Perusahaan teknologi global, Microsoft dan Meta, baru-baru ini mengumumkan pengurangan jumlah karyawan secara bersamaan. Langkah ini menandai pergeseran strategi dalam industri teknologi menuju efisiensi yang didorong oleh kecerdasan buatan (AI). Perubahan ini mencerminkan dinamika global yang semakin menjadikan AI sebagai pusat utama produktivitas korporasi.
Meta mengungkapkan rencana untuk memangkas sekitar 10 persen dari total karyawan, atau sekitar 8.000 orang. Selain itu, mereka juga akan menutup sekitar 6.000 posisi yang belum terisi. Sementara itu, Microsoft menawarkan skema pensiun sukarela kepada sekitar 7 persen tenaga kerjanya di Amerika Serikat, yang berjumlah sekitar 125.000 karyawan.
Langkah ini dilakukan saat kedua perusahaan meningkatkan investasi besar-besaran dalam AI dan mulai melihat teknologi tersebut memenuhi kebutuhan produktivitas internal. Dalam memo internal, Janelle Gale, Chief People Officer Meta, menyatakan bahwa pemangkasan ini bertujuan untuk “mengimbangi investasi lain yang sedang kami lakukan.”
Gale juga mengakui bahwa keputusan ini tidak mudah. “Ini bukanlah pertukaran yang mudah,” tulisnya, sambil menambahkan bahwa karyawan yang terkena dampak akan menerima paket pesangon yang layak. Namun, memo tersebut tidak secara eksplisit menyebut AI sebagai faktor utama.
Berbeda dengan Gale, CEO Meta Mark Zuckerberg secara terbuka mengaitkan efisiensi tenaga kerja dengan AI. Dalam paparan kinerja Januari, dia mengatakan, “Kami mulai melihat proyek yang sebelumnya membutuhkan tim besar kini dapat diselesaikan oleh satu individu yang sangat berbakat.”
Zuckerberg sebelumnya juga mengumumkan percepatan besar dalam investasi AI dengan anggaran antara 115 miliar dolar AS hingga 135 miliar dolar AS, atau sekitar Rp 1.994 triliun hingga Rp 2.340 triliun (dengan kurs Rp 17.340 per dolar AS), hampir dua kali lipat belanja modal tahun sebelumnya.
Di sisi lain, Microsoft memperkirakan belanja infrastruktur AI mencapai 100 miliar dolar AS (sekitar Rp 1.734 triliun) dan kini direvisi analis menjadi 110–120 miliar dolar AS. CEO Satya Nadella menyatakan adopsi AI internal telah menghasilkan lonjakan produktivitas signifikan. “Kami masih berada di tahap awal difusi AI, dan Microsoft sudah membangun bisnis AI yang lebih besar dari beberapa lini bisnis utama kami,” ujarnya dalam rilis Januari.
Selain itu, Nadella mengungkapkan bahwa AI kini menangani sekitar 30 persen pekerjaan pengkodean di perusahaan. Pernyataan ini diperkuat oleh Chief AI Microsoft, Mustafa Suleyman, yang pada Februari mengatakan, “AI akan mampu menggantikan sebagian besar pekerjaan kerah putih dalam 12 hingga 18 bulan ke depan.”
Dalam proyeksi yang lebih agresif, Mark Zuckerberg bahkan memperkirakan perubahan yang lebih drastis. Dalam diskusi bersama Nadella, dia menyebut, “Perkiraan kami, dalam satu tahun ke depan, mungkin setengah dari pengembangan perangkat lunak akan dilakukan oleh AI, bukan manusia, dan itu akan terus meningkat.”
Fenomena ini juga memicu kekhawatiran luas di kalangan pekerja teknologi. Laporan internal yang diungkap Reuters menunjukkan Meta bahkan memasang perangkat lunak untuk merekam aktivitas karyawan—mulai dari pergerakan mouse hingga ketukan keyboard—sebagai data pelatihan AI.
Kekhawatiran tersebut bukan tanpa dasar, karena langkah serupa juga terjadi di berbagai perusahaan teknologi global. CEO Block, Jack Dorsey, memangkas hampir setengah tenaga kerja perusahaannya, sementara Amazon telah memberhentikan setidaknya 30.000 karyawan dalam enam bulan terakhir di tengah rencana investasi AI sebesar 200 miliar dolar AS. Tren ini menegaskan bahwa transformasi AI bukan sekadar inovasi teknologi, melainkan redefinisi struktur tenaga kerja global.







