Strategi Perluasan Bisnis INET dalam Pengembangan Infrastruktur Telekomunikasi
PT Sinergi Inti Andalan Prima Tbk (INET) terus memperkuat posisinya di industri telekomunikasi melalui berbagai aksi korporasi dan akuisisi. Salah satu langkah utama yang dilakukan adalah pengambilalihan 60% saham PT Sarana Global Indonesia (SGI), sebuah perusahaan induk yang bergerak di bidang kontraktor telekomunikasi, khususnya penggelaran kabel fiber optik bawah laut melalui entitas anak usahanya.
Akuisisi ini dilakukan melalui penyertaan modal sebesar 180.000 lembar saham baru dengan harga transaksi Rp 1,55 juta per lembar. Dengan demikian, total nilai investasi mencapai sekitar Rp 280,4 miliar atau setara dengan 65,33% dari total ekuitas INET. Hasilnya, INET menjadi pengendali SGI dan menjadikan SGI sebagai salah satu entitas anak INET.
Menguatkan Kapabilitas End-to-End dalam Infrastruktur Telekomunikasi
Investasi ini dipandang sebagai strategi penting untuk memperkuat kapabilitas end-to-end dalam pengembangan infrastruktur telekomunikasi, khususnya jaringan kabel bawah laut. Kepemilikan dua kapal khusus penanaman kabel dinilai menjadi keunggulan operasional karena mampu mempercepat pembangunan jaringan, meningkatkan efisiensi biaya proyek, hingga pengendalian kualitas dan timeline secara lebih optimal.
Selain itu, investasi ini juga sejalan dengan strategi ekspansi INET dalam memperluas jaringan backbone, termasuk konektivitas antar pulau hingga internasional, seiring meningkatnya kebutuhan trafik data. Sinergi antara bisnis ISP dan kemampuan konstruksi infrastruktur laut juga membuka peluang pendapatan baru melalui penyediaan jasa instalasi kepada pihak ketiga.
Memperluas Lini Usaha di Bidang Perdagangan Besar Telekomunikasi
Seiring dengan perkembangan tersebut, INET juga mengumumkan rencana besar untuk memperluas lini usahanya melalui penambahan Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (KBLI) baru, yakni 46523 perdagangan besar peralatan telekomunikasi.
Dalam menjalankan kegiatan usaha baru ini, INET memiliki alur operasional yang mencakup tahapan pengadaan (procurement), logistik masuk (inbound logistics), pergudangan (warehousing), pemenuhan pesanan (order fulfillment), distribusi (outbound logistics), hingga dukungan pasca penjualan (after-sales support).
Nantinya, INET akan menjadi distributor perangkat telekomunikasi yang berfokus pada dua ekosistem utama, yakni Fiber to the Home (FTTH) dan Fixed Wireless Access (FWA). Dengan model bisnis ini, INET tidak melakukan proses manufaktur, melainkan berfokus pada pengadaan, pengelolaan rantai pasok, penyimpanan, serta distribusi perangkat kepada pelanggan.
Peluang Pasar yang Masih Terbuka Lebar
Perseroan juga menyediakan solusi perangkat terintegrasi untuk mendukung kebutuhan infrastruktur jaringan. Berdasarkan kajian kelayakan pasar, proyeksi penetrasi internet di Indonesia yang diperkirakan mencapai 80,66% atau setara 229,4 juta pengguna pada 2025 menunjukkan potensi besar bagi pertumbuhan bisnis INET.
Selain itu, pergeseran preferensi masyarakat dari penggunaan data seluler ke WiFi rumah (fixed broadband) yang meningkat hingga 28,43% membuka peluang bagi pertumbuhan penjualan perangkat FTTH, seperti OLT, ONT, router, dan switch. Adapun Pulau Jawa, dengan tingkat penetrasi mencapai 84,69%, menjadi wilayah utama yang menjadi target pasar INET.
Namun, kesenjangan akses di wilayah luar Jawa menunjukkan adanya ruang pertumbuhan jangka panjang bagi operator dan ISP yang menjadi target pelanggan utama INET.
Strategi Diversifikasi Pasar dan Target Segmen Utama
Manajemen INET mengatakan potensi pasar perusahaan masih terbuka lebar, seiring dominasi layanan fixed broadband yang mencapai sekitar 78% dalam industri ISP. Kondisi ini secara langsung mendorong permintaan perangkat infrastruktur jaringan tetap.
Adanya sekitar 300 perusahaan ISP di Indonesia dengan konsentrasi terbesar di Jawa Barat, DKI Jakarta, dan Jawa Timur, menjadi basis pelanggan potensial yang membutuhkan pasokan perangkat telekomunikasi secara berkelanjutan. Selain itu, layanan alternatif seperti satellite broadband dan fixed wireless access (FWA) juga membuka peluang bagi Perseroan untuk memasarkan perangkat CPE, khususnya untuk wilayah pedesaan dan terpencil.
Perseroan juga menerapkan strategi diversifikasi pasar dengan menyasar operator telekomunikasi, instansi pemerintah dalam program digitalisasi, hingga sektor korporasi dan properti. Langkah ini diharapkan dapat memperkuat posisi Perseroan sekaligus menjaga stabilitas pendapatan jangka panjang.
Proyeksi Kinerja Bisnis Baru
Dalam pengembangan bisnisnya, INET menargetkan sejumlah segmen utama, antara lain operator telekomunikasi sebagai pengguna perangkat radio access network (RAN) dan backbone, ISP sebagai pengguna perangkat fiber to the home (FTTH) dan CPE, serta penyedia layanan FWA.
Selain itu, Perseroan juga membidik instansi pemerintah serta segmen korporasi dan kawasan properti, termasuk pengembang perumahan dan kawasan industri.
Dari sisi kinerja, INET memproyeksikan tambahan laba bersih dari bisnis baru ini sebesar Rp 4,66 miliar pada 2026, meningkat menjadi Rp 9,23 miliar pada 2027. Kemudian sebesar Rp 11,67 miliar pada 2028, Rp 14,60 miliar pada 2029, hingga mencapai Rp 15,72 miliar pada 2030.






