Perjalanan Hidup Margono Djojohadikusumo dari Pembantu Juru Tulis ke Pemimpin Bank
Margono Djojohadikusumo adalah salah satu tokoh penting dalam sejarah perbankan Indonesia. Ia menjadi pemimpin pertama Bank Negara Indonesia (BNI). Kariernya dimulai sebagai pembantu juru tulis, dan melalui perjuangan serta dedikasi, ia berhasil mencapai posisi yang sangat dihormati.
Pengalaman hidupnya masih dapat kita baca dalam bukunya yang berjudul “Herinneringen uit 3 tijdperken” (Kenang-kenangan tiga zaman) yang disarikan sebagai berikut.
Keluarga yang Melarat
Saya merupakan salah seorang dari 14 anak yang dilahirkan oleh seorang ibu. Dihitung dari atas saya nomor enam, tapi saya anak sulung dari semua yang masih hidup. Kakak-kakak saya meninggal muda. Keluarga saya termasuk ningrat melarat.
Kata “ningrat” ini bukan karena snobisme atau ingin saya banggakan. Justru sebaliknya. Saya tidak begitu suka pada ningrat lama maupun baru dalam masyarakat kita yang memandang rendah kelompok rakyat jelata.
Menjelang akhir abad yang lalu sebagai anak berusia 5 tahun, bersama ibu dan adik perempuan saya “pergi jauh” dari desa Bodas Karangjati, Kabupaten Purbalingga, ke ibukota karesidenan Banyumas. Ayah saya yang sebelumnya asisten wedana dipindahkan ke ibukota untuk menjadi ajun jaksa kepala di sana. Dia sudah berangkat lebih dulu dengan kakak-kakak saya. Ibu, saya, dan adik menyusul kemudian.
Saya masih teringat sayup-sayup, bahkan hari itu mendung dan desa-desa kebanjiran. Satu-satunya cara pengangkutan ialah dengan tandu. Begitulah kami memasuki kota.
Pendidikan Awal
Tidak lama setelah pindah ke kota, saya mulai dipersiapkan untuk masuk sekolah. Waktu itu ada dua macam sekolah dasar: sekolah pribumi lima tahun dan sekolah dasar Belanda, atau Europese Lagere School (ELS) yang tujuh tahun.
Sekolah pribumi memakai bahasa pengantar Jawa dan merupakan pendidikan final, sedangkan dari ELS ada kesempatan untuk masuk ke pelbagai sekolah menengah. ELS ini hanya ada di daerah yang dihuni oleh cukup banyak orang Eropa.
Mengingat kemungkinan meneruskan sekolah, tidak heran bahwa orangtua Indonesia berusaha untuk memasukkan anak-anaknya ke sekolah itu walaupun tidak mudah. Soalnya sekolah ini terutama diperuntukkan bagi anak Eropa dan anak-anak yang orangtuanya “dipersamakan dengan orang Eropah”.
Sebagian kecil saja tempat tersedia untuk anak-anak Indonesia dari tingkat tertentu. Saya termasuk dalam kelompok “terpilih” ini (memalukan sebetulnya). Namun sebelum itu bahasa Belanda saya harus digembleng dulu. Ini syarat mutlak.
Karena itu saya mengikuti kursus bahasa Belanda sore hari selama enam bulan. Tuan C. Huge yang memberi bimbingan kepada saya sangatlah baik. Alangkah bedanya dengan kepala sekolah A.V.W kemudian. Orangnya “sadis” terhadap anak Jawa.
Pengalaman di Sekolah
Pada hari pertama, anak-anak Jawa yang jumlahnya sekitar 10 orang itu sudah di-“pelonco”. Kami dijajarkan dan diberi pidato entah apa. Dia segera menyentil “sarong dan kaki telanjang” kami. Waktu itu murid-murid Jawa hanya mengenakan kain batik, jas tutup dan bertelanjang kaki, walau orangtuanya kaya sekalipun.
Setelah pidato, kami tidak boleh masuk ke kelas sebelum telinga dan tangan dicuci. Untuk tujuan itu tukang kebun sekolah membawakan air. Murid-murid Jawa yang sudah lama pun harus melakukan upacara ini, yang harus diulangi setiap hari selama kepala sekolah itu masih berkuasa. Ini hanya salah sebuah contoh sikap antipati guru kepala itu terhadap anak-anak Jawa.
Beberapa waktu kemudian kakak-kakak saya tidak tahan lagi. Dengan bantuan rekan-rekan ayah, mereka bisa dipindahkan ke ELS di Banjarnegara, 30 km dari Banyumas. Mereka dikostkan pada seorang paman. Saya sendiri waktu itu belum terlalu terganggu oleh A.V.W. Lagipula saya masih terlalu muda (8 tahun) untuk dititipkan pada keluarga.
Baju Hitam Punya Cerita
Pelajaran di sekolah berjalan lancar. Ayah saya seorang Jawa yang kolot. Dia tidak bisa berbahasa Belanda sepatah pun. Ibu pun tidak. Ketika ia dimasukkan ke sekolah Belanda ia lari dari rumah dan masuk pesantren. Semua adik-adiknya bersekolah di ELS dan kemudian bekerja sebagai pegawai BB (Binnenlands Bestuur).
Bagaimana caranya ayah bisa menjadi amtenar pemerintah Hindia Belanda, saya tidak tahu dengan jelas. Untuk mencari nafkah ia mulai bekerja sebagai mandor irigasi di waktu mudanya. Tetapi yang saya masih ingat ialah bahwa saya anak seorang asisten wedana yang sering diajak turne ke desa-desa untuk mengontrol irigasi, sawah, perawatan jalan, dan gudang kopi pemerintah.
Bahasa Belanda dan pengalaman di sekolah membuat Margono Djojohadikusumo semakin kuat dalam menjalani hidup. Meski memiliki keterbatasan ekonomi, ia tetap berjuang untuk meraih kesuksesan. Dari pembantu juru tulis hingga menjadi pemimpin bank, kisah hidupnya menjadi inspirasi bagi banyak orang.
Keberhasilan dan Dedikasi
Dengan tekad dan usaha yang tak kenal lelah, Margono Djojohadikusumo berhasil meraih posisi yang sangat penting dalam sejarah perbankan Indonesia. Ia menjadi pemimpin pertama Bank Negara Indonesia (BNI), yang merupakan langkah penting dalam membangun sistem perbankan nasional.
Perjalanan hidupnya juga memberikan pelajaran tentang kekuatan, ketabahan, dan dedikasi. Dari kondisi keluarga yang melarat hingga menjadi tokoh penting, ia membuktikan bahwa kesuksesan bisa diraih melalui kerja keras dan semangat pantang menyerah.
Kisah hidupnya menjadi bagian dari sejarah bangsa Indonesia yang penuh dengan perjuangan dan pencapaian. Dengan kisahnya, Margono Djojohadikusumo menjadi simbol perjuangan dan dedikasi yang tidak pernah padam.







