Penyebab Hyperemesis Gravidarum saat Hamil
Hyperemesis gravidarum adalah kondisi yang ditandai dengan mual dan muntah yang parah selama kehamilan. Kondisi ini bisa menyebabkan dehidrasi dan penurunan berat badan yang signifikan. Dalam bahasa sehari-hari, hyperemesis gravidarum sering disebut sebagai morning sickness yang ekstrem.
Menurut penelitian dari National Library of Medicine, hyperemesis gravidarum tampaknya terkait dengan kadar human chorionic gonadotropin (hCG) dalam tubuh ibu hamil. Selain itu, studi genom luas tahun 2018 juga mengungkap bahwa gen GDF15 dan IGFBP7 berperan dalam perkembangan plasenta dan nafsu makan.
Meskipun gaya hidup seperti istirahat yang cukup, tetap terhidrasi, dan penggunaan jahe dapat membantu meredakan gejala, faktor-faktor risiko hyperemesis gravidarum umumnya berada di luar kendali ibu hamil. Misalnya, riwayat keluarga, usia ibu, atau kehamilan ganda dapat meningkatkan risiko mengalami kondisi ini.
Beberapa faktor risiko yang diketahui menurut American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG) antara lain:
Kehamilan ganda (mengandung dua janin atau lebih)
Riwayat kehamilan mola
Usia ibu yang lebih tinggi
Pernah mengalami mual di pagi hari pada kehamilan sebelumnya
Memiliki kerabat tingkat pertama yang pernah mengalami HG
Riwayat mabuk perjalanan atau migrain
* Mengandung janin perempuan
Gejala Hyperemesis Gravidarum

Gejala hyperemesis gravidarum biasanya muncul sekitar minggu kesembilan kehamilan dan cenderung mereda sekitar minggu ke-14. Namun, dalam beberapa kasus, gejala bisa berlangsung hingga trimester kedua atau bahkan sepanjang kehamilan.
Gejala umum yang terjadi pada ibu hamil dengan hyperemesis gravidarum meliputi:
Mual dan muntah yang parah
Air liur berlebih
Penurunan berat badan selama kehamilan
Gejala dehidrasi seperti urin berwarna gelap, kulit kering, lemas, pusing, atau pingsan
Sembelit
Ketidakmampuan untuk menahan makanan atau cairan
Jika Mama mengalami gejala-gejala ini, penting untuk segera berkonsultasi dengan dokter karena kondisi ini bisa memengaruhi kesehatan ibu dan janin.
Morning Sickness vs. Hyperemesis Gravidarum: Apa Perbedaannya?

Perbedaan utama antara morning sickness dan hyperemesis gravidarum terletak pada tingkat keparahan gejalanya. Morning sickness biasanya tidak menyebabkan komplikasi serius dan kebanyakan orang masih bisa menahan makanan dan minuman sepanjang hari.
Sementara itu, hyperemesis gravidarum adalah mual dan muntah yang ekstrem. Mama mungkin muntah begitu banyak sehingga kehilangan berat badan dan mengalami dehidrasi. Berikut karakteristik yang membedakan hyperemesis gravidarum dari morning sickness:
Muntah lebih dari beberapa kali sehari
Rasa pusing setelah muntah
Mengalami dehidrasi
Kehilangan berat badan lebih dari 4,5 kg
Selain itu, hyperemesis gravidarum bisa berlangsung hingga trimester kedua atau bahkan sepanjang kehamilan, sedangkan morning sickness biasanya mereda setelah beberapa bulan pertama.
Kemungkinan Komplikasi Akibat Hyperemesis Gravidarum pada Kehamilan

Ibu hamil dengan hyperemesis gravidarum berisiko tinggi mengalami komplikasi medis. Menurut penelitian tahun 2021, alasan paling sering untuk rawat inap akibat HG meliputi:
Penurunan berat badan (lebih dari 5% dari berat badan sebelum kehamilan)
Ketonuria (kadar keton tinggi dalam urine)
Dehidrasi
Ketidakseimbangan elektrolit
Ketidakseimbangan asam-basa
Irama jantung tidak teratur
Masalah medis terbesar yang muncul adalah dehidrasi dan ketidakseimbangan elektrolit. Meski janin biasanya tidak terpengaruh oleh hyperemesis gravidarum, jika ibu hamil tidak dapat menelan makanan atau cairan apa pun selama kehamilan, hal tersebut bisa memengaruhi ukuran janin saat lahir.
Namun, ibu hamil dengan hyperemesis gravidarum pada tahap awal kehamilan tidak menghadapi risiko keguguran yang lebih tinggi. Justru, mual di pagi hari sering dikaitkan dengan kehamilan yang sehat.
Jika Mama tidak bisa menelan makanan atau cairan selama berhari-hari atau berjam-jam, segera konsultasikan dengan dokter karena Mama mungkin memerlukan rawat inap, pemberian cairan infus, atau pengobatan.
Pilihan Pengobatan Hyperemesis Gravidarum

Pengobatan untuk hyperemesis gravidarum biasanya didasarkan pada tingkat keparahan gejala seseorang. Dokter mungkin menyarankan perubahan pola makan dan gaya hidup seperti makan lebih sering dan lebih sedikit serta menghindari pemicu.
Lini pertama pengobatan biasanya kombinasi doksilamin (bahan aktif dalam obat tidur Unisom) dan vitamin B6 atau piridoksin. Keduanya umumnya dianggap aman selama kehamilan. Jika kombinasi ini tidak efektif, dokter mungkin akan merekomendasikan obat antiemetik seperti Zofran (ondansetron), yang mencegah muntah.
Namun, penting untuk mempertimbangkan risiko dan manfaat penggunaan obat-obatan ini. Jika ibu hamil sama sekali tidak makan, ada titik di mana baik ibu maupun janin berisiko. Oleh karena itu, penting untuk menjaga pola makan dan nutrisi yang cukup.
Studi klinis tentang potensi efek teratogenik Zofran masih kontradiktif. Menurut ACOG, risiko absolut terhadap janin rendah. Namun, semua obat hanya boleh dipertimbangkan setelah penilaian individual terhadap potensi risiko dan manfaatnya.
Jika muntah sangat parah hingga menyebabkan dehidrasi yang berbahaya, Mama mungkin perlu dirawat di rumah sakit untuk hidrasi intravena (IV). Bagian penting dari pengobatan untuk hyperemesis gravidarum yang parah adalah mendukung hidrasi.
Jika Mama terus kehilangan berat badan saat di rumah sakit, dokter mungkin juga merekomendasikan selang makan untuk memastikan Mama dan janin mendapatkan nutrisi penting yang dibutuhkan.
Itu penjelasan tentang penyebab hyperemesis gravidarum selama kehamilan. Bila Mama menemukan gejalanya, segera konsultasikan dengan dokter, ya! Semoga Mama selalu sehat!







