemasukan utama bagi keluarganya. Ia berharap usahanya dapat bertahan di tengah gempuran produk-produk China dan produk-produk asing yang murah.
“Saya berharap orang-orang akan tetap menghargai karya seni kami, yang tentunya berbeda dengan produk-produk pabrikan,” katanya. Ia berharap produk usaha ini semakin besar, pemberdayaannya semakin banyak, dan makin banyak ekonomi keluarga yang terbantu.







