Pelatihan Bantuan Hidup Dasar (BHD) untuk Masyarakat Surabaya
Lebih dari 200 warga Surabaya mengikuti pelatihan Bantuan Hidup Dasar (BHD) yang digelar oleh DPD Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Kota Surabaya bersama Himpunan Perawat Gawat Darurat dan Bencana Indonesia (HIPGABI) Jawa Timur serta Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Surabaya (FIK Umsura). Kegiatan ini dilaksanakan dalam rangka memperingati HUT ke-52 PPNI dan bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya penanganan darurat.
Peserta Beragam dari Berbagai Organisasi
Pelatihan BHD ini diikuti oleh lebih dari 200 peserta yang berasal dari berbagai organisasi masyarakat. Di antaranya adalah 55 anggota Nasyiatul Aisyiyah, 49 peserta dari Fatayat NU, 30 perwakilan Takmir Masjid Al Akbar Surabaya, 50 kader PKK Kota Surabaya, serta perwakilan dari Kelurahan Perak Barat. Keterlibatan lintas organisasi ini menunjukkan antusiasme tinggi masyarakat dalam meningkatkan kapasitas penanganan kegawatdaruratan di lingkungan masing-masing.
Peran Masyarakat sebagai Penolong Pertama
Ketua DPD PPNI Kota Surabaya, Dr. Nuh Huda, M.Kep., Ns., Sp.Kep.MB, menjelaskan bahwa masyarakat memiliki peran krusial sebagai penolong pertama sebelum tenaga medis tiba di lokasi kejadian. Menurutnya, banyak kasus kegawatdaruratan, khususnya henti jantung, terjadi di luar fasilitas kesehatan sehingga membutuhkan respons cepat dari orang di sekitar.
“Penyelamat pertama bukanlah tenaga kesehatan di rumah sakit, melainkan masyarakat yang berada di lokasi kejadian. Dalam kondisi henti jantung, setiap detik sangat berharga. Keterlambatan penanganan pada menit-menit awal sering menjadi penyebab utama meningkatnya angka kematian,” ujarnya.
Melalui kegiatan ini, DPD PPNI Kota Surabaya berharap dapat meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi kondisi kegawatdaruratan sekaligus mendukung terwujudnya konsep safe community.
Pentingnya Respons Cepat dalam Kegawatdaruratan
Dr. Sriyono, Ketua HIPGABI Jawa Timur, menekankan bahwa pertolongan yang cepat dan tepat pada menit pertama dapat meningkatkan peluang keselamatan korban secara signifikan. “Penanganan awal yang benar dapat meningkatkan keberhasilan penyelamatan hingga 98 persen. Karena itu, pelatihan BHD bagi masyarakat awam sangat penting dalam membangun sistem penanganan darurat berbasis komunitas yang kuat,” jelasnya.
Kolaborasi Kampus dan Organisasi Profesi
Dekan Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Surabaya, Dr. Dede Nasrullah, S.Kep., Ns., M.Kep., menyampaikan komitmen institusinya dalam mendukung kegiatan kolaboratif yang berdampak langsung bagi masyarakat. Ia menilai sinergi antara perguruan tinggi dan organisasi profesi menjadi kunci dalam peningkatan kapasitas masyarakat secara berkelanjutan.
“Kami siap menjadi mitra kolaboratif dalam kegiatan pengabdian masyarakat. Ini bagian dari peran kampus untuk hadir dan memberi solusi nyata di tengah masyarakat,” katanya.
Pelatihan Praktis dan Simulasi Penanganan Darurat
Pelatihan BHD ini dirancang secara komprehensif dengan pendekan teori dan praktik. Kegiatan diawali dengan pre-test untuk mengukur pemahaman awal peserta, dilanjutkan dengan pemaparan materi oleh instruktur profesional dari PPNI dan HIPGABI. Materi yang diberikan meliputi teknik Resusitasi Jantung Paru (RJP), penanganan tersedak dengan metode Heimlich maneuver, penanganan luka bakar, penanganan fraktur (patah tulang), hingga prosedur komunikasi darurat melalui layanan 112.
Untuk memastikan efektivitas pembelajaran, peserta dibagi dalam kelompok kecil saat sesi praktik. Mereka melakukan simulasi langsung dengan pendampingan instruktur.
Peserta Rasakan Manfaat Langsung
Salah satu peserta, Siti (45), kader PKK Kota Surabaya, mengaku pelatihan ini memberikan pengalaman baru yang sangat bermanfaat. Ia merasa lebih siap dan percaya diri dalam menghadapi situasi darurat di lingkungan sekitarnya.
“Dulu saya takut kalau melihat orang pingsan atau kecelakaan karena tidak tahu harus berbuat apa. Sekarang saya jadi lebih berani karena sudah memahami langkah-langkah pertolongan pertama,” ungkapnya.







