Prakiraan Cuaca Surabaya pada 19 April 2026
Cuaca di Kota Surabaya pada hari Minggu, 19 April 2026, diprediksi akan didominasi oleh awan sepanjang hari. Tidak ada indikasi hujan signifikan dalam prakiraan ini. Suhu udara berada dalam kisaran 26 hingga 34 derajat Celsius, dengan kelembapan yang cukup tinggi, antara 52 hingga 90 persen.
Angin bertiup dari arah barat daya dengan kecepatan sekitar 7,5 kilometer per jam. Kondisi cuaca ini membuat suasana terasa cukup lembap dan panas, terutama saat siang hari.
Cuaca Pagi
Pada periode pagi hari, mulai pukul 00.00 hingga sekitar 06.00 WIB, kondisi cuaca di Surabaya didominasi oleh awan tebal. Awan ini menahan panas, sehingga udara terasa lembap dan tidak nyaman. Memasuki pukul 07.00 hingga 10.00 WIB, cuaca berubah menjadi cerah berawan, memberikan sedikit ruang bagi sinar matahari untuk menembus awan.
Cuaca Siang
Menjelang siang hingga sore hari, sekitar pukul 13.00 hingga 16.00 WIB, kondisi kembali didominasi oleh awan. Meskipun tidak ada indikasi hujan, suhu udara cenderung meningkat dan terasa cukup panas. Pada periode ini, suhu diperkirakan mencapai titik tertinggi harian, yakni mencapai 34 derajat Celsius.
Cuaca Malam
Memasuki malam hari, sekitar pukul 19.00 WIB, cuaca masih berada dalam kondisi berawan. Namun menjelang pukul 22.00 WIB, langit diprediksi mulai cerah. Kondisi ini memungkinkan suasana malam terasa lebih nyaman dibandingkan siang hari, meskipun kelembapan masih relatif tinggi.
Tips Menghadapi Cuaca Surabaya
Dengan kondisi cuaca yang didominasi oleh awan dan suhu cukup panas, masyarakat disarankan untuk tetap menjaga hidrasi tubuh dengan banyak minum air. Gunakan pakaian yang ringan dan menyerap keringat saat beraktivitas di luar ruangan. Selain itu, lindungi diri dari paparan sinar matahari langsung dengan topi atau payung, terutama saat siang hari.
Bagi pengendara, tetap waspada terhadap perubahan cuaca mendadak meski potensi hujan relatif kecil.
BMKG Prediksi Puncak Kemarau Jawa Timur Agustus 2026
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memberikan peringatan dini terkait kondisi cuaca di Jawa Timur pada tahun 2026. Musim kemarau tahun ini diperkirakan akan berlangsung lebih panjang dan cenderung lebih kering dibandingkan rata-rata normalnya.
Melalui Stasiun Klimatologi Jawa Timur, BMKG menyebutkan bahwa kondisi ini dipicu oleh potensi fenomena El Nino yang mulai berkembang pada pertengahan tahun. Fenomena tersebut diprediksi akan memperkuat dampak kekeringan di berbagai wilayah di Jawa Timur.
Berdasarkan analisis terbaru yang dirilis melalui akun Instagram resmi @infobmkgjuanda, sekitar 75,5 persen wilayah Jawa Timur berpotensi mengalami curah hujan di bawah normal. Hal ini memicu risiko tinggi terjadinya krisis air bersih dan kebakaran hutan serta lahan (karhutla).
BMKG memprediksi puncak musim kemarau di Jawa Timur akan terjadi pada Agustus 2026, di mana puluhan Zona Musim (ZOM) akan mencapai titik paling kering. Selain lebih kering, awal musim kemarau di beberapa daerah juga mengalami keterlambatan.
“Sekitar 46,2 persen wilayah di Jawa Timur baru memasuki musim kemarau lebih lambat dari jadwal normalnya,” tulis laporan BMKG dikutip Rabu (15/4/2026). Adapun durasi musim kemarau yang lebih panjang diprediksi akan melanda setidaknya 39 Zona Musim (ZOM) di Jawa Timur.
Potensi El Nino sendiri diperkirakan mencapai 50 hingga 60 persen dan mulai menguat pada pertengahan tahun ini.
Rekomendasi Mitigasi dari BMKG
Menanggapi ancaman kekeringan tersebut, BMKG memberikan sejumlah rekomendasi mitigasi, terutama bagi sektor-sektor vital:
- Sektor Pertanian: Petani disarankan menanam varietas padi yang berumur pendek dan tahan kekeringan, atau beralih ke tanaman palawija.
- Pengelolaan Air: Masyarakat diimbau memaksimalkan penampungan air hujan (panen air) di akhir musim penghujan sebagai cadangan.
- Peluang Ekonomi: Di balik tantangan kekeringan, kemarau panjang ini dapat dioptimalkan untuk meningkatkan produksi garam rakyat.







