Materi Khutbah Jumat dalam Bahasa Sunda
Khutbah Jumat adalah salah satu kegiatan penting bagi umat Muslim saat melaksanakan Sholat Jumat berjamaah di masjid. Khutbah ini sering disampaikan dalam bahasa daerah masing-masing, seperti Bahasa Sunda. Materi yang disampaikan bisa disesuaikan dengan kebutuhan, termasuk topik bertemakan akhir Bulan Syawal.
Berikut adalah materi khutbah Jumat akhir Bulan Syawal 1447 Hijriyah edisi 17 April 2026 dalam Bahasa Sunda, yang disampaikan secara khidmat dan penuh makna.
Khutbah I
Alhamdulillah, puji dan syukur kepada hadirat Allah Subhanahu wa Ta’ala, shalawat serta salam semoga dilimpahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.
Dalam kesempatan yang mulia ini, khatib mengingatkan para jamaah, khususnya diri sendiri, agar senantiasa menjaga dan meningkatkan kualitas ketakwaan kita kepada Allah SWT, karena dengan taqwa inilah akan membawa kebahagiaan baik di dunia maupun di akhirat.
Kaum Muslimin, yang dimuliakan oleh Allah Swt. Sebaik-baik manusia adalah orang yang mempergunakan waktunya dengan amal-amal yang mengarah pada kahadiran dunia dan akhirat. Orang yang banyak kahadiran, setiap dipanjangkan umurnya, pasti diganjar banyak pahala dan dilipatgandakan derajatnya.
Oleh karena itu, semakin bertambah usia, maka kahadiran dan amal serta ketakwaan kepada Allah SWT juga akan meningkat. Diriwayatkan dari Abdurrahman bin Abu Bakrah ra. bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:
“Khayrul anas min thola ‘umaruhu wa hasan ‘amaluhu, wa syarrul anas min thola ‘umaruhu wa saa ‘amaluhu.”
Artinya: “Sebaik-baik manusia adalah orang yang panjang umurnya dan baik amalnya. Dan seburuk-buruk manusia adalah orang yang panjang umurnya dan buruk amalnya.” (HR. Ahmad, at-Tirmidzi dan al-Hakim, lihat Shahih al-Jami’ no. 3297)
Kita bisa menjadikan hadits-hadits ini sebagai bobot untuk mengukur keberhasilan ibadah puasa kita.
Apakah puasa kita setelah puasa menjadi lebih baik atau semakin buruk? Jika ternyata lebih positif, artinya Allah swt ridho terhadap puasa kita.
Tapi jika tidak ada tanda-tanda menjadi lebih baik, kita harus langsung memperbaikinya.
Karena Allah swt tidak akan mengubah nasib seseorang, kecuali orang tersebut sendiri berusaha. Karena sesungguhnya tingkat kahadiran seseorang –seperti hadits di atas– bergantung pada amal kahadirannya, bukan pada umur yang berbeda.
Asra al-khair thawab al-biru wa shila ar-rahmi wa asra al-shar ‘uqubat al-bagi wa qitha’at ar-rahmi.
Artinya: Anak yang cepat mendapatkan ganjaran adalah amal kebajikan dan silaturrahim, sedangkan yang cepat menimbulkan keburukan adalah kezaliman dan memutus tali silaturrahim. (Riwayat Ibnu Majah)
Pentingnya silaturrahim dalam Islam, sehingga diposisikan sebagai amal yang cepat bisa memberikan ganjaran dan kahadiran. Malah, jika dikaitkan dengan hadits di atas yang membahas umur panjang seseorang, hadits di bawah ini sangat relevan.
Karena umur panjang merupakan salah satu pelajaran yang akan diperoleh seseorang jika rajin melakukan hubungan persaudaraan. Rasulullah SAW bersabda:
“Man sara hau an yubsath lahu fi rizqihi wa yunsau lahu fi a’tarihi, falyasil rahimah.”
Artinya: “Siapa saja yang ingin rezekinya diluaskan dan umurnya diperpanjang, maka hendaklah menyambung tali silaturrahim.” (HR. Bukhari no. 5985 dan Muslim no. 2557)
Ma’asyiral Musklimin Jama’ah
Selamat Jumat, dalam bulan Syawal yang penuh makna, kita semua berupaya untuk menjaga diri dan keluarga supaya tetap menjalin silaturrahim dengan kerabat, kerabat yang jauh dan kerabat yang dekat.
Meskipun liburan telah selesai, bukan berarti kewajiban untuk tetap menjalin silaturrahim telah selesai. Karena pada hakikatnya, anjuran silaturrahim tidak dibatasi oleh waktu tertentu. Apakah ada di antara kita yang masih ragu atau bahkan meremehkan anjuran hubungan silaturrahim? Ini memang kesalahan besar.
Mengapa? Karena hadits di atas jelas sekali. Siapa saja yang menolak dan membenci berbagai anjuran dan nasihat agama yang jelas berdasarkan syariat Nabi Muhammad SAW, maka orang tersebut akan menjadi pengikut setia dari keinginan yang menyembunyikan dendam, mentingkan diri sendiri dan kepentingan pribadi dengan berbagai alasan.
Hadirin jama’ah Jum’ah yang dimulyakan oleh Alloh
Karena itu, khutbah kali ini, jika keberhasilan kita berpuasa digambarkan dalam kehidupan di bulan Syawal. Orang-orang yang telah berhasil melatih diri dalam menahan hawa nafsu, pasti dalam bulan Syawal akan lebih luas menyampaikan maaf dan memberi pengampunan kepada sesama. Jangan biarkan diri kita selalu dalam kontrol Iblis. Ingatlah perintah Allah SWT dalam surat Shad ayat 26:
“Wa la tuntu ilaa hawa nafsi, innaha tushibuna anja min sabiilillah. Saestuna al-ladzi yanshafu min sabiilillah yuqbalu siksaan al-azhim, sabab maranéhna poho kana poé hisab.”
Artinya: “Dan janganlah nuruti hawa nafsu, karena itu akan menyimpangkan kalian dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang menyimpang dari jalan Allah akan menerima siksa yang berat, karena mereka lupa pada hari hisab.”
Semoga Allah SWT memberikan umur panjang kepada kita dalam ketakwaan kepada-Nya, juga kesehatan agar kita tetap beribadah kepada-Nya dan rezeki yang cukup agar bisa membantu sesama muslim dan selalu menjaga silaturrahim antara sesama manusia. Amin.
Barakallahu lii wa lakum bil-ayat wal-dzikr al-hakim, wa taqabballa minni wa minkum tilawatuhu inna huwa al-sami’ al-‘alim. Wa qul rabbi ghirf warham wa anta khairu ar-rahimiin. Wa aqulu qauli haza fa istaghfirullah innahu huwa al-ghafur ar-rahim.
Khutbah II
Alhamdulillah, puji dan syukur kepada hadirat Allah Subhanahu wa Ta’ala, shalawat serta salam semoga dilimpahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.







